Kosakata Minang Klasik

caliah

Ulasan dari kata-kata berikut hamba ambil dari palanta uda Yusrizal KW: http://yusrizalkw.wordpress.com

1. Caliah
Caliah adalah banyak alasan dan pandai mengada-ada, serta mengatakan yang tidak sebenarnya agar terlihat baik. Seorang pancaliah biasanya pandai berkata-kata, bermimik pun diupayakan terlihat seakan-akan pancaran dari hatinya yang jujur dan apa adanya.

2. Galemeang
Jika diterjemahkan secara bebas, galemeang berarti: sedikit sekali, sangat kecil, belum apa-apa, seujung kuku atau secuil.

3. Kapere
Kapere berarti dalam keadaan prihatin, susah baik materi maupun perasaan. Orang yang sedang dalam kondisi seperti itu disebut takapere. Kalau dipikir-pikir, sekilas hampir mirip dengan kata KERE, meski pun kere lebih bermakna harta dan materi.

4. Barangin
Barangin ternyata sama dengan kurang waras, tidak bisa jadi pegangan, suka asyik dengan diri dan pikiran sendiri. Barangin boleh juga sebutan orang yang nekat, suka diasung, tidak punya rasa malu, tidak pernah pakai etika di mana pun dia berada. “Padia lah paja barangin mah… (biarin aja dia orang berangin tuh)”

5. Lindang
Lindang berarti tidak bersisa sama sekali, hilang lenyap habis tandas parak sipadas. Bak pepatah mengatakan, “dalam terang ingatlah lindangmu“.

6. Ladah
Kata ladah memiliki arti sama dengan camar, kotor, kumuh, jorok. Lebih luas kata ladah bisa ditujukan untuk mengatakan keadaan, ucapan maupun perilaku.
*) Lingkungan ladah artinya tercemar seperti knalpot kendaraan menyesakkan dada, sungai bersampah, saluran got mampet, orang buang sampah sembarangan, perokok sesuka hati menghembuskan asapnya dari mulut.
*) Si mulut ladah, ungkapan yang barangkali cocok untuk orang yang suka bercarut, berkata kotor dan suka ngeres. Istilah urang awak, muncuangnyo ka kida sajo. Kalau tak bercarut, tak senang hatinya. Terasa ada yang kurang dalam hidupnya pada hari itu.

7. Kumayah
Diberi modal untuk berdagang, sudah disewakan pula toko, hasilnya mengecewakan. Kadang toko itu buka, kadang tutup, akhirnya bangkrut. Bapaknya bilang, “Anak kumayah ang mah!”. Ketika kepada ayahnya dia minta diberi uang untuk ikut kursus teknisi komputer, hasilnya tetap tidak memadai. Hanya bisa mengetik yang sebelumnya dia sudah bisa. Ketika disuruh memperbaiki atau menginstal ulang, ia bilang belum bisa. Ternyata dia sering tidak ikut pelajaran praktik di tempat kursus. Ketika bapaknya kebetulan bertemu dengan guru kursusnya, dapat pula kesimpulan, anaknya itu memang kumayah.
Kata kumayah bisa berarti payah, tidak serius, setengah hati, baik dalam mendengarkan pelajaran, mengerjakan sesuatu atau menunaikan sesuatu yang diniatkan sebelumnya. Kata kumayah lebih parah dari CAYAH, cayah lebih kepada kebiasaan tetapi dapat diubah dengan niat dan usaha, sedangkan kumayah tidak.

8. Kacapuang
Kacapuang berarti rasa canggu(a)ng tetapi dalam kondisi yang tak lazim. Takacapuang bisa juga dideskripsikan sebagai suasana hati yang semula ramai, mungkin karena banyak tamu atau saudara ketika alek gadang (pesta besar) diadakan, ketika tiba saatnya mereka pamit dan pergi ke rumah masing-masing lantaran acara usai, detik-detik awal sepeninggal mereka itulah yang kurang lebih bisa disebut sebagai rasa terkacapuang. Kalau bahasa 6@uL anak Padang disebut malangang.

9. Ngaek
Kata ngaek digunakan untuk penegasan tindakan atau perilaku yang berlebihan. Kata basingaek dalam komentar atau ucapan orang Minang untuk menanggapi sesuatu yang di berlebihan, tetapi cenderung sebagai anggapan kurang baik. Misalnya untuk orang yang makannya banyak, orang tambah dua dia enam, sementara ada yang belum kebagian tambah, maka orang itu kadang dibilang, “Ondeh… indak basingaek makannyo, indak diagaknyo orang lain”. Kalau kata Bung Rhoma… sungguh TER-LA-LU!!!

10. Tagah

Dipatah indah tapatah
Dikarek juo malah nan jadi
Ditagah indak tatagah
Dilapeh juo malah nan jadi

Pantun klasik diatas menjelaskan kata tagah sama dengan cegah atau larang.

11. Takah
Kata takah berarti seperti, seolah-olah, mirip, serupa atau seroman. Kata manakah berhubungan dengan kepantasan atau kecocokan dengan seseorang atau sesuatu. “Indak manakah waang babaju saroman itu doh… (tidak pantas kamu berpakaian seperti itu)”

12. Solang
Solang, disolang, menyolang punya arti bantah, dibantah atau membantah. Dalam kehidupan, solang merupakan bumbu penyedap yang kadang sekaligus obat untuk ego yang sakit. Tak jarang pula racun untuk hati yang tak cerdas, karena melihat hal demikian sebagai pelecehan.

13. Sipongang
Sipongang adalah pantulan bunyi atau suara. Ketika kita berada di antara dinding bukit, lalu berteriak “hoi”, kita pun serta merta akan mendengar “hoi”. Ada suara kembali, gaung balik lantun. Kalau kita memekik agak panjang, misalnya “hoiiiiii…”, maka seketika seakan kita mendapat ucapan yang sama “hoiiiiii…”. Istilah Akustik-nya: echo.

14. Sipi

Kerja keras, kadang hasilnya sipi

Tidak tepat sasaran kadang bisa juga disebut sipi. Keuntungan yang di bawah target dalam berdagang, berarti juga hasil yang sipi. Kalau menembak (cewek??) tidak tepat benar pada target utama, hanya tepinya saja yang kena, ya itulah sipi—menyipi atau menyerempet doang.

15. Sepah
Menjadi sepah adalah simbol keterbuangan, tak berguna karena sudah menjelma selaku ampas. Lebih perih lagi ketika seseorang meninggalkan kita lantaran kita tak punya apa-apa lagi, karena yang menjadi apa-apa sudah dihisap habis sampai ke dasar sarinya hingga tandas. Yang paling bisa didendangkan dalam ratap, kalau sudah begitu jadinya ya habis manis sepah dibuang. Sepah adalah konotasi dari ampas yang air atau sarinya telah kering dihisap atau ditelan sarinya setelah dikunyah-kunyah.

16. Sasau
Kata sasau yang juga merupakan kata lain dari sosoh. Kata sasau juga boleh dilemparkan kepada seorang ayah misalnya yang tega memerkosa anaknya, baik kandung atau tiri. Sasau sebuah kata dengan imaji yang cenderung muram dan menjengkelkan, kata tersebut bisa memiliki energi yang bentuknya menjelma kejengkelan, misalnya “Jatah teman diembat juga, sasau benarlah sama kamu!”
Sasau atau sosoh bisa juga diartikan sebagai suatu yang di luar batas kewajaran. Kalau ada orang yang bilang, dia dalam bekerja suka mayosoh atau manyasau, maka itu artinya orang yang bekerja tanpa mempertimbangkan kesehatan badan, menguras tenaga untuk suatu yang di luar energi yang ada di dalam dirinya. Sasau atau sosoh, kadang keluarnya cenderung beriring maki dari mulut seseorang. Dia bisa menjadi bagian ungkapan marah, sindiran atau penghinaan. Kadang kalau ada yang bilang kita makan manyosoh saja, sama artinya seperti hewan, tak tengok kiri-kanan, tak berbasa-basi sedikit pun.

17. Sabana
Orang Minang menyebut sabana sebagai sesungguhnya, betul-betul, yang sebenarnya. Kata sabana untuk menegaskan terhadap realita atau peristiwa atau sesuatu yang telah terjadi dan terbukti, juga bisa berupa pengakuan atau penekanan. Misalnya: sabana padeh (betul-betul pedas), sabana bodoh (betul-betul bodoh), sabana rancak (bagus banget atau cantiknya luar biasa), sabana busuk (teramat busuk), sabana licik (sangat licik), sabana kikir (pelit banget), sabana pendusta (suka/sangat berdusta), dan banyak lainnya.

18. Perai (dialek Pariaman: peghai)
Perai itu gratis, gratis itu perai, pokoknya gak bayar. Semakin besar nilai perainya, semakin besar pula kepuasan dalam diri :p
Dalam kehidupan sehari-hari kita, ingin perai adalah manusiawi. Tetapi ketika ada hal-hal yang harus bayar, ya bayar. Jangan tersinggung pula kalau selama ini teman menggratiskan kita, tahu-tahu untuk yang akan datang dia minta bayar. Perai itu makin bermakna bagi kebanyakan orang ketika yang lain bayar. Maka tak jarang ada yang sombong ketika di banyak hal ia sering perai, bahkan menjadi suatu kehormatan. Kalau tidak boleh perai, orang tipe ini mati-matian mencari akal bagaimana supaya bisa perai. Bahkan pakai jual nama orang penting atau kekuasaan.

19. Pasai
Pasai berarti jemu, bosan atau puas tetapi dalam konotasi negatif. Sesuatu yang tak mengalami perubahan sedikit pun, lambat laun akan menimbulkan kepasaian. Tidak berselera lagi melihat ubi karena hampir lima tahun setiap pagi makan ubi rebus, berarti “pasai”. Terlalu acap disakiti kemudian melawan dan membogem seseorang hingga babak belur, berarti pelaku sudah pasai dizalimi. Punya teman yang sering dinasehati untuk berhenti berjudi tapi tak pernah didengar, ketika tertangkap dan dipenjara maka kata yang keluar bisa begini: “Sudah pasai kita menasehati, sekarang coba benarlah kandang situmbin itu….”

