Menjadi Aparatur Sipil Negara

Bismillaah… sudah lama blog ini tidak dimutakhirkan (baca up-date). Ketika iseng di tengah malam (maklum lagi jauh dari istri yang sedang persiapan buat kelahiran di Padang, do’akan semoga lancar yaa ^_^); terus mengecek laman ini ternyata sudah berdebu ~_~

Demi menyalurkan energi produktif daripada mata yang tak mau terpicingkan (maklum rindu -_-), maka ambo coba untuk posting dengan bahasa sendiri. Setelah dilihat-lihat kebanyak isi blog ini ternyata saduran dari laman atau artikel lainnya.

Ketika posting di media sosial dirasa terlalu ada (exist), maka mungkin posting di sini cukup tersembunyi. Karena toh ketika orang searching di Google, baru laman ini akan tertabrak (hit).

***

Hal yang akan coba ambo bahas kali ini sesuai judul… ya kata lainnya adalah menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) dalam sudut pandang pribadi. Pepatah bilang : “setelah kamu tercebur, baru akan tau dalamnya sumur”; begitu pula ketika ambo pada akhirnya terjun ke dunia PNS. Setelah sebelumnya membaca stigma dan testimoni orang-orang tentang ini, ternyata baru ambo merasakan ternyata tidak semuanya benar dan tidak semuanya pula salah :D

Sekedar informasi setelah diresmikannya Undang-undang (UU) tentang Aparatur Sipil Negara (ASN), yang nomornya kebetulan ambo lupo; maka istilah PNS mulai diperhalus jadi ASN ini. Yaa.. mirip-mirip ‘lah dengan istilah PRT (Pembantu Rumah Tangga) yang naik kasta jadi Asisten Rumah Tangga (ART) :p

***

Sebelumnya ambo akan bercerita tentang latar belakang kenapa pada akhirnya menjadi seorang PNS. Singkatnya adalah karena memang sudah begitu jalan takdirnya dari Nan Kuaso. Setelah lulus S duo pada tahun 2010, ambo pun mencoba peruntungan dengan apply di beberapa lowongan pilihan. Mulai dari BUMN hingga perusahaan multinasional. Namun tak satu pun yang berbuah akhir, rata-rata hanya sampai saat tahap wawancara, ambo ingin tetap mengajukan kualifikasi S-2 (ya iya ‘lah… masa’ udah capek-capek diraih terus dianggurin <_<); sedang umumnya saat itu lowongan yang ambo lamar mencari sarjana yang segar-segar (fresh graduate).

Tentang pengalaman kerja, setelah lulus sarjana ambo masih betah di kampus sambil kuliah lagi juga mengerjakan beberapa proyek di lab., termasuk menjadi asisten akademik. Untuk lanjut menjadi doktor (S-3) waktu itu masih belum ingin, di samping juga tuntutan umur sebagai manusia normal pada umumnya untuk segera mencari batu pijakan (pekerjaan) yang established.

Setelah berbagi cerita dengan dengan seorang teman yang telah duluan lulus S-2, yang kemudian dia menjadi PNS di sebuah instansi riset. Dia bilang awalnya dulu kualifikasi penerimaannya adalah S-1, tapi kemudian ijazah S-2 dapat diakui dengan proses penyetaraan. Dari situ ambo catat bahwa di instansi seperti itu (instansi PNS yang lain juga pada umumnya), kualifikasi yang lebih tinggi dapat diakui. Namun kalau tidak salah mesti yang sejalur antara jenjang tersebut, maksudnya kalau kualifikasi S-1 (misalkan ambo) Teknik Fisika, maka S-2 juga mesti jurusan yang sama. Kalau ada yang telah menjadi PNS (misal S-1 Teknik) kemudian mengambil S-2 Manajemen, namun statusnya Tugas Belajar (ditugaskan resmi dari instansi) itu lain cerita.

Ambo pun mulai searching lowongan PNS yang dibuka pada tahun itu. Terus terang sebelumnya ambo cukup termakan stigma negatif tentang PNS, sehingga dalam mencari lowongan itu pun ambo masih mempertahankan idealisme : “tidak mau masuk PNS yang asal-asalan”. Asal-asalan yang dimaksud adalah “yang penting dapat kerja”; ambo masih ingin ilmu dan pengalaman yang dimiliki tetap terpakai apabila menjadi PNS. Tentunya pilihan yang tepat mungkin intitusi litbang (penelitian dan pengembangan) macam LIPI atau BPPT (maaf yaa sebut merek :D); tetapi ada juga alternatif di lembaga-lembaga litbang Kementerian/Departemen. Kebetulan dari 2006 – 2009, ambo beberapa kali ikut serta dalam kegiatan penelitian pada salah satu instansi di Pekerjaan Umum (PU) yang sempat membawa ambo raun-raun hingga ke Wamena di tanah Papua dan Raja Ampat.

Namun lagi-lagi imej lembaga litbang yang sering dipelesetkan “sulit berkembang” membuat ambo urung untuk mengambil formasi peneliti dengan kualifikasi “S-1 Teknik Fisika”. Setelah melakukan sortir lowongan dengan kata kunci “formasi” dan “kualifikasi”, tinggal hanya satu pilihan, yaitu : “Instruktur Teknik” di “Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T)”, sebuah instansi litbang di bawah Kementerian Perindustrian pada saat itu. Ambo akhirnya mengkunci pilihan menjadi PNS : “hanya ini atau tidak sama sekali”.

Kebetulan instansi ini telah ambo kenal lebih dulu, ketika pada tahun 2006 sedang hangatnya “Lampu Hemat Energi”; laboratorium ambo di ITB (Fisika Bangunan dan Akustik) yang salah satunya tentang pencahayaan (lighting), turut serta dalam kegiatan ini. Selain itu juga pada saat kerja praktik di PT. Goodrich (PINDAD), sempat bertukar informasi dengan karyawan di sana tentang pelatihan teknik untuk pengelasan (welding) internasional dan NDT (Non-destructive Test) — uji tak-merusak pada bahan (material); dilakukan di B4T. Jadi terbayang ‘lah untuk formasi yang dilamar ini mungkin akan menjadi instruktur untuk pelatihan-pelatihan macam itu.

