Sekali Berarti, Sudah Itu Mati

chairil

Ada yang menarik dari kolom Humaniora Teroka harian Kompas hari ini. Sastrawan asal Jogja, Marwanto menulis konon, penetapan 28 April – tanggal wafatnya Penyair Angkatan ’45, Chairil Anwar – sebagai Hari Puisi Nasional masih menjadi perdebatan. Lebih jauh ia menulis, jasa terpenting Chairil Anwar adalah pendobrakan terhadap bahasa ungkap penyair sebelumnya (baca : Pujangga Baru). Dengan bahasa ungkap yang khas dirinya, lugas, tegas, padat dan langsung menghujam ke jantung hati para pembaca karyanya.

Bicara tentang puisi dan juga Chairil Anwar, sebenarnya siapa yang masih peduli ?

Puisi menjadi tidak penting karena manusia lebih mementingkan rasa laparnya dan mencari uang daripada sekadar mengisi ruang jiwanya dengan sebuah puisi. Apakah puisi bisa menjadi makanan bagi perut yang keroncongan.

Dalam sebuah dunia yang pragmatis dan cenderung hedonis, kita seakan bertanya apakah puisi bisa memberikan sesuatu. Puisi semakin ditinggalkan karena para penyair (dan mungkin sebagian blogger) menjadi menara gading yang asyik dengan dunianya sendiri. Tidak menyentuh masyarakat sekitarnya. Tidak membumi.

Puisi memang tidak melulu mengenai cinta dan hati yang luka. Merintih dan sunyi. Beberapa sejarah peradaban mengajarkan sedikit banyak puisi memberikan nafas inspirasi terhadap pergerakan kemerdekaan sebuah bangsa. Puisi puisi yang akrab dengan realita sosial dan manusia sekitarnya. Presiden Ceko yang pertama Vaclav Havel sebelumnya adalah penyair yang banyak menyuarakan kritik terhadap sistem komunis yang totaliter. Ada juga masanya puisi-puisi di Indonesia yang berisi suara pendobrakan atas kemiskinan, kesewenang wenangan dan ketidakadilan. Seperti puisi WS Rendra, Kesaksian yang benar-benar menggetarkan.

Aku mendengar suara
Jerit hewan yang terluka
Ada orang memanah rembulan
Ada anak burung jatuh dari sangkarnya.

Orang-orang harus dibangunkan
Kesaksian harus diberikan
Agar kehidupan dapat terjaga

Demikian pula kita merasakan getar api revolusi yang membara dari petikan puisi Chairil Anwar pada masanya. Membuat kita sedetik pun tak ragu memberikan darah dan nyawa kepada negeri yang baru merdeka itu.

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir

Namun sebagaimana manusia kita memerlukan keseimbangan, dan puisi-puisi tentang cinta, keluarga dan alam bisa memberikan rasa dahaga itu. Tidak ada yang salah juga dengan puisi menye-menye. Itu adalah pilihan dan kita harus menghargai. Siapa bisa menyangkal begitu dasyatnya untaian kata Hujan Bulan Juni – Sapardi Joko Damono? Bahkan Chairil Anwar yang revolusionerpun, masih menyisakan ruang melankolis untuk gadis pujaannya. Dia terlalu penakut untuk mengungkapkan terus terang kepada gadis pujaannya. Sehingga terus memendam rasa sampai maut menjemputnya.

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Presiden Kennedy mengatakan jika politik bengkok maka puisi bisa meluruskan. Ia bisa menjadi tiang sandaran atas sebuah nurani, disegenap lingkup ruang hidup kita. Seberat apapun itu. Ia juga bisa menjadi pedoman manusia saat kembali ke titik nol.

Jika RA Kartini bisa menjadi pahlawan karena tulisan tulisannya kepada Abendanon. Chairil Anwar semestinya bisa menjadi pahlawan nasional atas perjuangannya melalui tinta dan tulisan. Chairil Anwar yang sempat kena penyakit kelamin sipilis memang menjalani hidupnya yang liar dan semrawut dan dia tak peduli hingga mati muda.

