Parang Ladiang

Sorang tatilantang
Sorai lai tatilungkuik
Dek ulah tasanduang kaki

Menang menjadi arang
Kalah menjadi abu
Urang lain juo nan barasaki

~dR

Konco Arek, Lawan Barek

Jikok jauah bantuak ka adu tumbuak
Lah dakek ruponyo saliang bapaluak

Hahaha .. :-P

Simalakamo

Usah bundo bakato, denai anak durhako
Indak mukasuik hati malawan bundo
Lai den cubo manuruikkan kato bundo
Tapi baa lah .. inyo den cinto

Adiak nan denai cinto, usah balaruik juo
Angan jo mimpi ndak jadi nyato
Sabana bedo .. kami sabana tabedo
Bak makan buah simalakamo

Tuhan .. kami ndak badayo
Tunjuakkan baa jalan nan bana
Kasiahnyo bundo, kasiahnyo cinto
Samo-samo iyo .. nan samo mulianyo

Pelangi Mendung

Tak mungkin engkau melihat pelangi di langit nan cerah
Di balik awan mendung lah pesonanya terpancar
Jika hendak memendangnya, engkau harus siap berbasah2 hujan
Demikian lah keadilan Tuhan .. :)

Pelangi disebut juga “busur hujan” (rainbow)
Tetapi hamba lebih senang menyebutnya sebagai ..
“lengkung senyum di kala hujan” .. :)

Urang Awak Sabananyo

  1. Tidak bisa melihat dan membiarkan trotoar kosong atau nganggur.
  2. Berjalan/mengendarai mobil lebih pelan di perempatan/pertigaan untuk melihat peluang membuka rumah makan.
  3. Mengeluh bila belum makan masakan Padang minimal sekali sehari.
  4. Tidak bisa makan tanpa cabe atau sambal pedas serta selingan kerupuk jengkol.
  5. Kalo makan berkeringat, tapi kalo kerja maunya tidak berkeringat.
  6. Hal pertama yang ditanya begitu sampai di suatu kota adalah dimana ada rumah makan Padang terdekat.
  7. Membawa nasi rames Padang ke dalam pesawat sejak Airlines di Indonesia tidak lagi menyediakan makanan.
  8. Lebih memilih rendang jengkol dan sambel pete daripada menu daging, ayam atau sambel ABC.
  9. Makanan kesukaan anda di daftar menu adalah yang paling murah dan paling banyak porsinya.
  10. Terhimpit maunya di atas, terkurung maunya diluar.
  11. Masih menawar harga barang di swalayan atau department store yang sudah ada Price Tag-nya dengan harapan bisa dapat lebih murah.
  12. Hal pertama yang muncul di pikiran saat membeli barang adalah apakah bisa dijual kembali dengan sedikit keuntungan.
  13. Berhasil dengan sukses menjual serta meyakinkan seseorang untuk membeli barang kelas kaki lima dengan harga swalayan.
  14. Tahu perkembangan naik turun harga barang di pasar, harga emas, harga kain, upah jahit baju, ongkos cetak dan sewa tempat di pasar.
  15. Berkunjung ke department store, swalayan atau toko hanya untuk mengetahui perbandingan harga barang untuk kemudian mencarinya di kaki lima.
  16. Simbol matematika yang paling dikenal adalah tanda + (tambah) dan tanda X (kali), tidak mengenal tanda – (kurang) dan tanda : (bagi).
  17. Lancar mengucapkan kalimat satu 5 ribu, dua 7 setengah, tiga 10 ribu.
  18. Hasil perhitungan 2+2=7 karena 4 pulang modal, 2 keuntungan dagang, 1 untuk sewa tempat/ongkos.
  19. Tangan menerima uang lebih cepat dan tangkas daripada tangan membayar.
  20. Pelajaran yang paling diminati di sekolah adalah aritmatika, hitung dagang, harga pokok dan marketing.
  21. Tempat duduk favorite anda waktu berkunjung ke cafe atau restorant adalah di dekat kasir atau pintu masuk, untuk melihat penerimaan uang masuk dan jumlah pengunjung yang datang.
  22. Perintah tambahan anda saat menyuruh seseorang membeli barang di toko atau warung adalah cari harga yang paling murah dan usahakan untuk menawar.
  23. Selalu naik angkutan umum atau angkot yang ada musicnya.
  24. Menyetop taxi, membuka pintu depan, kemudian bertanya ke sopir taxi-nya “Jurusan mana Bang??”.
  25. Lebih memilih tarif taxi sistem tawar menawar daripada sistem argometer demi alasan kepastian harga dan kepuasan menawar.
  26. Selalu memilih duduk paling depan kalo naik angkutan umum, bus atau pesawat dengan tujuan supaya bisa sampai lebih cepat dan lebih dulu.
  27. Pesta pernikahan anda belum terasa lengkap tanpa ada panggung orgen tunggal yang menampilkan penyanyi terkenal se-kecamatan atau kabupaten.
  28. Begitu keluar dari kampung halaman, langsung bisa berbahasa Indonesia Raya yang baik dengan logat Minang yang kental serta gimana gitu.
  29. Selalu berprinsip “Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung, tapi kampung halaman dan pulang kampung tetap nomor satu”.