***

Setengah bulat tekad (maklum masih belum yakin akan pilihan menjadi PNS), akhirnya ambo apply lowongan tersebut; mulai dari pendaftaran on-line, tes on-line, verifikasi berkas lamaran, tes tertulis hingga wawancara (tertulis juga). Salah satu yang bikin ambo betah mengikuti proses ini adalah persyaratan berkas macam kartu kuning (pencari kerja) dan SKCK dari kepolisian diminta belakangan, saat pelamar sudah memasuki tahap akhir, selangkah lagi menjadi CPNS (patut diapresiasi ini :D); karena pasti ada yang males jadi PNS gara-gara mesti urus berkas administratif macam itu di awal.

***

Resmi per Februari 2011 ambo berpindah lokasi kerja dari ITB ke B4T, yang jaraknya tak sampai 500 meter, sehingga praktis tanpa adaptasi daerah kecuali di lingkungan kerja. Ketika penerimaan oleh para Kepala Bidang, ternyata ambo ditempatkan di Standardisasi untuk pengujian Baterai Primer; meleset dari formasi yang dilamar. Namun prinsip : “sekali layar terkembang, pantang surut kita ke belakang” ambo pakai, karena toh ternyata kerjanya di laboratorium tidak jauh berbeda dengan yang pernah dijalani, bedanya hanya di komoditi (produk).

Entah yang namanya “jodoh”, ternyata lab. ditempati ini adalah yang pernah ambo kunjungi pada tahun 2006 untuk kegiatan “Lampu Hemat Energi”. Seperti meracak kuda pandai, tak sampai 3 bulan meng-khatam-i tentang Baterai Primer, akhirnya ambo inisiatif mengulik barang lama tapi baru : LAMPU! Pengembangan terus berlanjut hingga ke produk Aki Kendaraan Bermotor, yang ternyata B4T sebagai satu-satunya laboratorium uji milik pemerintah yang terakditasi untuk itu.

Sekitar 2 tahun setelah pengangkatan, ijazah S-2 ambo pun resmi diakui (disetarakan). Memang dunia kerja PNS lekat dengan birokrasi, sehingga ambo pun jadinya harus memahami tentang kaidah administrasi dan sejenisnya. Namun hal itu hanya selingan, karena intinya pada pekerjaan ambo saat ini sebagai seorang engineer cukup tercapai, nyambung dengan latar belakang pendidikan dan cita-cita jenis pekerjaan yang diinginkan, serta yang tak kalah penting : “mengabdi pada negara” :)

Meski sering ada yang bilang : “kamu ‘kan ITB, S-2 pulak… kok mau jadi PNS? Kenapa bukan di oil and gas?“; sembari nyengir ambo jawab : “sudah jalannya… lagi pula kalau semua lulusan ITB kerja di oil and gas, siapa yang mau ngurus industri di negara ini?” (berkata sambil pasang kacamata hitam dan balik badan — ganteng pokoknya) :p

Ada juga yang nanya : “apa kamu tahan dengan “godaan” di dunia PNS?“; untuk hal ini ambo cuma kutip pepatah Minang : “berdiam di laut kita dahulu, menjelang pulau masih berlarangan“, ketika belum mampu mengubah dengan tangan (kuasa), minimal kita tidak terikut arus, keras memang pusarannya, namun prinsip yang dipegang kita pertebal saja kulit kikisnya :)

***

Akhir kata postingan ini, menjadi PNS bukan ‘lah pilihan terbaik namun bukan pula berarti buruk. Tergantung diri masing-masing, memilih ikut arus lalu karam atau memegang kendali kemudi diri sendiri. Jika tertumbuk di batu karang, usah dipaksa untuk memecah; bawa dulu berkelok semoga ada jalan lain. Yang karang biar ‘lah karang, tetap berdiam di lautan; yang kapal kita tetap terus melaju untuk Indonesia yang lebih baik :)

Cimeeh Taba

Cimeeh atau cimees merupakan suatu karakter unik dari urang awak, nan kini telah mengalami pergeseran fungsi.

Sejatinya sebuah cimeeh itu bermakna positif terhadap objek yang dicemeeh. Sebagai bentuk kritisisasi agar objek tersebut menjadi lebih baik. Semakin tebal cimeeh yang diberikan, pertanda semakin besar pula perhatian subjek pencemeeh terhadap objeknya.

Memang bukan karakter urang awak pula untuk memuji sesuatu secara berlebihan, apalagi sampai menghamba pada yang dipuji. Padahal mungkin lepas dari itu, jika yang dipuji berputar roda akan dibiarkan terlindas begitu saja.

Yaa… cimeeh adalah bentuk sikap kritis terhadap sesuatu. Mungkin ada yang salah tak tampak di mata sendiri, cimeeh lah sebagai cermin yang membetulkan.

Kini cimeeh jarang bermakna kias, cimeeh yang diberikan lebih bermakna nyata, dengan bermaksud merendahkan sebenarnya yang dicemeeh. Cimeeh lebih mirip sirik daripada kritik.

Nagari Paru, Sijunjuang

http://apvalentine.students.uii.ac.id/menyelusuri-jejak-jejak-keajaiban-di-%E2%80%98%E2%80%9Dnagari-seribu-pesona-sijunjung/

Di Kabupaten Sijunjung (Sumatera Barat) ada sebuah daerah yang bernama Nagari Paru.

Penamaan tersebut tidak lah berlebihan, karena memang di sana masih banyak kawasan hijau dan hutan rimbun yang menjadi “paru-paru” untuk kawasan sekitar bahkan penyumbang untuk konservasi alam.

Di sana masih ada “Rimbo Larangan” yang menjadi perlintasan Inyiak Balang (sebutan untk harimau) yang selalu siap-siap untuk berebut durian runtuh (durian masak yang jatuh dari batangnya) dengan penduduk setempat.

Kadang sang Inyiak juga turut sata meminta japrem (jatah preman) pada penduduk sana yang sedang mencari ikan di Rimbo Larangan. Japremnya sederhana saja : seekor ikan.

Namun bukan berarti sang Inyiak semena-mena, jejak langkah yang dibuat sang Inyiak justru sering menjadi petunjuk jalan keluar bagi mereka yang tersesat di Rimbo Larangan.