20. Paringgo
Tanda-tanda sesuatu akan rusak, pecah, patah atau sampai ajalnya, oleh orang Minang disebut paringgo. Lebih sederhananya, paringgo itu adalah terjemahan dari “perhinggaan”, sudah bisa diketahui “sampai dimananya”, sudah terbaca atau terasa tanda-tanda hal buruk akan terjadi. Asumsi pada kata “paringgo” lebih kepada derita atau sesuatu yang sesungguhnya tidak diinginkan. Kalau kita mau beli mobil, ada yang mengingatkan “janganlah… sudah baparinggo” artinya: mobil yang akan dibeli sudah sering rusak.
Kalau setiap hari laki-bini bertengkar, sering terjadi kekerasan dalam rumah tangga, bisa pula dikatakan kesuami-istrian mereka sedang berparinggo. Di partai kalau setiap anggotanya suka menggunting dalam lipatan, menohok kawan separtai, sering berebut pengaruh, antar anggota partai saling menjelekkan, seperti menyimpan api dalam sekam, partai ini sudah “baparinggo“.

21. Pai
Pai sama dengan pergi.

*) Menuju tempat baru: pai!
*) Meninggalkan suatu tempat karena alas an tertentu, mungkin mencari pencerahan baru: pai!
*) Karena hilangnya kenyamanan, merasa tak dihormati dalam lingkungan, keluarga atau komunitas tertentu, maka “pai” merupakan jawaban.
*) Karena malu merasa orang sudah tahu belang kita, kemudian risih sendiri lalu menjadi “pai”.

Kita orang Minang, punya kata pai; pergi karena memang hidup itu memiliki hakikat berpindah, hijrah ke suatu tempat yang menjanjikan perbaikan. Rantau juga tempat pai untuk menjadi lebih bermakna. Hidup di dunia ini selalu menawarkan stasiun-stasiun, untuk pai ke tempat baru atau ke tempat yang berkali-kali membuat kita kembali, karena di dalamnya ada hakikat pulang.
Ada orang yang pai diam-diam, tanpa butuh lambaian atau peluk cium sebagai kehangatan, bahwa pai bukan perpisahan. Pai adalah harapan, dimana seseorang atau kelompok tertentu memburu harapan, mengejar impian dengan kata: aku akan pergi untuk kembali. Pai adalah untuk menanamkan rindu bagi yang ditinggalkan atau penegasan benci antara yang meninggalkan dengan yang ditinggalkan — saling meninggalkan. Pai juga berarti menemui-Nya, berpulang ke rahmatullah… :)

22. Opok
Ketika kita menemukan kata “opok” dalam bahasa Minang, dalam kehidupan sebagai manusia, berarti sanjung, sanjungan. Diopok berarti disanjung, maopok = menyanjung, opok-opok berarti sanjung-sanjungan.
Disanjung siapa sih yang tak suka? Sanjungan yang benar adalah penghormatan yang baik atas sesuatu yang dilakukan atau diperlihatkan dengan “benar” dan “baik” pula. Karena itu memerlukan keikhlasan dan akal sehat untuk menyampaikannya, tapi kadang kita mendapatkannya dalam bentuk dan logika yang sebaliknya.
Mental suka maopok bisa terjadi pada siapa saja dan lupa diri karena O2 (opok-opok) juga bisa melanda siapa saja. Parahnya lagi pemimpin kita rindunya diopok saja, alamat badan akan sengsara. Ombak sudah besar, badai sedang mengancam, O2 juga yang diminta. Karamlah kita!
Opok kadang melesat untuk menyanjung sehingga kita terbuai. Dalam buai seakan seseorang datang menyembelih kita tanpa darah menetes. Kadang opok diberikan untuk pertemanan yang dijaga dalam koridor, tidak saling bergandengan dengan hati tapi bertautan dalam kepentingan. Dan tiba-tiba kita merenung sejenak: opok ini untuk apa, ya Tuhan!

23. Ongeh
Ongeh atau ongas berarti : angkah, angkuh, bangang, bangak, bonseng, burakah, kapoak, gudangga, pongah, sombong, dan lain sebagainya. Walau banyak padanan kata ongeh, tetapi untuk menyebut seseorang tak tahu diri, sok, pongah dan angkuh, hanya kata “ongeh” yang terasa menikam. “Ongeh bana paja tu (angkuh betul dia itu)” atau, “bia se lah urang ongeh tu, indak ado urang nan namuah bakawan jo inyo (biar sajalah orang tak tak tahu diri itu, tidak ada orang yang mau berteman dengan dia)”.

24. Ojok
Indak tantu “ojok”, orang Minang pernah dengar itu, “Ojok” artinya tujuan. Indak tantu ojok sama dengan tak tahu tujuan. Tak jelas mau kemana, tak tahu mau melakukan apa. Ojok adalah arah, kepastian kemana kita melangkah. Kejelasan mau melakukan apa dan ingin mendapatkan apa, serta apa yang harus dicapai dengan jelas dan terukur.
Banyak orang tak tahu ojok. Hilir mudik kian kemari. Pergi pagi pulang malam, tak tahu apa yang dilakukan. Bekerja pun tidak, kuliah pun tak. Pokoknya dia pergi ke mana dia suka, pulang bila penat terasa, lalu di rumah pun tak melakukan apa-apa karena ojoknya tak ada.

25. Nereh
Nereh, kata ini mudah-mudahan kita pernah dengar. Orang Minang sering menyebut sanereh atau indak sanereh. Sanereh artinya bagus, terpuji, tertib atau disesuaikan konteks dengan kata yang sepadan.

Indak sanereh saketek alah juo. Awak sadang makan, nyo takantuik, busuak pulo tu (Tidak beretika sedikit pun, kita makan, dia terkentut, busuk pula lagi…,)” kata seseorang, mengekspresikan kedongkolannya terhadap orang yang tidak beretika. Senereh juga bisa berarti etika, atau bermakna perbuatan terpuji.

Ada pula orangtua kita bilang, banyak anak gadih kini indak sanereh bapakaian. Ketiak nampak, pusar tersembul, paho tasibak, bapakaian ketat, menyiratkan lekak-lekuk tubuh. Kemudian orangtuanya kena sindir atau gunjing. Kalau dia berpakaian indak sanereh dari rumahnya, berarti orangtuanya ikut tidak sanereh.
Nereh, kata ini, membuat kita patut merenung (tak mau merenung dalam hidup, bisa juga disebut semacam kurang sanereh pada evaluasi diri).

26. Lenjang
Kata lenjang mungkin juga bagi sebagian pembaca yang orang Minang, tentu sudah jarang atau hampir tak terdengar orang menyebut atau mengatakannya dalam pergaulan atau kehidupan sehari-hari. Lenjang berarti sikap atau gerak yang tak tetap; tidak merasa puas dengan apa yang sedang di tangan. Misalnya, suka pindah kerja ke sana ke mari. Kalau merantau pun demikian, pindah dari satu tempat ke tempat lain, karena semua dirasa akan enak menjanjikan. Tetapi hasilnya semua nol. Gagal karena tak berketetapan hati dan tujuan.
Raso-raso ka lamak (rasa-rasa akan enak), begitulah, setidaknya kata “lenjang” bisa kita maknai. Seseorang yang tak fokus, kurang berpendirian, lenjang saja dia. Orang “lenjang” memang secara sepintas kita merasakan seperti orang yang senantiasa ingin merasakan sesuatu yang baru, menyukai tantangan baru. Oke saja kalau berhasil, bisa mencerahkan dan dijadikan inspirasi bagi orang lain. Tapi konotasi kata “lenjang” sesungguhnya memburamkan citra seseorang. Karena ia merupakan sebuah gambaran orang yang tidak memiliki sikap, komitmen. Contoh yang diberikan : dia berbini banyak atau berganti laki, karena kurang puas. Ia merantau ke berbagai tempat, bukan karena menurutnya ada prospek, tetapi karena dia melihat ada orang atau temannya sukses di tempat itu. Di rantau A rasanya bakalan sukses, tetapi ketika melihat orang di rantau C berhasil, ia pun pindah ke rantau C. Begitu seterusnya sehingga ia cenderung dikatakan “lenjang”, raso-raso ka lai (rasa-rasanya kan sukses pula).
Kata lenjang ketika menjadi bawaan diri, perangai, maka orang tersebut susah dijadikan panutan, tak mungkinlah dia kita percayakan jadi pemimpin. Kalau dia akan jadi calon suami, menantu kita, pikir-pikirlah dulu baik buruknya. Sebab, kalau dia lenjang, kerja pun suka pindah-pindah, kadang hatinya pun suka pindah-pindah: ingin menambah bini, dengan pertimbangan rasa-rasanya akan lebih asyik kalau bini dua orang, kemudian tiga atau empat jika mampu.
Lenjang adalah kata yang juga berarti, ketidakmampuan untuk meyakinkan diri pada pilihan, cepat berubah pikiran, meninggalkan sesuatu yang telah dibangun (sesungguhnya) dengan baik, untuk memulai yang baru dengan harapan yang sama dengan sebelum-sebelumnya, dengan hasil yang umumnya gagal. Lenjang adalah perangai yang disandang seseorang karena rapuhnya diri, kaburnya eksistensi, menggodanya “rumput tetangga yang katanya lebih indah” itu. Lenjang adalah jalan seorang yang di pikirannya banyak sekali jalan bersimpang, sehingga setiap simpang harus ditempuhnya karena menyimpan kemungkinan yang menurutnya indah, walau akhirnya dia tahu jurang untuk kalah!

