Posted on April 28, 2009 by da Revan
Saya Berjanji Tidak Akan Tertawa
Hendrik menemui dokter spesialis kelamin. Katanya, “Dok, saya punya masalah, tapi Dokter harus janji dulu untuk tidak tertawa nanti yah?”
“Tenang, saya janji tidak akan tertawa, itu melanggar sumpah kedokteranku”, jawab dokter bersahaja.
Hendrik langsung menurunkan celananya, “anu”nya ternyata kecil sekali, mungkin diameternya hanya sebesar pensil staedler 2B.
Melihat barang yang hanya [...]
Filed under: Garah Jadi Carito | 2 Comments »
Posted on April 28, 2009 by da Revan
Posted on April 28, 2009 by da Revan
1. Ada adegan menampar pacar yang dikira selingkuh / istri yang selingkuh padahal cuma ketemu teman, terus menyewa orang untuk menyelidiki.
2. Ada menangisnya (kayaknya hampir semua film ada deh), tapi di sinetron Indonesia hal ini paling mendominasi di setiap episode (biar masuk nominasi pemeran nangis terbaik versi FFI).
3. Banyak sekali yang mengajarkan balas dendam (kayak [...]
Filed under: Garah Jadi Carito | Leave a Comment »
Posted on April 28, 2009 by da Revan
Printer saya ngalami gangguan, hasil cetakannya bergaris-garis. Saya kemudian segera nelpon tempat service, yang nerima telpon seorang laki-laki.
Saya pun bercerita bahwa saya ada masalah dengan printer dan berencana untuk membawanya ke tempat service tersebut. Begitu mendengar cerita saya, kemudian si petugas ini merespon dengan hal yang tak saya duga.
Si petugas ini menganjurkan agar saya tak [...]
Filed under: Garah Jadi Carito | Leave a Comment »
Posted on April 28, 2009 by da Revan
Tak dapat dipungkiri kehidupan kita akan selalu berhadapan dengan orang lain, disadari atau tidak di setiap waktu, di setiap jam, di setiap kesempatan pasti hidup kita selalu dibantu oleh pihak lain. Coba deh renungkan ada tak sesuatu hal yang kita bisa kerjakan sendiri tanpa perlu bantuan orang lain sedikit pun, ayo ada tak?
Terima Kasih – [...]
Filed under: Binatang Jalang | Leave a Comment »
Posted on April 27, 2009 by da Revan
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/25/0326331/malu.aku.jadi.dokter.indonesia
Rumah (Yang) Sakit
Resep dokter ditulis tak rasional, lebih banyak pasien berobat kalau punya uang saja, komersialisasi layanan medik yang dirasakan tak manusiawi. Itulah potret layanan medik yang dibaca dengan kacamata bukan orang medik. Saya ingin mengulasnya dari kacamata pekerja medik.
***
Membangun di hulu
Untuk menguak mengapa layanan medik kita meresahkan masyarakat, tugas dan kewajiban pekerja medik kita [...]
Filed under: Garah Jadi Carito | Leave a Comment »
Posted on April 23, 2009 by da Revan
Hohohoo … akhirnya kampuang ambo tapiliah menjadi icon pariwisata Sumatera Barat di tahun 2009. Mari kita sukseskan …
The Tour de Singkarak 2009 is the biggest bicycle race in Indonesia that will cover more than 459 kilometers through beautiful cities and lakes in West Sumatera. Running from Wednesday, April 29th to Sunday, May [...]
Filed under: Alam Takambang Jadi Guru | Leave a Comment »
Posted on April 22, 2009 by da Revan
Belaian suara di telinga
Halus menekan tanpa rasa
Jauh menembus batas sukma
Nan sedang dilanda lara
Terkurung diri dalam asa
Nan tak pernah ada di mata
Yakinkan diri untuk terus mencoba
Walau sia-sia
Cerita cinta kita berdua
Tak pernah lepas dari hati ini
Senyummu, tawamu, dan candamu
Masih terlukis indah dan tak mau berlalu dari ingatanku
Hari-hari ceria telah berlalu
Indah tercatat di benakku
Biarkan itu jadi memori
Antara kau [...]
Filed under: Binatang Jalang | Leave a Comment »
Posted on April 22, 2009 by da Revan
Biarkan kucoba melupakan bayanganmu
Untuk hilangkan semua penat yang selalu mengganggu
Biarkan kucoba meyakini jalanku
Yang selama ini kau buat membeku
Keinginan yang kau mau dariku
Takkan mungkin dapat mengejar mimpiku
Lupakan semua cerita kita
Yang dulu pernah terjalin indah
Biarkan menghilang ditelan waktu
Tak akan kuingat lagi
Kini ku akan mulai menentukan arahku
Langkah pasti tuk mewujudkan anganku
Bias pelangi setia tuntun kakiku
Usah mimpi kau coba [...]
Filed under: Badan Diri | Leave a Comment »
Posted on April 22, 2009 by da Revan
Bisik sang bayu menerpa nirwana
Menatap sedih sedih seorang pujangga
Dengan sejuta bait puisi cinta
Bicara tanpa arah yang nyata
Terombang-ambing bagai rakit di lautan
Terbakar panas lalu tersiram hujan
Tatap matanya dengan penuh rasa
Ingin mencinta dan dicinta
Namun galau hati yang tak terkendali
Saat kau melangkah tanpa kata
Senyum manis yang telah kau beri hanyalah ilusi
Harap yang kau jalani hanya fiksi tak berarti
Oh, [...]
Filed under: Binatang Jalang | Leave a Comment »