Walaupun demikian saya tetap peduli dengan puisi-puisi. Ia seperti gelas berisi air segar. Sejuk dan menghilangkan rasa dahaga kita. Ia sekaligus mengeyangkan jiwa batin kita. Ah… kita memang membutuhkannya :)

http://blog.imanbrotoseno.com/?p=222

Gadis-Gadisnya Binatang Jalang dan Sang Demonstran

chairil

Bayangkan, kawan!

Seorang lelaki kurus dengan mata merah, liar, selalu datang dengan tangan satunya mengapit buku!

Itulah Chairil Anwar!

Anehnya, mungkin juga karena wajah indonya barangkali, banyak pula gadis-gadis memujanya. Padahal matanya merah karena kurang tidur, kurang tidur karena semalaman bisa melahap satu buku yang dibawanya itu, bajunya lusuh komprang, dan tubuh kurus dekil jarang mandi. Tapi, di jaman penjajahan Belanda dan Jepang ada lelaki yang memesona gadis-gadis justru dengan penampilan dekil, kurus, hanya modal buku dan puisi? Luar biasa!!!

Gadis memang dunia Chairil Anwar setelah buku. Tercatat nama Ida, Gadis, Mirat, Roosmeini, Sri Ajati dan Dien Tamaela sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Walau pun kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil kawin dengannya.

Sebelum Chairil menikah dengan Hapsah itulah Chairil pernah jatuh cinta dengan seorang gadis yang bernama Sri Ajati pada saat keduanya menjadi penyiar radio Jepang di tahun 1942. Nama Sri Ajati diabadikan Chairil Anwar dalam sajaknya yang terkenal Senja di Pelabuhan Kecil.

Sampai kini aku tak akan pernah lupa lirik puitis nakal tapi melankolis, ‘senja di pelabuhahn kecil, gadis manis sekarang iseng sendiri…’ Jelas maksud iseng sendiri di sini, memang pada saat Chairil Anwar jatuh hati pada Sri Ajati, diakui Sri dia sudah punya kekasih yaitu seorang dokter. Sri jelas lebih memilih kawin dengan dokter itu, ketimbang Seniman Bohemian tanpa masa depan!

Sedang Dien Tamaela diabadikan pada puisi Cerita Buat Dien Tamaela, sebagai pelampiasan ungkapan cintanya yang bertepuk sebelah tangan dengan Dien Tamaela. Satu hal karena memang Dien tak suka, hal lain disebutkan juga karena mendapat tentangan kerabat Dien yang asal Maluku dan tak suka Chairil Anwar!

Tragis!

Lelaki flamboyan, dipuja wanita, pengejar cinta wanita toh akhirnya meninggal sendiri, di kamar yang sepi, tanpa di dampingi gadis-gadis yang dicintainya, yang selalu disebutkan dalam puisi-puisinya!

Pada akhirnya ku tak kan sampai padanya….

***

gie

Dan beberapa tahun kemudian, setelah Chairil wafat 1949, ada seorang Demonstran yang perawakannya hampir mirip Chairil Anwar, kurus bertubuh kecil. Sama seperti Chairil, dia gila buku pula. Bedanya kalau Chairil Indo, lelaki kecil putih ini peranakan Tionghoa. Dia adalah Soe Hok-gie.

Chairil hidup di jaman Revolusi, Gie hidup di jaman perjuangan heroik Mahasiswa menumbangkan Orde Lama. Indonesia saat itu sama-sama terjajah. Gie, pada jamannya adalah Demonstran yang idealis melawan Tiran dan Komunis (PKI). Di saat perjuangan sebagai seorang Demonstrans itulah, hidup Gie tak jauh juga dengan gadis-gadis. Ada Maria, Rina, Sunarsih yang sering disebut-sebut dalam catatan hariannya. Siapa Maria, Rina, dan Sunarsih? Karena nama-nama tersebut adalah nama samaran, bukan nama gadis sebenarnya, aku coba menyimpulkan sendiri bahwa gadis-gadis itu bisa saja Wiwik, gadis yang suka diajaknya mendaki gunung, lalu Kartini Syahrir, kalau ini berdasarkan pengakuan yang bersangkutan secara jujur dan blak-blakan di buku Gie : Sekali Lagi.