***

Selain itu konon spesies Black Panther Sumatra juga masih ada di Rimbo Larangan ini. Meski secara fisik tidak se-gadang Inyiak Balang, namun kehadiran harimau hitam ini sering menjadi isyarat telah terjadi sesuatu di sekitar.

Semisal ada laki-bini (suami-istri) yang telah bercerai namun sang suami masih sering mendatangi jandanya tersebut (berselingkuh), maka harimau hitam akan memberi isyarat berupa auman yang melengking serta jejak langkahnya di tanah basah. Biasanya Manti Dubalang (sesepuh adat) akan segera menginvestigasi kaumnya tentang apa yang terjadi.

Konon harimau hitam tersebut ada di bagian Mudiak Mandi Angin, Hulu Mudiak Paru dan Gunuang Tongga dari Rimbo Larangan. Di Gunuang Tongga juga terdapat Ngalau (goa) sarang Urang Bunian (makhluk halus sejenis peri atau elf dalam mitos).

***

Ada pula pekikan Siamang (simpanse) pada malam hari dari Gunuang Payuang (masih di Rimbo Larangan), pertanda akan ada masalah terjadi di kampung sekitar. Pekikan Siamang dari Gunuang Halaman pada malam hari, pertanda akan ada orang yang meninggal. Pekikan Siamang dari Gunuang Pincuran, pertanda ada orang yang mati darah (tragis). Pekikan Siamang dari Gunuang Talago pada malam hari, pertanda ada orang yang mati muda.

Visit Sijunjung!!!

Santuang Pilalai

Santuang Pilalai adalah salah satu jenis magis hitam (black magic) yang melegenda di Ranah Minang.

Konon lelaki yang ditolak perasaannya oleh seorang wanita secara hina dan tersakiti, menggunakan Santuang Pilalai dengan tujuan agar wanita tersebut “indak balaki” alias tidak bersuami.

Berdasarkan terminologi dari Kamoes Bahasa Minangkabau – Bahasa Melajoe Riau, Balai Poestaka, Batavia, 1935 :
SANNTOEENG PILALAI — “ilmoe soepaja perempoean tiada bersoeami; ilmoe pelalai”.

Terjadinya ada-ada saja, bisa jadi ketika wanita itu sudah siap hendak menikah, tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba saja mendadak rencana batal atau sang wanita enggan untuk menikah.

Bisa juga ketika wanita itu hendak mencari jodoh, maka yang terjadi adalah “ada yang sang wanita suka, tapi pria yang disukai tidak mau; giliran ada pria yang mau, sang wanita pula yang tidak berkenan”.

Seperti jenis guyonan doa yang pernah beredar : “Ya Tuhan, jika dia bukan jodohku, maka jangan lah jodohkan dia dengan orang lain”.

Bisa juga sang wanita dibuat sibuk terbuai akan karir, pendidikan atau pekerjaan, sehingga lupa untuk berumahtangga.

Jika hal itu sudah terjadi, maka biasanya orang kampungh akan bergumam : “Mungkin lah kanai Santuang Pilalai” atau “Santuang Pilalai malakek di badan.”

***

Efek dari Santuang Pilalai mungkin berbeda dengan “Kanai Sijundai” (kena Sijundai). Jika seorang wanita disebut Kanai Sijundai maka dia akan meraung di tengah malam sambil memanjat-manjat dinding atau melata di atas lantai sambil meneriakkan nama lelaki yang mengirimkan magis tersebut.

Namun untuk penangkalnya tetap lah sama, mangkus dan mujarab. Intinya : “sejahat-jahatnya manusia hendak mencelakai, berdoa dan berlindung pada Yang Kuasa adalah sebaik-baik penangkal yang ada” :)

LOGE

Kata “LOGE” berarti “kecoh / kicuh / kicus / kibul”.

“Di-LOGE” berarti “dikecoh” alias “dikibulin”.

“Nak bujang ma-LOGE nak gadih” berarti “anak bujang sedang menggombal anak gadis”.

“LOGE” adalah kebohongan dalam konteks yang terpaut dengan janji-jani yang menarik, padahal kenyataannya tidak seperti itu.

Partai-partai atau calon pejabat yang dalam kampanye membual dengan seribu janji-janji ma…
nis, namun kenyataannya jauh panggang dari api, berarti mereka telah me-LOGE rakyat agar mendapatkan kursi atau suara.

Iklan sebuah produk atau klinik pengobatan yang melebay-lebaykan, bisa juga berarti mereka tengah me-LOGE pemirsa untuk mencoba produknya.

O iya… LOGE adalah salah satu kosakata Minang klasik yang sudah agak jarang digunakan. Setali tiga beruk dengan kata OTA (otar), KICUAH (kicuh), DUTO (dusta). Kalau BOHONG… haa itu iya lah bukan berasal dari bahasa Minang :D

~dR

Diplomasi Agus Salim, Dari Minang Merangkul Dunia

salim

Apa sebab Agus Salim sangat piawai berbicara dan berdiplomasi? Oleh sejarawan Mestika Zed, pertanyaan tersebut terjawab, bahwa kemahiran Agus Salim dalam mengolah kalimat tidak lepas dari asal tanah kelahirannya, yakni Minangkabau. Agus Salim, anak Melayu kelahiran Koto Gadang, Sumatra Barat, sangat menyadari bakat lahirnya sebagai putra daerah dari negeri kata-kata –julukan yang disematkan untuk Minangkabau.

Faktor geografis ranah Minang, lanjut Zed, menyuburkan pencarian gagasan dan cita-cita Agus Salim. Tradisi merantau melahirkan jiwa yang bebas, dinamis, dan kosmopolitis. Bahkan tradisi itu dapat ditemukan pada setiap tokoh asal Minangkabau, meskipun Agus Salim dianugerahi kelebihan khusus hal-ihwal wacana kata-kata (Kompas, 06 September 2004).

Agnes Aristiarini turut mengamini pendapat Mestika Zeid dengan berujar bahwa Agus Salim sebagai pewaris negeri kata-kata telah memanfaatkan mulut dan lidahnya untuk memperjuangkan nasib rakyat, nasib bangsa, nasib negara. “Ia adalah bapak bangsa dari negeri kata-kata,” tambah Agnes yang berprofesi sebagai jurnalis ini.