27. Lapeh

Oi oi… ayam den lapeh

Lapeh berarti lepas atau bebas. Orang Minang menyebut “lapeh” (lepas) untuk menjelaskan banyak hal, dalam konteks makna tertentu. Yang berkait dengan ayam saja, kita akan mendengar “lapeh ayam” dan “lapeh-lapeh ayam”. Walau sama pakai kata lapeh dan ayam, arti keduanya ternyata bisa berbeda. Lapeh ayam berarti dilepas begitu saja, tanpa diberi bekal apa pun. Kadang ada pula seorang suami sembari seloroh berkata kepada temannya, “Tadi di rumah lapeh ayam se nyo…. Pergi cari lontong kita yuk.” Berarti dia tidak sarapan atau ngopi, bisa jadi istrinya tidak sempat menghidang atau memang tabiat istrinya suka membiarkan tanpa hidangan pagi. Sang suami oke-oke saja, bak ayam dibukakan kandangnya, langsung pergi berkeliaran sendiri. Kalau lapeh-lapeh ayam lain pula ceritanya. Kita belum dipercaya sepenuhnya, begitu kurang lebih maksudnya. Belum dibiarkan jalan sendiri atau masih dalam pengawasan.
Lapeh salero artinya melepas selera, untuk kenikmatan lidah. Makanya, kalau ada orang diam-diam pergi makan ke tempat yang enak, tidak mengajak teman dekat, pas ketahuan maka sindirannya, “Pergi melepas selera sembunyi-sembunyi pula…..” Lepas selera bisa juga diartikan sebagai upaya mencari kenikmatan, lalu merasakannya dengan senang.
Nah kalau ada orang berteriak sambil menahan kesal, sudah lepas kijang ke rimba, tentulah ini yang dikatakan kiasan itu sebagai hilangnya kesempatan. Orang sudah berperang sejak pagi, peluang ada tapi lengah, akhirnya diambil orang.
Nah kalau orang yang suka “lepas tangan” berarti orang yang tidak mau bertanggungjawab.

Kata lepas sesungguhnya bermakna bebas, tidak ada yang mengikat dan merupakan wujud dari lain dari keleluasaan. Kelepasan artinya sesuatu yang tidak sengaja, mungkin karena abai atau khilaf. Orang lepas, berarti orang yang tidak ingin jadi pegawai negeri, diikat oleh aturan perusahaan swasta masuk dan keluar dengan disiplin tertentu yang menurutnya kaku. Tapi orang lepas kadang bisa juga dinilai sebagai manusia tanpa kepastian.
Lepas dengan hati berarti lepas di sini mengemban amanah ketulusan. Lepas itu adalah doa, makanya di Minang kadang sering kita dengar ungkapan, dilapeh jo hati nan janiah (dilepas dengan hati yang jernih). Maknanya mendalam. Bisa jadi diantar pergi dengan doa dan harapan, semoga kelak menimbulkan rindu, untuk datang membawa senyum yang lepas, tak ada keraguan bahwa hidup adalah kebebasan yang indah.
Tapi lain pula halnya kalau ada orangtua berkata, “alu ado nan lapeh lai (belum ada yang lepas lagi), ini berarti bisa anaknya belum bekerja atau berkeluarga, masih di bawah tanggungan kedua orangtua. Tetapi bagi yang anaknya sudah bekerja atau berkeluarga, dia bisa saja berkata agak lapang sedikit : Anak-anak alah lapeh (anak-anak sudah lepas).

28. Kasa
Kalau kita alihkan ke bahasa Indonesia, kasa itu sama dengan kasar. Kasa bisa dilekatkan oleh sifat atau pembawaan orang yang tidak suka lemah lembut, cara pikir negatif sering terasa ketika dia bicara, memaki dan mengomeli atau mengomentari orang. Orang pangasa (suka kasar), memang sulit mendapat teman atau tim kerja yang hangat. Sebab orang yang mau sama dia, betul-betul sabar, maklum atau kasihan dengannya. Kata “kasa” bagi orang Minang, kadang terungkap sekaligus sebagai ukuran sejauh mana orang menyukai kita atau secara sosial kepatutan diri kita sebagai individu yang layak dihargai. Kalau orang sudah menarik ujung bibirnya, rada sinis, “E paja tu, maleh den mah. Pangasa. Mukonyo managang sajo, indak tabiaso senyum (E dia, malas saya ah. Suka bersikap kasar. Wajahnya menegang saja, tidak terbiaso senyum).”

29. Kalibuik
Kata “kalibuik” berasal dari bahasa Minang Tempo Doeloe, “kalibuik” atau “cabuh” memiliki arti yang sama yaitu amuk, haru-biru, huru-hara, chaos, kecabuahan, kegemparan, kehebohan, kekacauan, keonaran, keributan, kerusuhan, prahara.

30. Kalencong
Kalencong artinya tidak tepat sasaran, bisa juga disebut sebagai menyimpang. Orang Minang tentu kenal kata ini, kalencong sama dengan kencong, tidak pas. Lain gatal lain pula yang digaruk. Orang ngantuk diberi tongkat, orang buta diberi bantal, kalencong juga namanya. Artinya tidak tepat pada titik sasaran.
Seorang teman baru terpilih jadi ketua organisasi. Ketika dia kesulitan dan berkendala menunaikan amanah yang diberikan kepadanya, ia mengeluh “sebenarnya saya tidak mau jadi ketua, tapi teman-teman meminta saya juga!” Ketua kalencong namanya itu yang juga dipilih oleh orang kalencong. Jelas dia tidak mau tapi dipaksa juga dipilih. Jelas kita mengaku tidak mau tapi mau juga untuk dipilih.

Mangalencong artinya menyimpang dari ketentuan. Ketika kita menemukan kata “menyimpang”, maka kita bisa bertemu dengan istilah seks menyimpang, yang juga boleh disebut seks mangalencong. Ketika kita bersua dengan seorang suami berselingkuh dengan istri orang atau anak gadis orang, untuk suami kita sebut laki kalencong, untuk perempuan kita sebut perempuan atau bini kalencong. Ketika kita dimintai pendapat tentang suami dan istri kalencong tadi, lalu kita anggap itu sebagai hal wajar di zaman kini, itu nama jawabannya “kalencong”.
Kalencong berbeda dengan variasi, karena variasi memiliki arah dan tujuan yang sama dengan cara berbeda. Orang yang suka ngomong mangalencong kadang disebut juga manggalembong!

31. Janiah
Orang Minang menyebut kata jernih adalah janiah. Kalau bertemu dengan air janiah, bening pula rasa hati, bersih pula pikiran dikira-kira. Air jernih sebagaimana hati atau pikiran jernih, dibutuhkan untuk kehidupan yang lebih baik. Karena itu aie (air) janiah, jika ia diminum kala ia mengalir yang ditawarkannya adalah kesejukan—kenyamanan. Setiap orang memandang ingin meminum untuk pelepas dahaga. Jika ia wajah seseorang, merasa mendapatkan pancaran hati yang bercahaya.
Ada rangkaian kata-kata, keruh minta dijaniahkan, kusut minta diselesaikan. Dari kalimat itu kita mendapatkan makna mencari solusi, jalan keluar dari kungkungan masalah. Tentu kalau kita berfokus pada “minta dijaniahkan”, kita dihela ke arah penyelesaian, bukan makin berendam di air keruh masalah.
Muko (wajah) nan janiah merupakan wujud dari hati yang bening. Hanya orang yang selalu iklas dan bersyukur, berpikir positif, yang hanya bisa memancarkan wajah bercahaya bening. Mereka yang seakan-akan iklas, seakan-akan bersyukur, tentu pancaran wajahnya juga seakan-akan jernih. Untuk memahami, percaya atau tidak muka jernih hati jernih itu ada, dibutuhkan pula cara sehat berpikir jernih. Kalau tidak, air keruh kian memperkeruh hal yang sudah keruh.
Bapikia (berpikir) janiah bisa tergerakkan kalau hati yang mendukung dalam keadaan jernih. Bukankah hati merupakan mata air sehingga mempengaruhi pikiran? Atau pikiran jelmaan mata hati sehingga ia positif, hatinya jadi jernih. Kalau hati dan pikiran kita janiah, tentu hidup yang kita jalani akan terasa lebih indah. Tetapi ketika ada teman nyeletuk sembari berkata, “Bagaimana bisa jernih hati dan pikiran kalau uang di saku tak ada, beras yang akan ditanak sudah habis, kebutuhan serba mahal….” Nah yang nyeletuk barusan, cara berpikirnya yang belum jernih. Karena orang yang berpikir jernih, akan mudah mendapatkan jalan keluar untuk membuat hati dan pikirannya tenang. Dalam tenang (suasana janiah), seseorang bisa menemukan ide atau memenangkan pertempuran, terutama melawan “hantu” dalam diri.

32. Ikik
Pernah dengar kata “ikik”? Dulu anak-anak mengucapkan dia lebih unggul, lewat selangkah, lebih tinggi atau berada di depan di antara yang lainnya, menyebutnya sebagai ikik. Saya ikik dari kamu, berarti dia menang. Kalau masa kanak-kanak kita ada namanya main “ikik-ikikan”, artinya, bisa tentang permainan siapa paling jauh lemparannya, paling tinggi lompatannya, paling dulu larinya. Jelas ikik adalah kata untuk memaparkan sesuatu yang jelas, tak bisa dinafikan, keberadaan keunggulan, kemenangan atau keduluan maupun ketinggiannya dibanding yang lain.
Kalau ada pemilihan langsung ketua RW di komplek kita, salah seorang yang dikatakan menang, karena suaranya lebih tinggi dibanding lawannya. Begitu juga caleg-caleg yang gambar dan balihonya nampang dimana-mana saat ini, tak lain untuk meraih suara terbanyak, karena yang paling ikik dialah yang akan duduk—dinyatakan menang.
Kalau ada orang tanding layang-layang, itu artinya lomba mana yang ikik mencucuk ke langit. Layang-layang dimainkan, benang diulur ke arah langit, nanti dinilai pandang oleh tim juri, dan siapa yang paling ikik dalam kriteria yang ditentukan, maka dialah pemenang.
Kata ikik merupakan (pula) kata pembanding. Kalau pertanyaannya, mana ikik pangkat menantu si Anu dengan menantu si Ani? Kalau kedua-duanya sama-sama direktur di perusahaan berbeda, maka jawabannya: podo. Sama. Nah dasar orang kita kadang ingin tampak paling ikik, maka penilaian ikiknya diperlebar. Sama-sama direktur oke, tapi mana besar perusahaan menantu si Anu dengan si Ani? Beginilah adanya, selalu orang hendak mencerminkan dirinya paling ikik.