Sama seperti Chairil, rupanya untuk masalah gadis yang dicintainya Gie juga mengalami nasib tragis penolakan atau cinta bertepuk sebelah tangan. Untuk soal tidak diterima keluarga gadis walaupun Gie yakin gadisnya itu mencintainya, kakak Gie, Arief Budiman bahkan mengatakan Gie juga jatuh cinta dengan seorang gadis. Tapi orangtuanya tidak setuju – mereka selalu dihalangi untuk bertemu. Orangtua gadis itu adalah seorang pedagang yang cukup kaya dan Gie sudah beberapa kali bicara dengan dia.

Kepada kakaknya Gie sampai curhat; “Kadang-kadang, saya merasa sedih. Kalau saya bicara dengan ayahnya si…, saya merasa dia sangat menghargai saya. Bahkan dia mengagumi keberanian saya tanpa tulisan-tulisan saya. Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar risikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya”.

Sampai mati muda 1969, sama seperti Chairil Anwar pula, Soe Hok-gie meninggal tanpa pernah mendapatkan gadis yang dicintainya.

Mari sini sayangku, kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku… Pinta Gie dalam puisi dramatis yang ditulis sebelum Gie mendaki menemu ajal. Tapi ketiga gadis yang dicintainya tak datang, Gie tercekik sendiri, di Gunung Semeru…

http://sejarah.kompasiana.com/2010/07/29/gadis-gadisnya-binatang-jalang-dan-sang-demonstran/

Rakena!!!

Rumah Gadang di Bukiktinggi
Nan di lamannyo tatagak lumbuang
Alah tasabuik sajak dulunyo

Yo badatak bana di dalam hati
Taraso niaik indak ka langsuang
Tagak dek hati nan kareh juo

Jikok lah indak karano murai
Indak lah bondo mambuek sarang
Kok indak uda nan dulunyo mamulai
Indak lah Adiak mabuak surang

Di Maninjau jalan bakelok
Jaleh tampaknyo nagari Bayua
Taruihkan jalan ka Lubuak Sao

Asa baniaik ka nan elok
Di dalam hujan, cubo lah jamua
Baju nan basah ka kariang juo

Usahlah denai diagiah baju
Baju nan lamo tak tasaruangkan
Usahlah denai diagiah malu
Malu nan lamo tak tatangguangkan

Unggeh paku tabang ka paku
Tibo di paku lah tabang pulo
Jikok katuju samo katuju
Lamo jo lambek ka jadi juo :)

Surau Kami, Dulu dan Kini

surau di lintau

Dahulu…

Surau adalah bagian dari rantai kehidupan kaum lelaki Minangkabau. Dengan berbekal sekeping Al-Qur’an, seorang anak lelaki di Minangkabau ‘diserahkan’ oleh keluarganya kepada seorang guru mengaji di surau di kampungnya. Anak lelaki yang tidur di rumah mendapat cemeeh sebagai ‘anak amak’ yang tidur di ketiak ibunya. Artinya ia dianggap agak kewanita-wanitaan. ‘Anak amak’ seperti itu akan sering ‘diuji’ oleh teman-temannya, baik dalam bentuk adu kata, adu permainan, maupun adu fisik.

Surau adalah tempat inisiasi oleh seorang Minangkabau sebelum ia pergi menghadang rantau yang bertuah, setelah menyeberangi ‘laut sakti’. Di surau seorang anak lelaki Minangkabau tidak sekedar belajar agama dan belajar membaca Al-Qur’an (mengaji), tapi juga belajar ilmu bela diri (silek). Sehabis waktu mengaji, anak laki-laki diajari ilmu bela diri (silek) guru mengajinya atau oleh seorang pendekar di kampung itu, sebagai bekal untuk ‘mailak’an karambia malanja’, terutama bila sudah berada di perantauan nanti.