Budaya Minang yang melahirkan tradisi petatah-petitih umumnya tidak hanya bernilai seni retorika, tetapi juga latihan berpikir dan pengakumulasian pengetahuan lokal yang unik. Maka di Minang, mulut dan lidah menjadi amat berharga, tidak hanya berfungsi sekadar indra pengecap selera masakan -yang membuat berkembangnya aneka makanan khas Minang- melainkan lebih luas lagi, yaitu sebagai sebuah lembaga pemikiran (M. Nasruddin Anshoriy Ch & Djunaidi Tjakrawerdaya, 2008).

Agus Salim merupakan salah satu dari sederet tokoh bertaraf nasional kelahiran Minangkabau yang sukses menjejakkan nama dan jasa dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, khususnya pada era pergerakan nasional dan kemerdekaan. Bahkan, di antara tokoh-tokoh pergerakan nasional asal Sumatra Barat –termasuk Siti Roehana Koedoes yang juga lahir di Kotogadang, Tan Malaka (kelahiran Limapuluh Kota), Mohammad Jamin (Sawah Lunto), Mohammad Natsir (Alahan Panjang), Djamaluddin Adinegoro (Talawi), serta Mohammad Hatta dan Abdoel Moeis (keduanya dilahirkan di Bukittinggi), hingga Buya Hamka (kelahiran Maninjau)– Agus Salim layak ditabalkan sebagai guru bangsa bagi tokoh-tokoh tersebut , juga sebagai bapak bangsa bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sang begawan yang kerap diberi julukan the old fox karena kepiawaiannya bersilat lidah di dalam forum ini aktif bergerak merintis cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia sejak perjalanan dekade kedua abad ke-20. Pada medio itu, Agus Salim berjuang mengiringi sepak-terjang tokoh pergerakan terbesar rakyat Jawa, Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, sebagai dwi tunggal Sarekat Islam yang kala itu menjadi sebuah organisasi pergerakan rakyat Indonesia yang terbesar.
Menjelang kemerdekaan Indonesia, Agus Salim turut berperan aktif untuk mempersiapkan berdirinya sebuah negara baru yang berdaulat dan terpilih sebagai anggota Panitia 9 Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang bertugas menyusun rancangan Undang-Undang Dasar 1945.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dinyatakan Soekarno-Hatta di Jakarta pada 17 Agustus 1945, bukan berarti perjuangan telah berakhir, justru pada masa inilah perjuangan rakyat Indonesia memasuki masa-masa yang berat. Sebagai negara yang baru merdeka, Indonesia membutuhkan pengakuan dari negara-negara lain di dunia. Ketika para pejuang lainnya bahu-membahu mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman kembalinya Belanda, Agus Salim justru beringsut keluar mencari terang, mengambil jalan perjuangan yang tidak semua orang bisa melakukannya. Dengan tekad membara, kendati dengan kondisi finansial yang pas-pasan, bahwa kemerdekaan Indonesia harus dipertahankan dan diketahui dunia, Agus Salim dan rombongannya giat berkampanye ke dunia luar demi mendapat pengakuan atas kemerdekaan bangsa Indonesia dari bangsa-bangsa lain dengan perjuangan lewat jalur diplomasi.

Bapak Diplomasi Indonesia

Tanggal 10 Juni 1947, Agus Salim menorehkan kegemilangan bagi diri dan bangsanya, ia sukses menggaet Mesir untuk menjalin kekerabatan intim dengan Indonesia. Mesir memantapkan dukungannya terhadap kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia sebagai negara yang bukan lagi bagian dari kekuasaan kolonial. Di bawah guratan tanda tangan Agus Salim selaku wakil dari Indonesia dan Perdana Menteri Mesir Nokrasi Pasya, disepakatilah sebuah perjanjian persahabatan antara kedua negara yang termaktub hitam di atas putih.

Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya pada akhir Maret dan awal April 1947, Agus Salim sudah berada di New Delhi, India, sebagai penasehat delegasi kontingen Indonesia dalam Inter-Asian Relations Conference (Konferensi Hubungan Antar-Asia). Selama di Delhi, orang tua bertubuh kecil dan berjanggut putih ini mampu memikat hati rakyat India karena keaktifan dan kelincahannya.

Di India, Agus Salim yang kala itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, menjalin hubungan dan berdialog dengan para pemimpin India, baik yang tergabung dalam Indian National Congress seperti Jawaharlal Nehru, maupun tokoh-tokoh politik Indonesia semisal Muhammad Ali Jinnah dari All-India Moslem League. Di hadapan mereka, Agus Salim berbicara dan berorasi dengan sangat baik, sehingga membuat para tokoh India itu terkagum-kagum. Inilah upaya Agus Salim untuk menarik simpati dunia demi satu tujuan: dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia (M. Safrinal [ed.], 2006).

Setelah Mesir dan India jatuh ke pelukan, Agus Salim melanjutkan perjuangannya ke wilayah Asia yang lain, kali ini Timur Tengah yang dibidik. Dalam waktu yang relatif tidak begitu lama, bersepakatlah Liga Arab yang dimotori Saudi Arabia, Lebanon, Suriah, Yordania, serta Yaman, untuk mendukung berdirinya negara Republik Indonesia berkat uluran persahabatan dari Agus Salim.

Sejak lahirnya negara Republik Indonesia, Agus Salim memang telah mantap menempati posisinya dalam bidang hubungan luar negeri. Pada Kabinet Sjahrir II (1946) dan Kabinet III (1947), Agus Salim ditunjuk sebagai Menteri Muda Luar Negeri. Tidak lama kemudian, yakni pada era Kabinet Amir Sjarifuddin (1947), Agus Salim memegang peranan sebagai Menteri Luar Negeri. Pada kurun 1948-1949, Agus Salim kembali menjadi dipercaya untuk menjabat Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Hatta. Pada masa ini, Agus Salim berperan aktif dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) yang kemudian secara de jure mengakhiri perseteruan dengan Belanda. Tindak lanjut dari kesepakatan KMB ini pada akhirnya membuat Belanda harus menyerahkan dan mengakui kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949.