Hiduik Badunsanak

Co itu bana hiduik badunsanak
Jikok dakek acok bacakak
Jikok jauah samo taragak
Jikok babagi handaknyo samo banyak

~dR

Pintak jo Pinto

Jikok taniyo, pantang mamintak
Jikok dibari, indak manulak
Co itu bana urang awak, jikok bakandak
Punyo sapetak, untuang saparak

~dR

Rambutan Habis

Adalah seorang laki-laki yang pergi ke Jakarta naik bis membawa sebuah kotak besar yang dipangku olehnya. Karena penumpang semakin banyak, maka timbul percakapan antara penumpang dan sang kondektur di bawah ini :

Kondektur : Pak, tolong kotaknya ditaruh di bagasi aja
Penumpang : Jangan!!! (dengan sewotnya)
Kondektur : Emang isinya apaan sih kenapa ga boleh ditaruh di bagasi
Penumpang : Isinya rambutan ..
Kondektur : Halah, cuman rambutan aj kok dipangku segala .. (dalam hati : dasar orang kampung) sambil terus memaksa supaya kotak itu bisa ditaruh di bagasi

Semakin lama di perjalanan, bus semakin sesak oleh penumpang sehingga kondektur mendatangi penumpang itu lagi:

Kondektur : Pak, busnya semakin penuh nih, tuh kotak bener2 menuh2in tempat, sini biar saya taruh di bagasi (sambil merebut kotak dari pangkuan orang itu)
Penumpang : Tapi awas loh klo sampai terjadi apa2 dengan rambutanku !! .. ancam dia

Dalam perjalanan, akhirnya penumpang tertidur dan setelah sampai di salah satu terminal di Jakarta , sang kondektur berteriak dengan kencangnya: RAMBUTAN HABIS !! RAMBUTAN HABIS !! (kamsudnya Terminal Kampung Rambutan semua penumpang turun). Penumpang kemudian terpanjat dari tidur dan menarik baju kondektur: GUA BILANG JUGA APA? SEKARANG RAMBUTANNYA HABIS KAN ??

Membangun Nagari Kembali

Kebakaran Pagaruyung

Sikaduduak lah rabah kini
Ditimpo kayu rabah sanjo
Elok disilau kampuang kini
Mari membangun kembali basamo-samo

Ka bukik samo mandaki
Ka lurah samo manurun
Sarantak, saayun .. langkahkan kaki
Mari basamo kito mambangun

Nan kok bulek lah buliah samo digolong
Nan kok picak lah buliah samo dilayang
Mari basamo bagotong-royong
Kito membangun kembali Ranah Minang

Hilangkan sajo silang sangketo
Marilah kito bausaho
Bahu-mambahu basamo-samo
Membangun kembali kampuang nan kito cinto

Kok ka biduak jo rakik balalai pun jadi
Mako kok sampai kandak di hati
Niaikkan bana di dalam hati
Kito maharok ridho Illahi

Nama Orang Minangkabau

UNIK, FLEKSIBEL, DAN “ANEH”

Oleh : Elfitra Baikoeni
E-Mail : elbaiko@yahoo.co.id

Diantara sejumlah suku-suku bangsa yang ada di nusantara, mungkin nama-nama orang Minang tergolong kompleks, aneh, variatif, longgar, tetapi sekaligus fleksibel, unik, kreatif, serta pragmatis. Orang Batak dan Manado selalu mencantumkan nama marga dan clan di belakang nama kecil. Nama orang Maluku dan Papua dapat dikenali secara cepat dan familiar. Sebagai pengaruh Islam, nama orang Melayu lazim mencantumkan bin/binti sebelum nama orang tua. Orang Jawa dan Sunda lumayan ketat dalam memberi nama anak, sehingga kita nama-nama mereka memiliki khas tersendiri.