Kata ikik, terkesan sebagai kata untuk mengukur sebuah permainan. Di dalamnya ada makna yang bisa kita tuai, bahwa kosa kata Minang ini: ikik, sudah jarang digunakan orang, apalagi generasi terkini. Karena apa? Sudah banyak kata pengganti yang sepadan, “ikik” dari kata ikik itu sendiri. Tetapi kata ikik tentulah kata yang menarik, jika masih ada kelompok tertentu orang Minang yang menggunakannya. Berharap mengapresiasi bahasa Minang, di tengah keluarga orang Minang yang telah mentradisi berbahasa Indonesia di rumah dan dalam komunikasi harian dengan ayah, ibu anak dan adik-kakak dalam bahasa Indonesia, kata “ikik” mungkin mati tercekik. Kita hanya, mungkin bisa bertanya ke orang tua-tua dulu atau buka kamus bahasa Minang, “ikik” itu apa?

33. Galiang
“Galiang’ hampir tak bersua dalam percakapan sehari-hari orang Minang saat ini. Kata galiang artinya adalah kurang memiliki keberanian menghadapi suatu tantangan; ragu menghadapi risiko; seakan-akan bakal celaka, seolah-olah selalu dalam ancaman gawat, padahal mungkin tidak sedemikian betul mencekamnya bayangan itu. Kata ini sepadan juga dengan “anggau”. Suatu perasaan dimana kita merasa tidak nyaman atau berdebar ketika akan atau sedang menghadapi sesuatu. Belum bertempur kita sudah yakin “pasti kalah”.
Kalau punya teman panggaliang, jangan ajak dia melakukan sesuatu yang berisiko. Orang panggaliang, ingin yang nyaman-nyaman saja. Pekerjaan yang diberikan kepadanya, tanpa risiko dan jika melakukan kesalahan, tak perlu ada sanksi. Penamaan panggaliang ke diri seseorang, di Minang ini, kurang lebih sama dengan “sang pencemas’. Banyak hal yang membuatnya cemas dalam melakukan sesuatu dalam hidup ini.
Beda lagi kalau ada orang “galiang” ke bini. Kasihan kita padanya, dia tak bisa membantah kata dan keinginan istrinya. Handphone di tangan adalah remote kontrol sang istri. Di luar rumah jagoan di dalam rumah: perintahlah daku kau kupatuhi, bagimu tak ada kata tidak, paling kurang kalimat “Perintah Mama, Papa usahain ya…, tapi jangan marah kalau nggak berhasil….”

Rasa “galiang” sesungguhnya, manusiawi. Kita perlu memiliki pernah dan punya rasa ‘galiang”. Setidaknya hal ini membuat kita tergerak mencari kenyamanan, menenangkan diri untuk kemudian, galiang menjadi tak galiang.

Galiang karena pikiran positif juga banyak. Ketika kita diberi jabatan tambahan di kantor, sementara jabatan yang sudah di tangan kita belum maksimal, waktu yang tersedia terasa menyempit, kita pun menolak. “Galiang saya, Pak. Nanti kecewa, terlalu banyak yang saya tangani, hasilnya bisa serba tak maksimal….”
Galiang yang paling mencekam adalah, ketika kita satu sama lain saling curiga. Saling ingin menikam dan menjatuhkan. Maka setiap detak jantung kita, seakan menyuarakan alangkah seramnya kecemasan itu. Galiang adalah suatu imajinasi, dimana kita terkurung dalam jeruji pikiran dan rasa takut yang melilit hati, sehingga peluh dingin kita juga bisa berupa, bagai tidur yang selalu memelihara mimpi buruk.

34. Gagik
Gagik artinya sama dengan kagok, canggung, kikuk atau teragu-ragu. Kata gagik satu dua orang masih sering kita dengar di Ranah Minang ini. Walau saat ini sangat sekali-kali kita mendapatkan orang memanfaatkan kata gagik untuk mengatakan “kagok”, “kikuk”, “canggung” atau merasa tak leluasa karena adanya “suatu hambatan”.

Gagik kadang hal-hal yang tidak kita harapkan, dia datang serta merta dengan suasana tertentu. Dia bisa saja canggung karena sudah lama tak bertemu dengan karib, sanak saudara atau perasaan “lain” ketika bertemu mantan pacar. Gagik adalah ketika ingin memakai moto katakanlah yang benar itu sekalipun pahit diucapkan dan didengar, tetapi ketika diucapkan yang tersampaikan adalah sesuatu yang benar-benar pahit untuk dikenang akal sehat dan hatinurani. Karena ketika bibir tergerak, mulut bergerak, kalimat yang keluar “Semoga kita baik-baik saja. Bagaimana kabarnya keluarga?”

Gagik juga adalah ketika kita merasa ingkar janji, lalu bertemu dengan seseorang yang kita janjikan sesuatu. Kita kikuk berupaya mencari alasan. Gagik juga kadang kesadaran diri yang tiba-tiba meyakini bahwa kita telah melakukan kesalahan dengan seseorang beberapa hari lalu, ketika bertemu kita salah tingkah sebelum leluasa mengatakan, “Maafkan saya beberapa hari lalu!” Gagik juga berdiri khusyuk menegakkan benang basah, sembari diam-diam hati kita berkata, semoga Tuhan mengampuni saya dan benang ini bisa tegak. Ketika benang tak juga bisa ditegakkan sebagaimana kebenaran, ketika itu kita bertanya pada diri dari rasa gagik hidup yang terhingga ini, adakah kita gagik kepada-Nya oleh apa yang kita lakoni sebagai kehidupan ini? Untuk menjawabnya kita pun gagik!

35. Esoh
Dalam Kamus Lengkap Bahasa Minang, “esoh” memiliki arti sama dengan singgung atau gesek. Tentu kata “esoh” akan terartikan atau termaknai sesuai dengan konteks kalimat. Misalnya sudah diesohkan pula tangannya yang berminyak itu ke alas meja, artinya esoh bisa sebagai “dilapkan” atau “disapukan”.
Ketika kita bersirobok kata esoh, hal lain yang terpesankan mesti hati-hati, jangan sampai ada orang yang oleh pikiran atau sikap kita, tergesek. Kalau teresoh (tergesek), tentu akan meninggalkan jejak, gores, yang membuat pikiran orang lain tak nyaman. Ibaratnya begini: mobil kita parkir di pinggir jalan. Lewat mobil lain terus taesoh dinding mobil kita sama dia. Ketika kita minta pertanggungjawabannya, dia malah memaki kita. Tidak berkata baik-baik bagaimana penyelesaiannya. Hal demikian yang taesoh (tersinggung/tergesek), bukan mobil kita saja tapi juga perasaan kita.
Tapi ada pula kelakar, dia suka maesoh-esohkan badannya ke perempuan di keramaian atau di atas bus kota yang padat. Itu artinya gesekan berahi, yang jika ketahuan bisa kena maki atau tampar oleh orang yang bersangkutan. Tapi ada pula istilah nakal anak muda kini di tepi laut saling maesoh badan. Makna ini walau kadang terasa dipaksakan, tetapi tentu bisa kita padankan dengan senyum sebagai kenakalan sindiran. Karena itu kalau dipaksakan “esoh-esohan” tersebut, tentulah gesekan maksiat.

Ya… masih ada hari esoh -_-

36. Dampuang
Dampuang adalah perasaan kuatir. Kecemasan yang mengendap dalam hati. Was-was begitulah arti lain dampuang. Badampuang merasakan tidak enak dalam hati, debar jantung tak karuan dan darah seakan tidak mengalir dengan benar. Dalam badampuang, makan kadang tidak enak, tidur bisa saja tidak nyenyak, serta raut muka menyiratkan ada ketertekanan psikologis dalam diri kita.
Ketika kita dihoyak gempa, berkali-kali gempa susulan yang skalanya kadang terbilang besar yang kita rasakan kemudian adalah was-was. Badampuang kalau-kalau akan ada gempa lebih besar terjadi, tsunami mengancam kita. Badampuang bisa pula dikarenakan isu yang macam-macam. Bisa pula oleh keyakinan yang buruk, tidak cerdas pada diri kita. Misalnya ketika kita bertengkar dengan seorang yang tidak pernah shalat, malas mandi, lalu seseorang mengatakan kepada kita, bahwa lawan bertengkar kita adalah dukun ilmu hitam, bisa santet, memasukkan jarum atau silet ke dalam perut musuh atau orang yang dibencinya, termasuk juga bisa membuat orang gila dan lari telanjang. Karena kita kurang iman, informasi tentang dukun ilmu hitam membuat kita badampuang. Keder. Anggau. Jangan-jangan benar dia akan “mengerjakan” kita dengan pertolongan jin.
Badampuang bisa ketika atasan kita diperiksa kejaksaan karena kasus dugaan korupsi. Bukan apa-apa. Lantaran misalnya kita ikut dijatahi uang korupsi, ikut menandatangani beberapa kwitansi mark-up, mulai dari yang kosong melompong sampai terang benderang kita ikutan. Walau kasusnya sesungguhunya tidak atau belum berkait dengan apa yang kita lakukan. Tapi perasaan “mana tahu” merembet ke kita, lalu kita cemas, was-was inilah yang berdampuang itu.
Ketika kita badampuang, sesungguhnya kita tengah menghidupi imajinasi buruk dalam kepala kita. Merasa cemas atau was-was, sebenarnya karena ada yang tengah berbunga di pikiran kita, tentang suatu gambaran yang terasa terdeskripsi dengan apik. Kalau badampuang karena takut gempa, bayangannya adalah mulai dari pengalaman melihat korban gempa di televisi hingga yang lebih parah lagi di imajinasi kita. Kalau badampuang karena takut terlibat korupsi, badampuangnya adalah membayangkan penjara, nama baik, keluarga bertangisan karena malu, lalu kamera wartawan berikut berita headline tentang kita. Tapi waktu kita melakukannya badampuang sih ada, tapi tak seburuk setelah melakukannya. Kalau kita badampuang di ketinggian gedung melihat ke bawah, yang terbayang betapa remuknya dan hancurnya kepala dan tulang kita kalau meluncur ke bawah.
Badampaung itu manusiawi. Perasaan kuatir akan sesuatu yang akan menimpa, menimbulkan dampuang dan bermuatan pesan moril maupun pesan psikologis. Bahwa hidup membutuhkan kenyamanan, ketenangan dimana hati kita tenteram tidur kita nyenyak sehingga bisa berpikir sehat dan positif. Karena ada dampuang karena itu pula ada yang merasa diperingati, untuk tidak melakukan atau menghindari hal-hal yang menyebabkan dampuang.
Dampuang juga merupakan suasana, dimana seseorang sedang mengalami kelelahan hati dan pikiran. Kadarnya ada yang kecil, menengah dan besar. Kadar dampuang dikarenakan penyebab dan prediksi akibat atau sesuatu yang telah terpastikan. Karena itu, ada seseorang yang sedang “berdampuang” masih bisa tersenyum atau menghibur diri dengan hal yang disukainya. Juga ada yang tidak bisa dihibur atau dialih-alihkan ingatan was-wasnya ke hal yang memungkinkan merasa bahagia. Karena itu dampuang bisa beranak stres. Ketegangan yang mencekam diri.
Nah untuk itu, badampuang adalah salah satu sisi penting dalam hidup. Di baliknya ada pesan, badampuang-dampuang dalam hati, pertanda hidup membutuhkan lagu penyejuk dan pikiran.