Setelah Indonesia benar-benar menjadi negara yang berdaulat, kepercayaan terhadap Agus Salim semakin kuat. Orang tua berjuluk the grand old man ini didaulat lagi untuk menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia pada Kabinet Presidentil. Selanjutnya, tahun 1950, Agus Salim didapuk untuk mengampu jabatan sebagai Penasehat Menteri Luar Negeri. Agus Salim menunaikan tugas ini hingga akhir hayatnya. Tokoh bangsa bernama asli Masyudul Haq ini menghembuskan nafas penghabisan pada 4 November 1954 di Jakarta.

Ahli Diplomasi Sejak Usia Dini

Sesungguhnya Agus Salim adalah pengusung tradisi diplomatik angkatan pertama dalam sejarah Indonesia. Karir diplomatiknya diawali dengan diangkatnya Agus Salim sebagai konsulat di Jeddah, Arab Saudi, pada kurun 1906-1911. Pengangkatan ini terwujud berkat rekomendasi ilmuwan dan ahli politik Hindia Belanda, Prof. Snouck Hurgronje. Agus Salim pernah mengungkapkan hal ini dalam suatu kesempatan, yakni pada 1953 ketika Agus Salim menyampaikan pidato di Cornell University, Amerika Serikat, sebagai dosen tamu. Berikut ini nukilan pengakuan Agus Salim dalam pidatonya tersebut:

“Ia (Snouck Hurgronje) nasihatkan aku agar tidak usah studi dokter ke Belanda. Sebaliknya, ia menawarkan gagasan yang menurut pendapatnya lebih baik. Maka pada suatu hari aku menerima surat dari kementerian luar negeri Belanda, yang juga ditanda-tangani oleh sekretaris Gubernur Jenderal, menawarkan kepada saya untuk masuk dinas luar Belanda, untuk menempati posisi di Jeddah, Saudi Arabia.

Ketika itu telah tahun 1905, padahal sejak saya lulus HBS tahun 1903, secara prinsip, saya menolak untuk menjadi pegawai pemerintah kolonial di negara saya sendiri! Ayah saya menjelaskan bahwa kini yang menawarkan pekerjaan bukan pemerintah Hindia Belanda, melainkan pemerintah Belanda langsung.” (Panitia Buku Peringatan, 1996).

Snouck Hurgronje, yang berperan vital sebagai peletak dasar politik Islam pemerintah kolonial Hindia Belanda, rupanya sudah sejak lama mengamati Agus Salim dan dengan terus terang menilainya sebagai intelektual muda yang cerdas, mempunyai pikiran yang tajam, dan keberanian yang luar biasa untuk ukuran orang Melayu (Republika, 27 Oktober 2001). Kecemerlangan Agus Salim memang sudah terlihat sejak dini, dia menjadi lulusan terbaik Hogeere Burger School (HBS), sekolah menengah untuk kalangan Eropa dan Bumiputera yang dipersamakan, se-Hindia Belanda. Prestasi yang dicapai Agus Salim sempat membuat R.A. Kartini kagum dan kemudian menganjurkan kepada pemerintah Hindia Belanda agar beasiswa yang disediakan baginya diberikan saja kepada Agus Salim, karena Kartini sendiri tidak dapat mempergunakannya karena di waktu yang sama, ia harus segera menikah (Deliar Noer, http://www.republika.co.id)

Meskipun demikian, harapan Agus Salim muda untuk mendapatkan beasiswa sekolah kedokteran di Belanda kandas karena dia seorang pribumi. Pemerintah kolonial Hindia Belanda merespon permohonan Agus Salim dengan jawaban: tiada beasiswa untuk inlander. Pada waktu itulah datang tawaran dari Snouck Hurgronje untuk menempati posisi sebagai konsulat di Jeddah, dan momen inilah yang sebenarnya merupakan awal kiprah Agus Salim dalam bidang diplomasi.

Selain tentu saja pengalamannya menjadi konsulat di Jeddah, sebagai sang pemula tradisi diplomasi pribumi, kecakapan dan ketangguhan Salim dalam urusan debat dan negoisasi ternyata sudah teruji di masa-masa sebelumnya. Pada tahun 1927, Agus Salim sudah hadir pada Muktamar Alam Islami di Mekkah dan sempat berdialog panjang dengan penguasa Saudi Arabia yang terkesan atas cita-cita Agus Salim dalam upaya menyadarkan rakyat Indonesia agar terbebas dari cengkeraman bangsa asing.

Hasil dari interaksi ini Agus Salim memperoleh dana untuk menerbitkan surat kabar Fadjar Asia, terbit tahun 1927 hingga 1930. Fadjar Asia adalah koran yang diterbitkan Agus Salim bersama Tjokroaminoto sebagai media pembela kepentingan rakyat yang tertindas akibat kebijakan pemerintah kolonial (Muhidin M. Dahlan [ed.], 2007). Di sinilah duet dwi tunggal Sarekat Islam, Tjokroaminoto-Agus Salim, berharmonisasi saling melengkapi: Tjokroaminoto menjadi “raja” di Jawa, sedangkan Agus Salim melebarkan sayap untuk go internasional dengan menghadiri berbagai acara di mancanegara.

Tak hanya itu, pada 1929-1930, Himpunan Serikat Buruh Belanda yang bermarkas di Amsterdam, mengangkat Agus Salim sebagai penasehat penuh mereka untuk menghadiri event Konferensi Buruh Sedunia (ILO) di Jenewa, Swiss. Di sinilah Agus Salim berbicara lantang kepada semesta raya tentang kekejian pemerintah kolonial Belanda terhadap bangsa Indonesia. Mata dunia terbelalak mendengar kecaman Agus Salim yang diserukan fasih dengan bahasa Belanda, Inggris, Jerman, serta Prancis itu. Akibat dari gugatan Agus Salim di forum internasional tersebut, pemerintah kolonial Hindia Belanda terpaksa harus mengubah politik kolonialismenya karena semenjak itu, Amerika Serikat dan sebagian negara-negara Eropa tidak mau lagi membeli hasil perkebunan Hindia Belanda yang dianggap sebagai hasil kekejaman Belanda terhadap rakyat Indonesia.

