Sekali Berarti, Sudah Itu Mati

Ada yang menarik dari kolom Humaniora Teroka harian Kompas hari ini. Sastrawan asal Jogja, Marwanto menulis konon, penetapan 28 April – tanggal wafatnya Penyair Angkatan ’45, Chairil Anwar – sebagai Hari Puisi Nasional masih menjadi perdebatan. Lebih jauh ia menulis, jasa terpenting Chairil Anwar adalah pendobrakan terhadap bahasa ungkap penyair sebelumnya (baca : Pujangga Baru). [...]

Gadis-Gadisnya Binatang Jalang dan Sang Demonstran

Bayangkan, kawan! Seorang lelaki kurus dengan mata merah, liar, selalu datang dengan tangan satunya mengapit buku! Itulah Chairil Anwar! Anehnya, mungkin juga karena wajah indonya barangkali, banyak pula gadis-gadis memujanya. Padahal matanya merah karena kurang tidur, kurang tidur karena semalaman bisa melahap satu buku yang dibawanya itu, bajunya lusuh komprang, dan tubuh kurus dekil jarang [...]

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.