Seiring dengan perkembangan Islam di Minangkabau, dan lebih-lebih lagi setelah zaman Padri, beberapa surau menjadi sekolah agama (Godsdienstscholen) dengan banyak murid, seperti pesantren di Jawa. Pionir surau seperti ini adalah Surau Syekh Burhanuddin di Ulakan (Van Ronkel, 1914). Pada paroh kedua abad ke-19 ditemukan beberapa surau penting di darek yang mempunyai banyak murid (santri), seperti di Caluak, Padang Sibusuak, Koto Tuo, Tanjuang Barulak, Simabua, Koto Anau, dll (Verkerk Pistorius, 1869:444-5). Seorang Minangkabau menulis dalam jurnal De Indische Gids (1888.I:312-333) yang bertajuk “De Masdjid’s en Inlandsche Godsdienstcholen in Padangsche Bovenlanden” (‘Mesjid dan Sekolah-sekolah Agama di Padang Darat’) mencatat bahwa ketika ia berkunjung ke Surau Batu Hampar pada 18 April 1888, ia melihat banyak santri belajar di sana yang, dari mendengar logat mereka waktu berbicara, kelihatannya mereka berasal dari berbagai daerah di dan dari luar Minangkabau.

Gambar ilustrasi di atas adalah foto litografi sebuah surau di Lintau. Foto ini dibuat oleh C. Nieuwenhuis pada tahun 1890. Ah… betapa enaknya tidur di surau seperti ini sehabis mengaji dan belajar silat yang membuat peluh mengalir. Jika hujan turun di malam hari, tidur di surau bisa menjadi lebih lelap. Lantai kayunya tetap membuat tubuh terasa hangat di atas tikar pandan dan di balik kain sarung. Kita patut berterima kasih kepada Muhammad Radjab yang dalam otoriobrafinya, Semasa Kecil di Kampung, 1913-1928 (Djakarta: Balai Poestaka, 1950) antara lain berkisah tentang suasana kehidupan anak lelaki Minangkabau dalam lingkungan surau di kampungnya di Singkarak.

Perhatikan arsitektur surau ini yang bergaya Koto Piliang, yang memadukan bentuk atap rumah gadang Minangkabau dan bentuk bangunan mesjid yang yang bergaya Islam. Dulu surau-surau dengan bangunan khas seperti ini – dengan arsitektur bergaya Koto Piliang dan Bodi Caniago – ditemukan di banyak nagari di Minangkabau. Beberapa di antaranya sekarang masih dapat ditemukan di beberapa nagari di Sumatra Barat.

Kini…

Banyak surau tradisional di desa-desa Minangkabau direnovasi oleh penduduk setempat dengan menghilangkan bentuk aslinya. Surau-surau baru dibangun dengan dinding beton, lantai marmer, jendela kaca, dan kubah model mesjid-mesjid di Arab. Dengan tidak sadar mereka yang gila modernisasi dan terjangkit euforia globalisasi yang akut telah menghancurkan sejarah mereka sendiri. Sebelum terlanjur habis, surau-surau tradisional Minangkabau yang masih ada sampai sekarang, yang memiliki nilai sejarah yang tinggi, harus diselamatkan.

Artikel aseli dari :

Suryadi – Leiden, Belanda.

Singgalang, Minggu, 12 Desember 2010.

Surat Dari Kampuang

surat dari kampung

Nak Kanduang dagang di rantau
Jawek lah pasan ranah tapian
Kami kok indak ka dagang silau
Sapucuak surek tolong layangkan

Kirimkan kami surek sapucuak
Elok jo buruak dibaritokan
Rusuah nak samo kito pujuak
Gamang nak samo dirasokan

Jikok batanyo urang ka kami
Apolah rundiang ka kami jawab
Saribu sasa dalam hati
Dagang bangih indak basabab

Manuruik carito kaba buruang
Dagang lah banyak salah jalan
Bujang banyak ditangkok binguang
Gadih lah banyak nan hilang padoman

Jikok batua mako tajadi
Mungkin dagang malulua sumpah
Lah hilang cahayo matohari
Kiamat nagari Rasulullah

Kami lapeh dagang bajalan
Bukan untuak marantau cino
Mancari ilmu jo pangalaman
Mambangun kampuang jo pusako

Tapi kini apo disabuik
Balain tasuo jo nan dicinto
Layangan putuih, banang lah kusuik
Kumpalan apo lai gunonyo

Kami tak harok jo pakirim
Asa batamu kami lah sanang
Ka panjago silaturrahim
Pamupuak kasih jo sayang

Tapi kini apo dibaco
Kaba indak, barito pun indak
Surek sapucuak haram tibo
Lah hilang rindu jo taragak