Dari pengalaman-pengalaman berbicara di tingkat internasional itulah wawasan serta talenta bertutur Agus Salim terus mengalami kemajuan. Pengetahuannya tentang tata cara diplomasi sama rincinya dengan pemahamannya tentang Islam, Al-Qur’an, dan Hadits. Agus Salim mulai membangun citranya sebagai penggagas tradisi diplomasi yang kelak sangat berguna bagi negara Indonesia untuk mempertegas jatidiri sebagai bangsa yang merdeka. Dengan modal pengalaman dan jam terbang yang panjang dalam riwayat pergerakan nasional, jejak-langkah Agus Salim semakin terlihat jelas yang kemudian menabalkan perannya sebagai Bapak Bangsa yang ikut menyangga rusuk tegaknya Republik Indonesia (Safrinal [ed.], 2006).

Bapak Bangsa Bagi Para Tokoh Bangsa

Agus Salim memang ulung dalam urusan mengolah kata. Ia dikenal sebagai singa podium di dalam kancah perpolitikan di era pergerakan nasional. Agus Salim adalah penguasa arena debat, raja adu mulut, dengan perkataannya yang lugas, berisi, dan tidak jarang bernada sensasional. Sindiran berbalut humor yang dilontarkan Agus Salim sangat tajam dan mengena sehingga membuat sasarannya tidak bisa berkutik.

Tokoh terkemuka asal Belanda, Prof. Schermerhorn, mengakui kecemerlangan intelektual Agus Salim. Seperti yang
dikutip sejarawan Asvi Warman Adam dalam artikelnya, Schermerhorn pernah berujar, “Orang tua yang sangat pandai ini seorang jenius dalam bidang bahasa, mampu berbicara dan menulis dengan sempurna dalam paling sedikit sembilan bahasa, mempunyai hanya satu kelemahan, yaitu selama hidupnya melarat.” (Asvi Warman Adam, Kompas, 21 Agustus 2004).

Agus Salim adalah seorang agamis yang berpikiran luas lagi moderat. Sejarawan kelahiran Sumatra Barat, Taufik Abdullah, menyebut gerakan politik Agus Salim dengan nama “politik jalan melingkar”. Gaya politik seperti ini, sebut Taufik Abdullah, identik dengan manuver yang elastis namun efektif. Metode awal gerakan Agus Salim cenderung kooperatif, akan tetapi kemudian menjadi agak radikal, sebelum kemudian kembali melunak lagi. Ciri aksi “politik jalan melingkar” ini dilakukan Agus Salim karena pergaulannya yang sangat luas.

Agus Salim dekat dengan segala kalangan, bahkan dengan kelompok orang Belanda sekalipun. Lama menggauli kebiasaan Belanda membuat Agus Salim tidak pernah minder berinteraksi dengan bangsa yang mengklaim dirinya ras paling unggul itu, juga pada bangsa asing lainnya. Dengan menguasai banyak bahasa, Agus Salim mewujud menjadi seorang diplomat ulung. Tutur katanya yang khas itu senantiasa membawa keberhasilan dalam setiap misi diplomasi yang diemban Agus Salim (Panitia Buku Peringatan, 1996).

Peran Agus Salim sebagai bapak bangsa Indonesia tidak terbantahkan lagi. Tidak terhitung orang-orang besar yang menyanjung empunya orang besar ini. “The Grand Old Man Haji Agus Salim adalah seorang ulama dan intelek. Saya pernah meneguk air yang diberikan oleh Haji Agus Salim, sambil duduk ngelesot di bawah kakinya,” demikian Sukarno mengakui kebesaran gurunya itu.

Puja-puji senada juga disematkan para tokoh bangsa lainnya kepada Agus Salim. “Sikapnya yang tangkas itu memberikan garam dalam ucapannya. Biasanya terdapat dalam perdebatan atau tulisan yang menangkis serangan lawan atau dalam pertukaran pikiran yang berisikan lelucon. Di situlah terdapat apa yang dikatakan orang dalam bahasa Belanda: Salim op zijn best,” sanjung Mohammad Hatta terhadap seniornya itu (Panitia Buku Peringatan, 1996).

Buya Hamka mengalungkan segenap rasa takjub terhadap Agus Salim. Sastrawan, ulama, sekaligus aktivis politik, ini mengatakan, “Bila kita membicarakan manusia Agus Salim, kita teringat seorang pujangga, seorang filosof, seorang wartawan, seorang orator, seorang politikus, seorang pemimpin rakyat, seorang ulama. Jarang-jarang Tuhan memberikan manusia semacam itu ke dalam alam ini, apalagi kepada suatu bangsa.”

Paus sastra Indonesia, H.B. Jassin, tidak mau ketinggalan dan angkat topi terhadap pemikiran Agus Salim, “Dia ternyata tidak hanya membaca buku-buku politik dan agama saja, melainkan juga buku-buku sastra dan filsafat. Adalah aneh, seorang tokoh agama seperti dia menyenangi buku-buku Nietzsche, filsuf Jerman yang dianggap atheis itu.”

Tokoh-tokoh nasional era sekarang pun menyematkan kekaguman senada terhadap keistimewaan Agus Salim yang melegenda itu, termasuk Ahmad Syafii Ma’arif, yang juga putra daerah Sumatra Barat. “Agus Salim adalah pembela yang gigih terhadap sistem sosialisme plus Tuhan. Tetapi Salim menyadari betapa terbelakangnya pemikiran para ulama dalam menghadapi masalah-masalah besar sebagai realitas zaman yang berubah dengan cepat,” tutur mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini.

Emil Salim, yang masih terhitung kerabat Agus Salim, merangkaikan kata-kata sebagai berikut, “Haji Agus Salim menempatkan perjuangan kemerdekaaan dan pembetukan negara dalam kerangka pengabdian dan ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.” Pengusaha media nasional, Jakob Oetama, turut melafalkan puji, “Agus Salim dan para bapak bangsa lainnya unggul dalam pemikiran dan kecendekiawanan.”

Dari kalangan cendekiawan muda, Moeslim Abdurrahman bersuara, “Agus Salim adalah sumur intelektualitas dan kearifan yang pernah kita miliki, tetapi sayangnya sering kita lupakan. Intelektualitas Agus Salim telah dibuktikan lahir bukan dari spekulasi akademis, tetapi dari bagian lahirnya bangsa ini.”(Agus Salim, 2008). Terakhir, politikus sekaligus budayawan, Ridwan Saidi, menyimpulkan, “Ia (Agus Salim) adalah tokoh nasional yang memiliki secara sempurna kemampuan berpikir, memimpin, menulis, sekaligus berbicara.” (Republika, 21 Oktober 2001).