37. Cuciang
Menurut Kamus Minangkabau Indonesia, cuciang berarti jujur, bersih. Kata “cuciang”, bagi generasi Minangkabau terkini, nyaris tidak pernah terdengar. Sangat sedikit sekali, untuk mengatakan “anak jujur” dengan ucapan “anak cuciang”. Jujur ya jujur atau sesekali luruih—lurus.
Kejujuran kata banyak orang, di zaman sekarang ini mahal harganya. Cuciang—bersih dari segala yang manipulatif: anti ciluah, curang dan menohok kawan sairiang, dalam keseharian kita masih sangat dirindukan. Walau kadang, entah setan mana pula yang menyusup, tahu-tahu di suatu ketika kita merasa resah sendiri, karena ternyata kita pun kadang menjalani hidup ini dengan tidak cuciang.
Kata cuciang begitu sarit kita dengar atau disebut orang di Ranah Minang ini, seakan menandakan arti dan makna dari kata tersebut untuk dilakoni dalam kehidupan kita juga.

38. Coga
Kalau bertemu dengan kawan lama, dia menyalami kita sembari berkata: “Makin coga saja kawan sekarang nampaknya”, berarti ia mengutarakan hal yang positif maknanya. Coga dalam bahasa Minang sama artinya dengan gagah, sejahtera, banyak rezeki. Secara sosial statusnya dinilai di atas oleh masyarakat lingkungannya atau tampak lebih baik dari sebelumnya maupun orang kebanyakan.
Kalau kita pergi merantau, dari rantau bisa menolong sanak keluarga karena mendapat (sukses) di rantau, orang di kampung berkata, “Sudah coga dia sekarang. Terbantu keluarganya, terkualiahkan adik-adiknya….” Kalau dibikinkan ibunya rumah oleh anak yang di rantau ini, orang akan berkata, “Sudah coga pula rumahnya sekarang.”
Kata coga untuk si anak artinya sukses. Kata coga untuk rumah artinya bagus. Jadi coga bisa menemukan arti-arti lain berdasarkan konteks, sesuai beban yang dipikulnya. Barangkali di sinilah kekuatan kata dalam bahasa Minangkabau. Kata coga ini saja contohnya, ia pun memiliki kekuatan motivasi ketika dikenakan kepada diri seseorang. Orang yang disebutkan kepadanya “coga’ bisa saja tersipu, tersenyum bahagia atau makin merasakan dirinya bagian dari diri kita. Dan bisa juga terjebak menjadi lupa diri karena begitu seringnya tersanjung dengan kata “coga’. Bahkan saking merasa coga tak jarang orang menjadi sombong.
Coga bisa pula kita maknai sebagai citra diri. Seseorang, dituntut untuk lebih coga senantiasa, memiliki kemampuan atau potensi yang senantiasa mencerahkan dirinya dan lingkungan. Pribadi yang coga, memiliki kecerdasan emosional, empati yang memikat serta pesona spiritual yang mengilhami, alangkah indahnya menjadi lebih baik, menjadi lebih coga dalam hidup.

39. Ciluah
Tentu di ranah Minang ini kita masih akrab dengan kata “ciluah”. Dalam Kamus Lengkap Bahasa Minang, ciluah adalah: suka mencari helah, cerdik buruk. Orang dengan perangai cerdik buruk tentu banyak kita temui di dunia. Giliran kerja dia hilang, giliran makan dia ada, alias waktu kerja cangkul berlebih kala makan piring kurang. Kalau disuruh membagi, dia paling banyak yang lain sedikit seorang. Pokoknya maunya untung terus. Ciloteh gaulnya, enak buat gue, gak enak buat lo. Hik!
Panciluah adalah orang yang suka main akal-akalan. Ia tidak suka bersusah payah. Apalagi disuruh bertanggungjawab. Jangan harap deh. Orang penciluah selalu ada di lingkungan kita. Konon kata yang tua-tua, agar kita punya contoh yang baik tentang yang buruk. Agar kita tahu kalau di dunia ini ada orang yang merek perilakunya “ciluah”.
Orang dengan perangai “ciluah” selalu berpikir enak, asyik untung, sok jaga imej, seakan-akan dia tengah menjaga kemuliaan dirinya. Misalnya bawaannya budayawan, perilakunya broker. Lagaknya membangun peradaban, tetapi di balik itu ia tengah menghancurkan peradaban. Tampangnya anti proyek, diam-diam rakus proyek. Kalau kerjanya salah, ia cepat-cepat mencari orang yang patut disalahkan.

40. Ceke
Namanya saja orang Minang, tentulah kita tahu artinya ceke. Kalau ada orang yang bilang kita “ceke”, benar atau tidaknya kita begitu, hati kita tentu tidak enak. Karena sebutan ceke, memang hal yang tidak positif, ceke berarti pelit, kikir.
Kalau ada orang bilang dia panceke, berarti dia bersifat kikir. Tidak suka berbagi, enggan memberi sekalipun ia berlebih; berlimpahan hartanya. Hitung-hitungannya pahit betul kalau mau memberi. Sehingga jika dia kaya raya, orang mengomelinya “Kalau tidak kikir, mana bisa kaya dia. Kalau jagung ‘e’eknya, pasti dia makan. Jangankan untuk orang lain, untuk bininya saja dia ceke. Ceke banget gitu loh….”
Ibu-ibu atau bapak-bapak penceke selalu gelisah mengeluarkan uang, termasuk untuk kepentingan dirinya. Kata orangtua kita dulu, ceke itu perangai tumpangan setan. Berkata-kata hatinya kalau ingin membeli, apalagi memberi. Hitung-hitungannya selalu, seperti orang ingin berhemat, tetapi hemat yang kelewatannya. Kalau anaknya sakit, ada obat yang lebih baik tapi sedikit mahal, ia akan milih yang murah walau kurang baik kualitasnya dengan pertimbangan, mana tahu bisa sembuh juga hemat. Tapi ketika obat tersebut tidak manjur, ada pilihan ke dokter atau ke dukun? Ketika dia milih dukun, bukan karena dukun dianggapnya lebih baik, melainkan bisa bayar lebih murah. Ini kan lebih hemat! Tentu beda penilaiannya, kalau dia miskin. Bisa dimaklumi memilih hal paling murah!

Ceke dengan hemat jelas berbeda. Orang berhemat, berangkat dari pertimbangan sedia payung sebelum hujan, menyisihkan sesuatu untuk kemaslahatan, tanpa mengurangi rasa sosial atau peduli pada hal-hal di luar diri kita. Ceke adalah kekikiran, dimana seseorang merasa terganggu ketika ada orang minta sedikit rezekinya. Ceke adalah, dimana seseorang takut ketika dia ketahuan punya banyak uang lalu orang lain pikirnya akan meminta.
Ceke adalah ketika kita satu sama lain, berpura-pura miskin, selalu berperang dalam hati, jangan sampai saya yang mentraktir jamuan di meja makan ini sekalipun uang yang harus saya keluarkan hanya secuil dari sebagian besar tabungan saya.
Ceke adalah, ketika kita mendapatkan sesuatu, kita pura-pura tidak tahu ada orang yang kehilangan, lalu kita menyuruk jauh-jauh karena takut diminta, termasuk ditagih pajak atau zakatnya. Ceke adalah, dalam dunia kanak-kanak, punya kue makannya sembunyi-sembunyi, karena takut diminta teman, padahal temannya belum tentu minta.
Orang penceke tidak banyak teman. Ceke atau tidaknya seseorang, dinilai sejauh mana ia tersenyum tulus ketika tangannya menjadi di atas, tanpa terasa orang yang menerima tangannya sedang berada di bawah. Untuk menjadi tidak ceke, diperlukan keberanian melawan diri sendiri, sedikit kurang nyaman sampai tiba waktunya menyadari: aku memberi, maka aku diberi-Nya!\

41. Cacuah

Inyo suko cacuah jo urang.

Yang akan kita bicarakan kali ini: Cacuah! Kalau orang Minang menyebut cacuah, artinya cekcok, tukang cekcok, suka berselisih. Kalau dia sudah datang, tentulah kita yang suka kedamaian, ketenangan hati dan pikiran, berpandai-pandai bicara dengannya. Kalau rasanya tak sependapat, pergi saja tenang-tenang dengan alasan lain. “Maaf, ada pekerjaan terbengkalai….” Kadang perkara kecil, kita bisa berselisih paham, saling menuding, memaki dan tak jarang setelah itu kita memasang wajah cacuah. Wajah cacuah adalah wajah yang sembab, senyum terpasung dan mata menegang saja karena aliran darahnya dari jantung dipompa secara cacuah juga.

42. Cabuah
Orang Minang mengenal kata “cabuah” artinya adalah geger, gempar, gaduh, recok, ricuh, ribut, rusuh dan heboh. Cabuah di satu sisi bisa dimaknai sebagai dampak dari tindakan, yang menyebabkan seseorang atau lebih merasa terusik kenyamanannya. Kita beli tape baru, menyetelnya keras-keras, tetangga sebelah-menyebelah beranak bayi kita abaikan, ini adalah pangkal cabuah.