Bagi orang Jawa dan juga Sunda, dari nama saja bisa langsung dikenali status sosialnya sekaligus, apakah dia keturunan bangsawan atau rakyat biasa. Nama depan “Andi” jelas berasal dari kaum ningrat Sulawesi Selatan (Bugis). Demikian juga halnya dengan kelompok masyarakat adat lain : Badui, Dayak, Sakai, Nias atau Mentawai, masing-masing memiliki karakter tersendiri yang mudah dikenali (addressed).

Bagaimana dengan Minangkabau ?? Penamaan dalam masyarakat Minangkabau masa lampau kelihatannya berpegang pada falsafah “alam takambang jadi guru”. Orang-orang menamai daerah-daerah baru, kampung, dan nama-nama suku-suku dengan falsafah ini, termasuk juga menamai orang (anak) dan gelar. Tak mengherankan kiranya, kalau nenek moyang kita bernama : Kirai, Upiak Arai, Talipuak, Si Rancak, Jilatang, Masiak, atau Jangguik. Kedengarannya aneh dan lucu, ya ??

Setelah Islam masuk dan berkembang, mulai pula nama-nama orang Minang berubah menjadi kearab-araban (Islam). Nama-nama seperti ini, contohnya : Mohammad Attar, Mohammad Natsir, Saiful, Bahri, Mochtar, Ali, Amir, Arifin, Ismail, Aziz, Fauzah, Hamid, M. Rais, Zakiah, Ibrahim, Idris, Rasid, Sofyan, Dahlan, Fatimah, Aminah, Maimunah, Hayati, Nurhasanah, Nuraini, Saidah, dst.

Pasca takluknya peristiwa PRRI-Permesta, orang Minang mengalami tekanan mental luar biasa dari pemerintahan Jakarta, banyak diantara mereka kemudian memutuskan meninggalkan kampung halaman untuk pergi merantau. Setidaknya, demikian pendapat yang tertulis dalam buku “Merantau”-nya sosiolog Mochtar Naim. Mulai pula orang berusaha menanggalkan identitas dan label keminangannya, salah satu lewat perubahan nama. Tak sedikit orang Minang memiliki nama yang kejawa-jawaan, ada seperti nama Eropa, Parsia, atau Amerika Latin. Sekedar contoh, seorang pejuang pemberontak PRRI yang semula bernama Bastian St. Ameh, kemudian merantau ke Jawa dan berhasil jadi pengusaha sukses : Sebastian Tanamas.

Ada “urang awak” bernama Revrisond Baswir, ekonom UGM yang terkenal. Beberapa nama yang ikut menjadi calon gubernur Sumbar tempo hari bernama; Leonardy Armaini, Jeffry Geovanni, dan terakhir siapa kira kalau Irwan Prayitno itu adalah putra asli Kuranji, Padang? Saya berkali-kali berusaha meyakinkan orang-orang tua di kampung halaman, kalau Irwan Prayitno bukan orang Jawa, pada saat Pilkada berlangsung. Mungkin mereka kuatir dengan “trauma” masa lalu, pada penghujung Orde Lama banyak sekali pejabat tinggi di Ranah Minang yang di”drop” dari Jakarta dan berasal dari etnis Jawa.

Dalam pemberian nama kepada anak orang Minang sangat pragmatis tapi kreatif. Di SD saya punya kawan bernama hebat, John Kennedy, sayang dia sempat tinggal kelas. Waktu kuliah teman akrab saya bernama Socrates, asal Labuah Basilang, Payokumbuah, yang waktu lahir kakek yang memberinya nama terkagum-kagum pada pemikiran Filsafat Yunani. Semula saya kira dia orang Tapanuli, namanya Hardisond Dalga, ternyata dia dari Singkarak dan nama belakang adalah nama ayah-bunda; Dalimi-Gadis.

Ada lagi kawan bernama Ida Prihatin, karena waktu melahirkan orang tuanya mengalami masa-masa ekonomi susah. Indah Elizabeth, Indah namanya dan waktu lahir ditolong oleh bidan Tionghoa yang ramah bernama Elizabeth. Dian Bakti Kamampa, kata terakhir bukan nama daerah melainkan akronim dari “Kepada Mama dan Papa”, juga ada Taufik Memori Kemal, menurut cerita orang tua yang memberi nama tersebut, dia selalu terkenang (teringat) kepada komandan seperjuangan yang gugur pada Revolusi Fisik Kemerdekaan bernama “Kapten Kemal”. Juga menarik seorang mahasiswa bernama M. Batar. Sudah pasti M tersebut adalah Mohammad, dan “Batar” mungkin saja diambil dari kata bahasa Arab, begitu pikir saya selama bertahun-tahun. Tetapi kemudian ketika sesi “mukaddimah” saat dia ujian skripsi, dia menceritakan kisah dibalik nama tersebut (karena memang ada dosen yang iseng nanya arti namanya). Singkatnya M. Batar artinya;
mambangkik batang tarandam”, itulah nama yang sekaligus menjadi misi hidup laki-laki berperawan kurus ini. Kalau kita rentang, akan banyak kisah-kisah seterusnya dibalik pemberian nama Orang Minang.