Jalan salangkah lupo suruik
Dek lamak lenggok malenggang
Gilo dek rayu rumpuik saruik
Sirieh mawa layua di batang

Dagang lah mabuak jo kiambang
Di kampuang mawa lah jadi karisiak
Manangih lasuang di pintu kandang
Kinantan tabang tak babaliak

Padi taserak lah jadi salibu
Jaguang di kaka lah baurek
Banang lawah manutuik pintu
Kandang lapuak sangkak lah kuyak

Surau langang, balai lah sunyi
Lah hilang lagu dek badendang
Tapian indak sumarak lai
Aia janiah, ikan mahilang

Labuah luruih kini manyimpang
Ulah dialiah dek urang lalu
Cupak di tuka rang padagang
Lah abih galeh baru tau

Pinang mudo layua dibatang
Arai mayang manyasak kulik
Sadah masiak, gambia lah jalang
Carano lah jadi barang antik

Tamanuang pinyaram jo galamai
Wajik maratok di kuali
Tak mungkin lai badan tapakai
Baralek gadang lah jarang kini

Antah ka jadi ka buah tangan
Panyanangan hati rang di Jawo
Elok katiko sadang makan
Kanyang lah lupo di ma asanyo

Manyasa puluik jadi katan
Urang bakandak bareh ampiang
Angek pariuak lah ditahan
Urang manulak masuak piriang

Lai bana badan tapakai
Indak labiah ka kawan kopi
Taonggok duduak dalam kadai
Manunggu urang minum pagi

Dimakan urang sambia galak
Maota sambia bagarah
Lai bana mangatokan lamak
Di harago bakandak murah

Ratok kok lai dagang simak
Himbau kok lai basahuti
Pintak kami indak doh banyak
Pulang kampuang, janguak lah nagari

Tatumpah kasiah di tanah Jawo
Sayang jo kami usah lupokan
Usah turuikkan pandangan mato
Kato batin cubo dangakan

Condong ka nan rancak, pandangan mato
Lamak salero mako bakulek
Kalau lah setan nan mandayo
Kadang tubo tasangko ubek

Mako di kami nan marusuah
Dagang kok mabuak jo kiambang
Mukasuik mahapuih paluah
Palak lapeh, gata nan datang

Ingek-ingek sabalun kanai
Bakulimek sabalun abih
Pinjaik dapek kapak tagadai
Kok batuka galak jo tangih

Kok nyampang surek indak babaleh
Kaba kok indak datang juo
Isi mukasuik kok kurang jaleh
Dangakan sajo surek kaduo

Sumpah Cinto

take my hand

Adiak:

Den lapeh Uda ka rantau urang
Untuang tajajak jo tanah tapi
Denai badoa malam jo siang
Salamaik Uda pulang jo pai

Uda:

Nyampang kok denai talambek pulang
Kironyo talaik kaba barito
Usah putuihkan kasiah jo sayang
Tandonyo denai sadang sansaro

Ndee…ehh, usah laaahh ~~~
Kasiah jo sayang usah rangguikkan
Bia talambek… asa lai tibo
Sumpah cinto den… jan diragukan

Hiduik jo mati indak bacarai
Ka Nan Kuaso basarah diri

Uda:

Salah di Adiak malupokan denai

Adiak:

Badoso Uda mungkia jo janji

Kepada Dua Gunung, Aku Bertanya

merapi singgalang
Merapi dan Singgalang tampak dari Danau Singkarak

***

Kepada Singgalang, bertanya aku

Wahai gunung, masa kanakku di lututmu… kampung ibuku
Kenapa indahmu dari dahulu tak habis-habis jadi rinduku

Kepada Merapi, berkata aku

Wahai gunung, masa bayiku di telapakmu… kampung ayahku
Kenapa gagahmu dari dahulu tak habis-habis dari ingatanku

Kedua gunung tentu saja
Cuaca dingin bahasanya
Kabut putih kosa katanya
Rintik hujan ungkapannya
Senyap biru bisikannya

Kepada dua gunung kuulang tanya
Berjawab lewat desahan jutaan daun rimba raya
Bergema begitu indahnya lewat margasatwa
Ombak nyanyian insekta betapa merdunya