43. Caba
Bertemu kata “caba” berarti: alpa, kurang awas, lalai atau tidak cermat. Diartikan juga, caba sebagai “kurang memperhatikan keselamatan dalam bekerja atau bicara”. Kata caba juga boleh diartikan, kurang rapi berpakaian sampai terbuka aurat. Kata “caba” setidaknya memiliki pesan kecermatan, ketelitian, kepedulian penting bagi setiap umat manusia. Di situ ada siratan peradaban. Peduli lingkungan, mawas diri serta menjadi pencerah bagi orang lain.
Ada orang yang ngomongnya ceplos sana-sini, kata yang dilontarkannya cenderung kasar atau kurang etis, sehingga banyak orang tersinggung atau kurang enak hati, maka dia boleh disebut “mulut caba.” Di sinilah kita jadi mengangguk-angguk ketika kata “caba” juga bisa sepadan dengan peribahasa mulutmu harimaumu.
Kata “caba” juga bisa untuk sebutan orang yang kurang rapi dalam berpakaian atau orang “terbuka aurat”. Kekinian remaja atau gadis-gadis kini cara berpakaiannya, banyak “caba”. Seakan kita mendapatkan moto mereka: Kalau bisa tampak pusar dan ketiak, kenapa mesti ditutup. Bukankah juga ada jawaban, saatnya memanjakan tubuh.
Caba adalah sebuah jalan pada penikaman diri, yang jika selalu semakin abai, kita terperangah sembari berdesis, betapa hidup adalah timpaan kelalaian yang tak tercermati selama ini!

44. Baleha
Bagi orang Minang tentu lah sering mendengar kata “baleha-leha” (leha-leha). Kita banyak memahami kata itu bermuatan nasehat dan kritik. Baleha-leha kurang lebih berarti bersenang-senang, berlalai-lalai, menikmati suasana tanpa merasa ada keharusan untuk melakukan sesuatu atau memikirkan sesuatu yang menimbulkan pikiran. Baleha-leha ritma katanya seakan mengisyaratkan kalau hidup juga memiliki sela, untuk merasakan nikmat penyegaran suasana pikiran dan hati.
Tapi baleha menjadi petaka, ketika ia telah melekat sebagai bagian keseharian kita. Bekerja di kantor banyak “leha-leha”. Diterima bekerja di sebuah perusahaan, yang dicari kantor yang waktu “leha-leha” banyak. Ingin jadi pegawai negeri menggunakan asumsi yang salah: bisa lebih berleha-leha. Ingin jadi orang kaya karena ingin baleha-leha. Bercita-cita jadi bos karena otaknya sering baleha, jadi pikirannya jadi bos itu enak karena bisa baleha-leha. Tidak tahu dia, jadi bos itu juga berpikir, kerja keras, kadang tidurnya berkurang, karena leha yang diharapkannya adalah leha yang ideal, bisa enak di hari tua, sambil melakukan aktivitas yang menyehatkan.
Baleha-leha tidak sesuai dengan “berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, senang kemudian”. Karena baleha-leha dahulu jadinya akan sakit (susah) kemudian. Artinya ketika saat ini orang makin banyak yang konsumtif, merayakan hedonisme dengan catatan mencari uang adalah untuk kebahagiaan dunia itu dikarenakan hidupnya terpatri pada orientasi “baleha’. Katanya alangkah indah kalau kita bisa senang-senang, santai-santai, semua tersedia, uang banyak, mendengar musik sepanjang hari.

45. Ansik
Kalau kita dengar orangtua atau tetangga maupun teman berkata ”diansik terus” itu artinya didesak terus. Ansik sama dengan didesak. Tapaso dibalikan motor baru anak tu, siang malam diansiknyo abak dan amaknya (Terpaksa dibelikan motor anak itu, siang dan malam didesaknya terus ayah dan ibunya)
Ansik bisa juga ngotot, tak penat-penat meminta atau memaksa untuk mendapatkan sesuatu. Kalau punya anak usia balita, diajak main ke supermarket. Tampak olehnya mainan bagus, hatinya suka pula ingin memiliki. Ia minta pada mama dan papanya. Sebelum diberi ia akan maansik (maansik bisa juga berarti merengek-rengek) sampai dapat. Dimarah, dicubit diam-diam, dibujuk dengan uang jajan berlebih, tetap tidak mau. Karena tak tahan diansik, mainan tersebut akhirnya dibelikan, walau dengan nada sedikit ancaman, ”Besok ini kamu tidak dibawa lagi, ya. Maansik saja, tidak dapat berjanji orang dibuatnya.”
Dalam keseharian kita, ada satu dua orang yang suka maansik teman atau sanak keluarganya. Tujuan maansik tergantung kepentingan pula kebutuhan. Kalau kita punya utang, ansiknya cepat bayar. Kalau tidak, ya akan diansik terus, sampai yang diansik berkata, ”Berilah kelapangan sedikit. Jangan diansik terus. Kalau ada uang, cepat saya bayar.” Begitu juga kalau ada seseorang berjanji, katakanlah pemerintah, sebagai rakyat kalau tidak menemukan janji itu direalisasikan, kita bisa ansik sang penguasa untuk sesegera mungkin memenuhi janjinya.
Ansik atau desak adalah kata dimana kita memohon, baik langsung atau cukup dalam hati atau berupa doa, diberi keringanan, waktu untuk mengupayakan apa yang ”diansikkan” kepada kita. Kita mungkin bisa memberi alasan, dalam keadaan ”teransik” otak kadang jadi buntu. Walau ada orang bertipe adrenalin, makin didesak makin terbit atau termotivasi semangat dan gagasannya. Namun ansik tetaplah kata yang menekan secara psikologis kepada kita di saat menyadari posisi kata tersebut berada dalam posisi menghunjam ke diri kita.
Bermain kata ”ansik” bisa menukaskan kenyinyiran sesungguhnya. Ia kadang mengulang hal yang sama untuk meyakini kita, untuk memastikan apakah kita paham yang disampaikannya. Hal itu dilakukan berkali-kali, berulang-ulang sehingga kadang kita merasa jengkel juga. ”Nyinyir kamu! Suka maansik!”
Mendapat ansik bisa diartikan positif juga. Desakan kalau dinilai sebagai energi positif, maka ansik sesungguhnya bisa dimaknai sebagai kata yang berspirit motivasi, penyemangat. Seorang pelatih akan nyinir, harus mendesak (kadang mengupayakan bagaimana sesuatu keterdesakan itu terjadi) tim asuhannya atau muridnya bisa melakukan sesuatu dengan baik juga benar.

Ada juga orang yang tak makan ansik alias kebal ansik. Siapa pun yang maansiknya, untuk kepentingan apa pun, ia tetap tenang-tenang saja. Ia tak acuh. Ia punya prinsip, sampai mati pun diansik, kalau sudah dari hati tidak, maka akan tetap tidak. Diansik tentu bisa juga dilebarkan tafsir arti katanya menjadi: Bahwa sesuatu itu hadir karena ada yang mengansik. Ketika kita didorong terdesak, lalu ingin merasa lapang dan bebas maka keinginan itulah yang kita sebut energi untuk menjadikan apa yang dicita-citakan tidak merupakan jawaban orang kepepet, terdesak.

46. Andok
Kata andok bagi orang Minang memiliki arti endap, sembunyi, simpan atau mengelak dari pandangan atau pengelihatan orang agar tak tampak. Dia berangkat maandok-andok (mengendap-endap) agar tak tampak oleh yang lainnya. Tapi tanpa sadar dia bagaikan maandok di balik ilalang sehelai. Artinya sia-sia saja sembunyi, orang melihat dia.
Bermain dan berkilah di balik atau dengan kata “andok” bisa melahirkan ungkapan-ungkapan yang kesannya main-main, tapi ada arti dan makna yang bisa direnungkan. Maandokan kuku, betapa ungkapan itu memberi arti kepada seseorang yang tak ingin pamer kekuatan, ingin tampak biasa-biasa saja. Maandokkan muko, ungkapan ini bisa saja kita artikan orang yang tak mampu menatap orang lain, karena suatu perbuatan yang memalukan di masa lalu. Tentu kalau kita buat ungkapan suko maandokkan muko (suka menyembunyikan wajah) artinya lebih mengarah kepada dia seorang pemalu. Suka memerah mukanya kalau ditatap orang di depannya.

47. Mamacik
Kata itu bernama pacik artinya pegang. Kalau ada pertanyaan, siapa yang mamacik sertifikat itu kini, artinya sama siapa sertifikat tersebut sekarang. Kalau ada orang bergunjing, bujang dan gadis berjalan berdua pacik-pacikan itu artinya saling berpegangan tangan, berpacik erat, lengket dan tidak sesuai dengan syariat maupun adat.
“Dia mamacik sekarang” kata seorang teman suatu kali. Kata mamacik barusan tentu tidak sejalan artinya dengan induk kata dasarnya ”pacik”. Mamacik dalam konteks ini kadang rada politis. Seorang anak pejabat artinya sama dengan putra orang mamacik. Bagi kita orang Minang, kata mamacik umum dipahami sebagai kata yang menerjemahkan “memiliki power, pengaruh, kekuasaan dalam level-level tertentu. Orang mamacik boleh juga diartikan yang disegani. ”Buruak-buruak gitu, dia mamacik juga di kampungnya….” Mamacik status sosial yang kadang kita pahami dengan sangat kampungan. Kita hanya ingin ditakuti sebenarnya, bukan disegani.