Nama-nama singkatan/akronim bagi orang Minang sudah mentradisi. Salah satu “perintis”nya adalah Buya Haji Abdul Malik Karim Amarullah, yang menyingkat namanya jadi HAMKA. Setelah itu tak sedikit yang meniru, memendekkan nama panjangnya menjadi akronim atau singkatan. Ada Pak AR, Buya ZAS, STA, HAP, HAKA, Zatako.

Yang menarik ada nama yang sering diasosiasikan sebagai khas Minang, karena nyaris tak dijumpai pada di etnik lain, yakni nama yang mengandung atau ber-akhiran … Rizal. Sebutlah misalnya; Rizal, Rizaldo, Rizaldi, Afrizal, Erizal, Syamsurizal, Syahrizal, Endrizal, Masrizal, Syafrizal, Hendrizal, Efrizal, Nofrizal, dst.

Memasuki pertengahan tahun 1980-an, ketiga pemerintahan Orde Baru sedang puncak-puncaknya, mulai pula “trend” nama anak berbau kebarat-baratan. Ada yang bernama Alex, Andreas, Hendri(k), Anthon(y), Roni, Yohanes, Octavia, Octavianus, Matius, Agustin, Angela, Monica, Susi, Selly, Ryan, Mathias, Dona, Harry, Sintia, Agnes, Yosep, Yoserizal, John, Johan, Yohanna, dan kalau diteruskan nama-nama ini akan jadi deretan cukup panjang.

Mungkin pengaruh dominasi budaya Orde Baru, banyak juga nama yang berasal Sangsekerta seperti : Eka, Eko, Ika, Dharma, Bakti, Agus, Esa, Kurniawan, Sinta, dst.

Seiring dengan itu, pernah juga sebagian orang mengangkat nama suku sebagai nama belakang. Ini menurut saya karena pengaruh nama orang Batak dan Mandailing yang terlihat “gagah” dengan nama marga yang selalu menempel di belakang nama mereka. Maka kemudian muncul nama semisal, Hendri Chaniago (karena berasal dari suku Caniago), Indra Piliang, Afrizal Koto, Anisa Jambak. Nampaknya hanya nama Chaniago (mengherankan … entah mengapa nama suku itu selalu dibubuhi “h”, padahal aslinya hanya “caniago”) dan Piliang saja yang cukup populer sebagai nama, suku yang lain relatif jarang. Memang, nama-nama semacam itu hanya sedikit peminatnya, karena tidak lazim. Bagi orang Batak atau Mandailing, kalau mereka berasal dari marga yang sama misalnya sama-sama Sitorus atau Nasution berarti bersaudara. Sementara suku-suku di Minang bersifat menyebar pada semua nagari di seluruh Sumatra Barat, sehingga rasa pertalian sesama suku itu – meskipun di rantau – pun terasa longgar.

Runtuhnya rezim Suharto dan digantikan oleh era reformasi sekarang, kembali trend nama-nama Islam dan religius untuk nama anak. Sebutlah misalnya ; Habib, Farhan, Said, Anisa, Naufal, Aqila, Zahra, Najla, Najwa, Zahira, Salma, Sarah, dst.

Sebenarnya banyak hal yang masih mengganjal dengan “style” nama-nama orang Minang, misalnya mengapa karakter nama Minang cenderung berubah-rubah, dari satu periode ke periode berikutnya? Mengapa begitu variatif dan kompleksnya nama orang Minang, sehingga kadang bersifat “menipu”, uncertain dan kadang absurd, lalu adakah yang mereka sembunyikan dibalik nama-nama tersebut? Apa arti/makna nama bagi orang Minang zaman sekarang, sejauh mana nama seseorang dianggap penting sebagai identitas sosial? Sejauh mana hubungan antara nama/gelar dengan politik, modernisasi, atau birokrasi? Kalau dulu nama sebagai identitas yang dijumpai adalah, misal : Y. Dt. Rangkayo Basa, M. Dt. Mangkudun Sati, atau B. Bagindo Sutan, mengapa tiba-tiba sekarang tak ada yang mencantumkan gelar adat tersebut sebagai nametag, kartu nama, atau sebagai nama resmi (yang disandang kemana-mana karena bangganya) sebagaimana dulu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab melalui kajian yang lebih serius.

Bdg, Januari 2008