(Mereka menjawab) bertanya lah pada Yang Di Atas Sana

TAUFIQ ISMAIL

( Idul Adha, Senin 8 Desember 2008)
Nagari Aie Angek, di seberang Nagari Pandai Sikek

Antara Senen dan Senayan — Kisah Seorang Rantau Muda

buyung

Takaba Si Buyung pai marantau ke tanah Betawi… melanjutkan tradisi sebagai seorang lelaki Minang dalam mencari jati diri. Di Betawi, Buyung tinggal bersama mamak (paman) yang telah menjadi rangkayo gadang (orang kaya besar), seorang pedagang baju di Pasar Tanah Abang.

tenabang

Singkat cerita, Buyung mendengar bahwa tim sepakbola kesukaannya “Kabau Sirah” hendak beradu tanding melawan tim ibukota di Gelora Bung Karno, Senayan.

kabau sirah

Mendengar hal tersebut, tentu saja Buyung ingin menonton pertandingan tersebut. Maka bertanya lah Buyung ke mamak-nya:

Mak… kok dari siko ka tampek urang ka tandiang bola tu naiak apo??
(“Om… kalau dari sini — rumah mamak si Buyung ini di Cililitan — ke tempat orang tanding bola naik apa (kendaraannya)??”)

Menjawab lah mamak si Buyung ini:

Ang naiak se bus gadang dari simpang nan ka arah Senayan
(“Kamu naik saja bisa besar dari simpang yang ke arah Senayan”)

bus gadang

Tanpa banyak tanya lagi, langsung lah Buyung berangkat menuju ke simpang untuk menyetop bus gadang diceritakan sang paman.

Lama menunggu bus yang dinanti tak kunjung tiba, setelah setengah jam menunggu… lewat lah bus jurusan Senen. Dalam bahasa sehari-hari Si Buyung di kampungnya, yaitu bahasa Minang… kata “senayan” berarti hari Senin. Adapun nama-nama hari berturut dalam seminggu adalah: Akad, Senayan, Salasa, Raba’a, Kamih, Jumaik, dan Sabtu. Maka, Si Buyung pun berpikir:

Ah… mungkin yang dimaksud oleh paman, bus jurusan Senen kali yaa

senen

Tanpa pikir panjang, Buyung pun langsung naik bis jurusan Senen. Setibanya di Pasar Senen, kenek bus pun berkata:

Yaaakk… Senen abhis, Senen abhis

Si Buyung pun bertanya pada sang kenek:

“Mas… lapangan bolanya di mana?”

Sang kenek pun bingung, dan balik bertanya:

“Maksudnya lapangan bola Senayan??”

Si Buyung pun menjawab:

“Iya, lapangan bola Senen”

… katanya, karena takut dikira tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Sang kenek pun menjawab:

“Oh… kalau lapangan bola adanya di Senayan, mas… cukup jauh dari sini”

Buyung membalas:

“Loh, bagaimana ini… katanya lapangan bola di Senen, kok sekarang malah di bilang jauh dari sini??”

… ujar Buyung tetap tak mau kalah dan masih mengira bahwa Senayan = Senen.

Selang berdebat alot antara Senen dan Senayan, datang lah seorang penjual Sate Padang, Ajo Sidi, dan berkata:

Oi yuang… waang tu nan sasek, di siko ado Senayan, ado pulo Senen. Indak samo bagai kaduonyo
(“Hai Buyung… kamu itu yang sesat, di sini (Jakarta) ada Senayan, ada pula Senen… dan tidak lah sama di antara keduanya’)

Ooohh… sasek ambo Jo, ambo ka mancaliak tandiang bola, Kabau Sirah jo Persija
“(Oh, sesat saya ya Jo, saya mau lihat tanding bola ni, Kerbau Merah lawan Persija)”

… ujar Buyung tersadar.

Iyo… tandiang bola lah mulai tu haa. Elok kito danga sajo dari radio, ko ambo agiah sate sapiriang perai
“(Iya… tanding bolanya sudah mulai. Lebih baik kita dengar saja dari radio, ini saya kasih sate sepiring gratis)”

… jawab Ajo Sidi.

sate padang

***

Yaahhh… minimal Si Buyung dapat pelajaran hari ini, bahwa Senen tidak sama dengan Senayan dan sepiring sate dari Ajo Sidi :)

~dR

3 Cerita Sebelum Adu Kerbau

marawa

Tulisan iko ambo sadur dari Sutan Rajo Imbang di Marawa News, tentang teka-teki yang diajukan oleh orang negeri seberang ketika mereka bertandang ke Ranah Minang.