48. Hao
Mari kita merasakan kata “hao”. Sebagai orang Minang, kita punya kata yang hampir tak pernah terdengar diucapkan banyak orang saat ini. Terutama kaum mudanya yang lahir di tahun 80-an hingga kemudiannya. Kata “hao” berarti hawa, udara dan bisa juga diartikan sebagai suatu yang kosong, busa doang. Hao juga bisa berarti omongan yang tak ada isinya. Bisa pula hao berarti bual hanya kata tanpa makna.
Kalau hao menjadi mahao, maka kata itu artinya menjadi merayu. Bujukan yang banyak gombalnya. “Mahao anak gadih urang, bapanggakan oto basalang (marayu anak gadis orang, memamerkan mobil pinjaman). Kadang karena tak mampu mengukur bayang-bayang sepanjang badan, kita terjebak meninggi-ninggi diri. Dalam mahao juga terlihat merendah-rendahkan diri untuk meninggi-ninggikan harapan, agar yang dituju merasa terpuja, yang merayu merasa terpuji.
Tak jarang ketika seseorang mahao, yang lebih tampak oleh akal sehat adalah betapa dia tengah membungai dirinya dengan busa-busa omong kosong. Orang yang suka mahao, apalagi kepada anak gadis idamannya, cenderung terlihat memperagakan kelebihan diri sendiri, mulai dari penampilan hingga perkataan. Mahao adalah topeng diri yang kadang ia bisa membawa yang dihaonya menjadi badut ikut irama yang hao-hao.

Ada pula hao yang boleh dikatakan menyebalkan, menjengkelkan atau menimbulkan dendam. Namanya “malapeh hao”. Malapeh hao artinya segala upaya, kerja keras, dukungan kita berakhir dengan kesimpulan : tidak mendapat apa-apa. Kalau join dengan teman membangun usaha bisnis, tahu-tahu ketika untung, dimakannya sendiri. Malapeh hao juga namanya kalau kita punya pacar, habis-habisan mencintainya, dia pun seakan-akan habis-habisan mencitai kita, siang kaulah matahari, malam kaulah bulan. Tapi ketika cinta kita tak terhingga, ia menikah dengan orang lain. Inilah lagu pilu “malapeh hao” itu. Orang pun bisa mancemeeh kita sambil berlagu:

Lompong sagu bagulo lawang
Di tangah-tangah karambia mudo
Sadang katuju di ambiak urang
Ondeh mak, awak juo malapeh hao

Hao, dihao, mahao, hao-hao disadari atau tidak, sesungguhnya telah mengitari perilaku atau nasib kita sehari-hari. Ia menumpuk dalam barisan, kerumunan, tumpukan serta seliweran kata-kata di otak dan hati kita.

49. Poak
Ada orang poak. Apa yang kita pernah, dia pernah pula. Apa yang kita lakukan, dia jauh lebih hebat dari apa yang pernah kita lakukan. Kalau kita mengaku bikin acara diresmikan dan dipuji gubernur, dia bilang dirinya sering telpon-telponan dengan gubernur. Motonya kurang lebih: apa lu pernah, gue lebih dari itu! Nantilah benar atau tidaknya. Yang penting mulutnya bilang begitu, faktanya entah punya angguk atau tidak, tak penting betul. Yang jelas poaknya begitu.
Poak kurang lebih bermakna suka melebih-lebihkan diri, ongeh, arogan dan pantang kalah. Kalau ngobrol, tak mau mendengar orang. Ketika giliran orang bicara, diam dia bukan karena dia mendengar untuk memahami orang bicara. Melainkan karena ia tak sabaran ingin cepat menyambung apa yang ia katakan sebelum kita bicara, menunggu di saat kapan harus memotong dan berkata-kata lebih panjang dan menjengahkan kita.
Kita sering bertemu orang poak. Berjanji sama gampangnya dengan sendawa atau terkentut. Giliran menepatinya, ia bagai orang masuk angin. Dikerok dulu baru sendawa atau terkentut. Kadang sudah dikerok, sendawa tidak terkentut pun tak.
Orang berperilaku “poak”, teman kita atau pasangan hidup kita lagi, tentu membuat sesak napas. Banyak bentuk dan rupa poak. Suka menarik perhatian orang alias MPO, poak juga namanya.

50. Lingau

Lingau ibarat sebuah tempat, di sana kita pernah datang dan pergi

Orang Minang tempo doeloe, mungkin kini masih ada barangkali banyak yang mengenal kata “lingau”. Tetapi saat kini sedikit sekali, mungkin hampir tak ada yang tahu arti kata tersebut. Lingau berarti sunyi, sepi (dari keramaian). Kita tentu pernah mengalami rasa lingau. Suatu perasaan dengan suasana lengang, riak-riak hati yang kadang sentimental, kadang risau tak berketentuan. Ia bisa berupa perasaan ditinggal, diasingkan, merasa tertegun oleh sesuatu yang tiba-tiba rasanya ada yang merenggut dari tangan kita.
Lingau sebuah ruang, di mana kita pernah datang dan pergi meninggalkannya. Mungkin dengan sorai, mungkin dengan derai air mata. Dalam lingau disadari atau tidak, percaya atau tidak, ada jiwa-jiwa hidup di dalamnya, sebagaimana juga ada jiwa-jiwa terpasung atau mati padanya!

51. Gadayak
Kata ini hampir tidak terdengar lagi dari mulut orang Minang. Ketika kita telusuri arti atau padanannya, maka kita bisa saja menemukan kesamaan pada kata menggenang, tidak mau bergerak, malas atau kematian niat atau keinginan melakukan sesuatu. Kata gadayak adalah kata yang sesungguhnya beraroma cemooh, penuh kritikan, bisa diucapkan dengan sinis atau sindiran.
Kata gadayak sesungguhnya sebuah gambaran tentang sesuatu yang tak berdenyut. Dia tak memberi pengaruh positif. Bisa jadi ia bagaikan kerikil di tengah lantai keramik yang bersih, mesti disapu atau dilempar tanpa berpikir ia sebagai hal penting.
Gadayak adalah genangan air di depan rumah, di lantai juga mungkin, di atas meja yang harus dilap karena tidak enak dipandang mata, jika dilantai bisa buat orang terpeleset. Gadayak itu adalah benalu yang tenang tapi berpengaruh buruk pada kehidupan sebatang pohon dan kadang susah membuangnya, tetapi anjurannya : harus dibuang!

Seorang mertua bisa dongkol kalau punya menantu yang suka gadayak. Bos bisa berpikir pecat kala anak buahnya suka gadayak, tidak produktif. Teman sesama organisasi bisa marah atau nyindir, kalau kita ke sekretariat hanya untuk menggadayak, merokok-rokok, baca koran, kerja kita orang lain yang menyelesaikan. Seorang ibu marah-marah, ketika meminta tolong kepada anaknya, tetapi anaknya malas-malasan, nonton-nonton saja, seharian begitu, bahkan untuk mengambil nasi makan siangnya pun minta tolong ke adiknya. Maka tak heran kita dengar omelan, “Untuk makanmu sendiri saja malas. Hanya manggadayak yang sukanya. Tidak tahu diuntung!”

Orang-orang banyak manggadayak, bisa jadi karena frustrasi sudah bertahun-tahun cari kerja tak dapat-dapat. Bisa juga memang bawaan sejak kecil. Lalu bagaimana ketika kita sekali-sekali ingin menggadayak?
Tak masalah, karena kadang kesibukan, rutinitas, aktivitas yang bergerak dan mengeliat membuat kesempatan manggadayak menjadi indah. Tidak melakukan apa-apa kecuali bernapas boleh juga inilah deskripsi lain tentang gadayak. Tetapi menjadi manusia “gadayak” adalah cita-cita buruk, yang harus dibuang atau disapu.

52. Angguak
Angguak atau angguk sering diartikan sebagai setuju, paham, iya. Di Minang ada pula istilahnya angguk balam, artinya mengangguki sesuatu yang sesungguhnya ia tak mengerti apa yang sedang diangguki. Mengangguk sesungguhnya memiliki filosofi sebagaimana eksistensi kata-kata yang lain yang kita dengar, baca, lihat dan tersembunyi di kehidupan kita.
Saat ini kita rasakan lebih banyak orang yang lebih suka mengangguk untuk hal-hal yang mestinya dia menggeleng. Kita selalu seakan salah menggerakkan kepala. Kala mesti menggeleng, kok malah mengangguk. Kala mesti mengangguk, kok malah menggeleng. Kadang kita yang punya kepala juga bingung. Hati dan pikiran yang sehat dengan kecerdasan yang kadang terasa absurd.

53. Syak
Syak wa sangka, pikiran buruk yang membuat kita berada dalam geliat prasangka. Semua mulai dari hati sampai ke pikiran, kadang seakan udara yang kita hirup pun bergerak dan hidup dalam saling menyangsikan. Kita meragukan orang lain, jangan-jangan ada udang di balik batu kala ia tergegas dan bahagia ingin membantu kita. Padahal sesungguhnya orang memberi karena memang begitu kesemestian hidup, kala melihat ada sisi lain untuk menerima. Kadang kita cemas, saking banyaknya hal-hal yang tak bisa dipercaya, ke hal-hal yang sesungguhnya benar kita pun curiga. Saking seringnya dibohongi, seseorang pun bisa terpulun prasangka atau rasa tak percaya pada orang lain.

54. Anggau
Kata anggau bagi kita orang Minang lazim didengar dulunya. Kini mungkin agak jarang. Kata tersebut menegaskan betapa ketika kita menjalani hidup, ada hal-hal yang membuat kita meyakini, suatu yang manusiawi dalam diri dan dirasakan seseorang. Perasaan “anggau”, perasaan dimana kita merasa kehilangan nyali, tak memiliki kekuatan menegakkan kepala untuk mengimbangi atau melawan sesuatu yang ditantangkan kepada kita. Anggau sama dengan gentar, ciut, ragu-ragu, kehilangan semangat. Anggau semacam perasaan dimana kita tiba-tiba misalnya, merasa takut atau minder bertemu dengan seseorang. Karena orang yang akan kita temui jauh berpengetahuan dan berpengaruh (di tengah masyarakat dibanding kita, yang selama ini sangat sadar “tong kosong nyaring bunyinya” merasa dianggap hebat.
Rasa anggau hanya rasa yang bisa dikendalikan oleh akal sehat, hati yang bersih serta kerja yang dilakukan atas niat dan cara yang baik. Kita merasa anggau karena kita di tempat yang yakin salah, karena hanya Dia lah yang pantas kita “anggau-i”, maka pelajari lah agar anggau tak merisau ;)

55. Sarik
“Sarik” sama-sama berarti susah, sukar dan sulit. Orang Minang kadang bergurau meng-indonesia-kan sarik menjadi sarit, tetapi bisa bersebab kata lucu-lucuan. Karena menganggap tak betul peng-indonesia-annya. Misalnya, mana hari panas lagi, mobil sarit pula (hari angek, oto sarik pulo). Padahal sebutan kata “sarit” benar adanya. Cuma karena tak pernah cek kamus, tak lazim diucapkan seakan itu ungkapan gurau atau perintang kata agar (bisa) menimbulkan tawa. Kalau dipikir kata sarit jarang diucapkan di antara kita untuk mengganti “sukar”, “sulit” dan “susah” misalnya. Namun agak sekali dua tak ada salahnya kita pakai. Karena untuk apa ia ada, kalau untuk dipakai pun nasib kata itu bernasib sarit—susah.