Dengan demikian jelaslah sudah, Agus Salim merupakan gurunya kaum guru, pemimpinnya para pemimpin, serta bapak negaranya kalangan negarawan. Agus Salim adalah putra kebanggaan Melayu yang dengan sadar merintis dan mengajarkan tradisi diplomasi demi tegaknya nama Indonesia di lingkungan peradaban dunia. Dari ranah Minang, Agus Salim merangkul alam raya.

Iswara N. Raditya, Redaktur Sejarah http://www.MelayuOnline.com, Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, Tinggal di Yogyakarta.

Referensi:

Agus Salim. 2008. Tentang Perang, Jihad, dan Pluralisme. Jakarta: Gramedia.

Asvi Warman Adam. “Agus Salim Manusia Merdeka”, dalam Kompas, 21 Agustus 2004.

Darwin Bahar. “Koto Gadang, Tiap Rumah Ada Sarjana”, dalam Republika, 27 Oktober 2001.

Deliar Noer. “Haji Agus Salim dan Kekuatan Politik Islam”, dalam Republika, 27 Oktober 2001.

M. Nasruddin Anshoriy Ch & Djunaidi Tjakrawerdaya. 2008. Rekam Jejak Dokter Pejuang dan Pelopor Kebangkitan Nasional. Yogyakarta: PT LKiS Pelangi Aksara.

M. Safrinal. 2006. Sang Guru: Peta Ringkas Hubungan Guru-Murid di Pelbagai Tradisi. Yogyakarta: Ekspresibuku.

M. Zein Hassan. 1980. Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri; Perjoangan Pemuda/Mahasiswa Indonesia di Timur Tengah. Jakarta: Bulan Bintang.

Muhidin M. Dahlan (ed.). 2007. Seabad Pers Kebangsaan. Jakarta: Iboekoe.

Panitia Buku Peringatan. 1996. 100 tahun Haji Agus Salim. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Sumber Foto: http://wiwapia.com/id/AR_Baswedan

Kesadaran Global dalam Tradisi Minangkabau

bulan

“Ketika mendarat di bulan dengan Apollo 11, Neil Amstrong terkejut karena di sana ternyata telah berdiri Rumah Makan Padang. Begitulah sebuah anekdot yang menggambarkan bagaimana orang Minangkabau mengglobal (mendunia). Tidak hanya dalam hal merantau, namun juga dalam perkembangan tradisi dan budaya yang tak lepas dari pengaruh akibat berinteraksi dengan orang luar.”

Dalam tradisi Minangkabau seringkali dijumpai kesadaran akan bangsa-bangsa asing dan suku-suku lainnya di Nusantara. Sejak dahulu nenek moyang kita pernah bergaul dengan bangsa-bangsa asing seperti India, Cina, Arab, Portugis, Inggris, Belanda dan Jepang.

Dalam berbagai kaba, pantun dan pepatah kita bisa membaca ungkapan-ungkapan seperti marantau Cino (merantau Cina), bak Cino karam (seperti Cina karam), banua Ruhum (benua Ruum), banua Arab (benua Arab), rajo sipatoka (seperti dalam lirik lagu Sayang Sipatokahan), Ulando mintak tanah (Belanda minta tanah), urang kaliang mati makan (orang keling – India.red, mati makan), dari Japun handak ka Japun (dari Jepang hendak ke Jepang), harimau Campo (harimau Campa – Kamboja.red) dan kuciang Siam (kucing Siam – Thailand.red).

Pergaulan dan perantauan yang luas juga direfleksikan dalam tradisi Minangkabau yang berulang-ulang menyebut tentang sarawa Aceh (celana Aceh), kapa dari Aceh (kapal dari Aceh), karih jawo (keris Jawa), rajo jawo (raja Jawa), timbakau jawo (tembakau Jawa), kain bugih (kain Bugis), antaro Bamban jo Malako (antara Bamban – Filipina.red?!, dan Malaka), rajo Bantan (raja Banten?!), rajo Malako (raja Malaka), rajo Deli (raja Deli – nama daerah di Sumatera Utara), sambah Malayu (sembah Melayu), balam Jambi (balam – sejenis unggas, Jambi), Bangkahulu pasanyo langang (Bengkulu pasarnya lengang – sepi.red), rajo Langkat (raja Langkat), banta dahulu banta Kuantan (bantal dahulu bantal Kuantan) dan sebagainya.

***

Dalam kosakata Minangkabau sehari-hari, bekas-bekas pengaruh asing itu masih melekat.

Jika kita bicara tentang raso (rasa), nagari (negeri), budi, rajo (raja), guru, kuaso (kuasa), bedo (beda), gampo (gempa) dan sansaro (sengsara) kita sudah menggunakan kosakata Sanskerta, sebagaimana nama-nama daerah seperti Biaro (Biara) – nama daerah di Kabupaten Agam; Ganggo (Gangga) – nama daerah di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat; Indopuro (Inderapura) – nama daerah di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Kata-kata seperti marapulai (sebutan pengantin laki-laki di Minangkabau), kolam, sate dan bagai merupakan bahasa Tamil.

Menyebut tentang adia (adil), jaleh (jelas), padiah (pedih), bagak (berani), adaik (adat), alam, paham dan ilmu diambil dari bahasa Arab. Pengaruh Arab juga dapat dilihat pada nama-nama daerah semacam Aia Haji (Air Haji) – nama daerah di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat dan Sungai Laban – nama daerah di Kabupaten Pariaman, Sumatera Barat.

Menggunakan kata-kata sapatu (sepatu), lamari (lemari), kameja (kemeja) dan roda secara tak sadar membawa perbendaharaan kata Portugis.

Adapun perai (free), gratis, ban, selang (bukan selang = pinjam.red), oto (mobil) dan kopleng (kopling) dipinjam dari bahasa Belanda.

Kata-kata deta (destar) dan pasa (pasar) diambil dari Persia.

Kue, nona, toke (pengusaha pedagang barang), toge dan contoh diambil dari kosakata Cina.

Selain penggunaan tarompa japang (sendal Jepang – sendal jepit.red) yang meluas ada juga nama daerah Jopang Mangganti (Jepang Mengganti) – nama daerah di Kabupaten 50 Koto, Sumatera Barat.