Alkisah dahulu di Minangkabau ado panghulu nan bagala Datuak Tuo, beliau berserta kaumnya menyambut kedatangan orang dari negeri seberang, orang-orang tersebut membawa sekapal (sekepal??) emas dan mengajak Datuk dan kaumnya untuk bertaruh.

1. Nan Ma Ujuang, Nan Ma Pangka??

Taruhan pertama, mereka mengeluarkan sebilah kayu berbentuk penggaris (mistar) dan berkata:

“Coba Datuk tebak yang mana yang pangkal dan ujung kayu??”
“Jika Datuk bisa menjawab, 1/4 emas kapal ini untuk Datuk. Namun jika salah, 1/4 tanah Datuk untuk kami”

Setelah berembuk dengan kaum, Datuk pun mengambil benang dan mengikatnya pada bagian tengah-tengah kayu tersebut. Kemudian kayu digantungkan, sehingga kayu tentu akan condong ke arah pangkal. Tebakan pertama benar dan Datuk beserta kaumnya mendapat emas dari 1/4 kapal dari orang negeri seberang tersebut.

2. Nan Ma Jantan, Nan Ma Batino??

Tebakan kedua, orang negeri seberang tersebut membawa kepada Datuk dan kaumnya sekelompok itik, dan bertanya:

“Mana itik jantan dan mana yang betina??”
“Jika Datuk bisa menjawab, 1/4 emas kapal ini untuk Datuk. Namun jika salah, 1/4 tanah Datuk untuk kami”

Datuk dan kaumnya kemudian membawa itik-itik tersebut ke tabek (kolam), serta-merta sebagian itik ada yang berenang dan ada yang berdiam di tepi kolam. Datuk pun berkata:

“Yang masuk tebat itik jantan, yang tinggal di tepinya adalah betina”
“Karena pada hakikatnya yang jantan keluar rumah, yang betina tetap di rumah”

Tebakan kedua benar lagi, maka Datuk dan kaumnya mendapat emas 1/4 kapal lagi dari orang negeri seberang.

3. Sia Nan Paliang Gadang??

Tak habis akal, orang seberang pun mengajukan tantangan ke-3:

“Siapa yang paling besar (gadang) di negeri ini??”

Datuk pun mengeluarkan sarawa galambuak (celana yang digunakan oleh anak nagari dalam permainan Randai), yang bentuknya sekilas mirip celana dalam (sempak), dan berkata:

“Celana dalamnya saja besar seperti ini, tentu terbayang oleh Tuan bagaimana besar pemiliknya”

Orang negeri seberang pun mengaku kalah, dan mereka mengajukan taruhan terakhir yaitu adu kerbau. Yang kemudian menjadi salah satu cerita mengenai asal-usul nama Minangkabau.

***

Cerita di atas mungkin lebih banyak dongeng daripada nyata, namun yang ingin hamba kemukakan adalah bagaimana kita dalam menghadapi masalah sesulit apa pun hendaknya dengan bijak dan kepala dingin. Dengan prinsip “tak ado gayuang nan tak basambuik, tak ado kato nan tak babaleh

~dR

Destinasi

Di hati yang mana… ku temu cinta terindah
Kau berikan ku jawaban… tiada lagi persoalan
Sambut cintaku ini sayang… berselimutkan kasih kita
Di ruang hatiku yang terpencil.. mekar cinta kita yang akhir

Kini menuju ke destinasi… puncak cinta tertinggi
Aku menunggumu… aku takkan jemu
Karena cinta itu… termanis bagiku

Mimpiku semalam… kau hadir bersama cinta
Kau lukiskan dua hati… lambang kasih sayang sejati
Kau datang bersama sinar… menyuluh hatiku yang pudar
Kini semua kembali berseri… bila kau hadir kudamba

Matahari masih jingga… menyala cinta bagai bara
Perjanjian kita berdua… kekal selama berdua berdoa bersama sayang

Transkripsi ~ Siti Nurhaliza

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.