56. Gaham
Kata “gaham” berarti gertak. Selain itu gaham boleh juga disebut intimidasi, menakut-nakuti atau mengancam. Banyak orang yang suka main gaham. Ketika merasa sakit hati atau tertekan karena orang lain, banyak di antara kita langsung main gaham. Tetapi kadang orang yang digaham tenang-tenang saja, bahkan balik menantang, sehingga banyak pula di antara orang yang suka menggaham orang malah merasa tergaham. Berimajinasi sendiri, jangan-jangan dia bukan orang sembarangan. Yaa… menggaham butuh keberanian!
Gaham kadang diperlukan agar kita tetap waspada, tidak nyaman-nyaman saja dengan diri sendiri, hati serta pikiran. Karena itu ketika kita melakukan tindakan yang cenderung merugikan orang lain, sesungguhnya pada saat yang bersamaan hati nurani kita telah menggaham. Gaham sesungguhnya permainan logika dan perasaan, strategi penyerangan terhadap benteng keberanian, penyuburan rasa takut untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Gaham, ancaman sekaligus kekerasan psikologis, kadang membuat seseorang merasa kuat, punya harga diri, merasa harus menghadapinya dengan kekuatan hati dan pikiran. Sehingga gaham menjadi permainan yang mengasyikan, meliarkan detak jantung serta memuncakkan api amarah yang membutuhkan pengekspresian yang tidak serampangan, tetapi cerdas dan tangkas sehingga yang digaham bertekuk lutut.

57. Gureteh
Terhadap orang gureteh tak perlu serius, apalagi berharap, dengarkan lalu lupakan. Gureteh berarti banyak cakap, tanpa suatu yang dapat dibuktikan kebenarannya atau tak satu pun yang dapat dipegang, cakap besar, gadang ota!
Kadang kalau bertemu dengan orang yang suka “gureteh”, kita ingin cepat-cepat pergi. Tetapi sulitnya kalau “sang gureteh” itu adalah teman baik kita. Mau diacuhkan, takut dia tersinggung. Didengarkan cilotehannya, tak hanya telinga kita saja yang menolak, tapi hati kita pun memaki. Bayangkan apa yang dikatakannya, sudah sering kita dengar tapi buktinya tidak ada.

Kalau kita dapat pemimpin punya “penyakit“ bawaannya “gureteh”, kesal-kesal sendiri kita. Sebagai rakyat paling kita bisa mencemooh dari rumah masing-masing atau di lapau. Pemimpin yang gureteh, misalnya kalau ngomong ingin dapat pujian atau pencitraan doang, bantuak ka iyo, diadoki bana tanyato ampo (seperti ke iya, ketika dihadapi ternyata hampa). Banyak pemimpin atau pejabat publik, bisa berkecenderungan “pengguna gureteh” aktif, sebab pemimpin di negeri ini banyak yang takut dikritik, sukanya dipuji. Untuk itu sebagai rakyat tak boleh cepat percaya kepada pejabat publik, sang pemimpin kita di zaman serba musibah kini, apalagi sampai 100 persen. Kita perlu uji dulu, kalau ngomong akan membangun pemerintahan yang bersih, birokrasi yang baik, ternyata itu hanya sekadar wacana, gureteh juga namanya. Walau ada orang yang bilang wacana bagian dari memimpin, tapi kalau memimpin hanya untuk berwacana apa ya namanya?

58. Redek

Redek kadang mengguncang iman

Baa aka lai koo… bareh maha, lah redek awak kini mah,” kata seorang perempuan setengah baya kepada temannya. Kata “redek” dari mulut perempuan tersebut, ternyata artinya tidak punya uang. Tapi redek dalam hal ini tentu tak semata bokek, bisa jadi merupakan kegetiran atas pahitnya hidup.

Tapi ada pula redek pemanis hari, biasalah sehari dua kita bokek. Masih bisa berseloroh minta rokok ke teman, sembari berkata, “lagi redek nih, minta rokoknya dong!” Begitu juga redek juga bisa mengawali keluh kesah ringan, baik untuk pinjam uang, minta pulsa teman, ingin ditraktir makan siang.

Kata redek bagi orang Minang saat ini jarang digunakan, kecuali bagi orang tua-tua. Redek dalam artian payah, bokek sangat, uang seribu seluas sajadah tampaknya, banyak menimpa saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air. Sebangsa orang redek, setanah dengan air mata, selalu akrab dengan kegetiran. Kadang seakan seperti musibah, walau hakikatnya bisa dilarikan kepada hikmah positif orang beragama : merupakan ujian sebagai kasih sayang Tuhan. Kadang kata ujian dirasa menguatkan iman, walau dibalik itu sebagai manusia ada pertanyaan : masa sih Tuhan pilih kasih? Nah kata nenek teman saya, kalau menilai Tuhan begitu berarti imanmu redek, payah!

Orang redek sepanjang hari seakan terdampar dalam sunyi. Mereka merasa tak punya corong, sebagaimana pejabat yang kadang mampu mencarter media untuk mencitrakan dirinya. Jika seandainya media banyak menuliskan keberhasilan semu pemerintah dan dimana-mana memuat foto pejabat, sesungguhnya merupakan koreksi diri bangsa ini. Hal itu tidak jauh lebih penting dibanding sebuah foto seorang ibu termenung di sudut pintu menunggu suaminya mencari beras, tukang ojek termenung risau di pangkalan karena sepi penumpang, lelaki tua yang terseok mengurus surat miskin untuk berobat, seorang anak mengais-ngais rezeki di tong sampah, si buyung yang tertangkap mencuri karena ayah dan ibunya redek, serta orang gila yang berkeliaran. Kadang semakin banyak orang redek, kita terjebak mematikan nurani, bahkan membenci orang yang menghidupkan nuraninya. Dalam redek segala yang pahit harus ditelan.

59. Udi

“Kesialan selalu menemani keberuntungan di sisi lain. Kadang kita maudi pada ketidaksiapan menyambut realita.”

Kata udi atau maudi tentu masih terdengar akrab oleh kita sebagai orang Minang di zaman kini. Paling tidak masih banyak yang tau arti kata itu. Udi sama dengan sial, maudi tentulah membuat atau menyebabkan sial. Udi juga sama dengan apes atau naas.

Ada suami melarang istrinya memeriksa saku celana atau dompetnya, katanya sih maudi nanti. Kita tidak tahu persis sial seperti apa yang disebabkan oleh saku yang dirogoh tangan istri. Bahkan ada seloroh yang takut itu sang suami bukan takut udi, melainkan cemas ketahuan ada foto wanita lain di dalam dompetnya.

Ketika kita bermaksud berutang ke kedai, ada yang menyarankan : janganlah pagi-pagi. Biarlah orang berjualbeli dulu, menjelang tengah hari, boleh lah berutang. Sebab mitosnya berutang pagi-pagi ke kedai, bikin udi kotak uang pemilik kedai, dingin rezeki orang nantinya. Kalau kita dipercaya menunggu kedai, perlu uang, janganlah mematah atau menyunat uang dalam laci, bisa udi kedai, sulit berkembang.

Dalam kehidupan keluarga pun, kita juga kenal hardikan beberapa orangtua kepada anak atau pasangannya yang suka ribut atau bertengkar di pagi hari, “bikin udi saja kalian, pagi sudah bertengkar!” Bahkan saking kesalnya karena yakin akan udi oleh pertengkaran atau kecabuhan pagi di rumah, seseorang tak jarang meninju pintu atau bercarut marut, bahkan ada yang membanting piring. Dia yang dalam naungan amarah barusan, lalu pergi menempuh hari itu dengan perasaan tak enak. Tampaknya begitu yakin bakal mendapatkan kesialan atau kehadirannya di mana pun akan maudi pada hari itu.

Kenahasan, keapesan, kesialan atau keudian, pernah menimpa setiap orang. Dan setiap orang, tentu tak ingin atau takut didera udi. Udi ada yang serius, pun untuk olok-olok. Kalau membangun rumah, juga memulai usaha, ada yang percaya bisa udi jika tak pandai memilih hari atau tanggal baik (seakan curiga hari dan tanggal yang dianugerahi Tuhan ada yang buruk), maka ada yang mencari orang pandai. Tujuannya, untuk penenang hati yang tak sadar terpukau hal berbau tahayul, syirik, karena takut maudi di setiap langkah. Takut apa yang dibuat tak menjadi.

Udi itu mengecewakan plus menyebalkan, tetapi kata udi selalu menyela di depan kata untung atau beruntung. Ada yang udi, di saat yang sama orang lain barangkali sedang menjalani keberuntungan.

Maudi itu sama artinya, sejak kita bergabung di sebuah kelompok, kelompok itu banyak mengalami kegagalan. Padahal barangkali itu kebetulan saja semuanya yang tak diinginkan terjadi di saat kita bergabung.

Udi itu unik, karena ia bisa menawarkan banyak dugaan dan kecurigaan. Hal itu bisa berupa praduga atau paskaduga, yang semuanya kadang bisa diterima akal sehat dan kadang membuat akal sakit. Misalnya petunjuk untuk mengencingi gawang lawan sebelum bertanding bola, bakal membuat udi lawan sehingga hujan goooool di situ. Tapi ketika hasilnya sebaliknya, justru gawang kita yang kebobolan? Bagi orang yang tak rasional atau suka mencar-cari jawaban yang seenaknya, dia akan berkata, Dewi Fortuna belum berpihak. Padahal keyakinan serampangan itulah yang bikin udi.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.