Belum lagi penggunaan kosakata Inggris yang semakin meningkat dalam bahasa Minangkabau kontemporer.

***

Benda-benda yang dikenal orang-orang Minangkabau zaman dulu sampai sekarang tak sedikit yang merupakan hasil interaksi dengan bangsa-bangsa asing.

Senjata-senjata seperti sulo dan godo (dalam contoh kalimat : “den godo kapalo ang beko“) merupakan pelafalan Minangkabau dari (tri)sula dan gada yang dikenal di India.

Minum kopi (kawa – kawa daun, jenis minuman yang sedang nge-trend di daerah Batusangka saat ini) merupakan komoditi Arab sebelum dibawa ke Eropa lalu ke Minangkabau. Pengaruh Arab juga terasa dalam pakaian seperti jubah, kopiah dan konstruksi tempat ibadah tentunya.

Jarum, teh dan kacapi kemungkinan dipengaruhi oleh Cina. Silek (silat) juga boleh jadi pengaruh India dan Cina.

Pakaian marapulai, yakni roki, oleh banyak kalangan disebut sebagai dipengaruhi pakaian khas lelaki Portugis zaman dulu.

Senjata api seperti badia (bedil) dan meriam tak lepas dari pengaruh Barat.

Tanam-tanaman seperti kol, wortel, tomat, kantang (kentang) dan buncih (bundics) diperkenalkan oleh orang Belanda ke Minangkabau.

Belum lagi teknologi modern dalam bidang otomotif, konstruksi, mebel dan sebagainya yang berkembang dari zaman ke zaman.

***

Dari sekian banyak peristiwa penting dalam sejarah Minangkabau, pengaruh-pengaruh asing seringkali memainkan peran. Berdirinya kerajaan Pagaruyung dan gagasan-gagasan adat masa lalu terbukti menunjukkan pengaruh India.

Perkenalan dan dakwah intensif Islam oleh kaum Syattariah ke pesisir dan Darek Minangkabau menunjukkan pengaruh Arab dan India sekaligus (karena tarekat Syattariah paling menyebar di India pada masa lampau). Perang Paderi tak terlepas dari reformasi keagamaan yang terjadi di dunia Arab pada waktu yang sama, baik oleh kalangan neosufisme seperti Naqsbandiah-Mujaddidiyah dan Sanusiyah maupun puritanisme seperti kaum Wahabi.

Dalam hal perdagangan, sedikit banyak orang-orang Minangkabau belajar dari bangsa Cina yang memang sudah lama ada di Sumatera Barat.

Dan sejak masa Belanda, kita pun mengenal paham-paham dan institusi-institusi modern yang datang dari Barat seperti nasionalisme, sosialisme, komunisme, emansipasi, kemajuan, organisasi, koperasi, bank dan sebagainya.

***

Beragamnya pengaruh yang masuk merupakan salah satu faktor yang di masa lalu memicu kreativitas orang-orang Minangkabau. Interaksi dengan bangsa lain memicu kesadaran pada nenek moyang kita bahwa mereka memiliki kekurangan-kekurangan internal dan peradaban-peradaban luar lebih unggul dalam banyak hal. Kesadaran ini mendorong untuk belajar dari bangsa-bangsa asing dan bahkan merantau menuntut ilmu sampai ke negeri-negeri mereka, sampai jauh ke India, Hijaz dan Eropa. Kekaguman dan pengakuan akan kelebihan-kelebihan bangsa-bangsa lainnya membuat orang-orang Minangkabau zaman dulu bisa belajar secara cerdas dengan memanfaatkan semuanya untuk kepentingan alam Minangkabau sendiri, meskipun ada kasus-kasus di mana pengaruh-pengaruh asing justru berbalik merusak tatanan tradisional.

Salah satu sebab kemunduran tradisi dan adat di Sumatera Barat adalah juga karena pengaruh asing. Sampai pada awal abad keduapuluh, pengaruh-pengaruh asing yang beraneka ragam dapat dikombinasikan relatif harmonis sehingga norma-norma tradisional masih berpengaruh kuat. Kemudian, secara perlahan kemampuan tradisi untuk bertahan semakin kurang dan daya akomodasi tak terakselerasikan dengan modernisasi dan globalisasi yang berjalan cepat. Proses pelucutan nilai-nilai tradisional Minangkabau sebenarnya sudah berjalan signifikan sejak Belanda menguasai Sumatera Barat di abad 19, yakni dengan menukar sistem hukum, pemerintahan dan ekonomi di Minangkabau menurut gagasan-gagasan Eropa.

***

Pertanyaannya sekarang, apakah ada harapan mengembalikan kreativitas orang-orang Minangkabau dengan memanfaatkan sumber-sumber eksternal? Barangkali, kita perlu mengoreksi diri dan mengontrol pemahaman kita atas kemajuan zaman. Seringkali, norma-norma dan tradisi sendiri secara sadar atau tidak ditindas demi kepentingan kemajuan. Kita perlu belajar dari Jepang yang memiliki kombinasi unik dalam mengembangkan teknologi modern seraya mempertahankan nilai-nilai tradisi dengan semangat yang hebat. Kita juga perlu belajar dari Eropa yang meminimalisir pemborosan energi dengan menggalakkan penggunaan sepeda dan perbaikan sarana transportasi terutama kereta api. Tak lupa kita butuh belajar dari Cina, Turki dan India yang memiliki kemajuan ekonomi pesat dalam tahun-tahun terakhir dan meningkatkan penggunaan barang-barang buatan sendiri.

Yang paling penting adalah kemampuan untuk membedakan pengaruh-pengaruh yang bersifat positif dan negatif. Kemampuan ini akan tercapai jika kebanggaan dan pengetahuan akan tradisi sendiri tertanam kuat serta pemahaman akan pengaruh yang datang dimatangkan. Pendidikan yang berkualitas dan terfokus dalam segala aspek (tradisi, sains, bahasa asing dan agama) adalah kuncinya.

***

Catatan:
Dimuat dalam harian Singgalang pada Minggu 2 Januari 2011

http://novelmusda.blogdetik.com/2011/05/12/kesadaran-global-dalam-tradisi-minangkabau/

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.