<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>da Revan</title>
	<atom:link href="http://darevan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://darevan.wordpress.com</link>
	<description>Rang mudo Anak Singkarak</description>
	<lastBuildDate>Wed, 18 Jan 2012 11:50:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='darevan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>da Revan</title>
		<link>http://darevan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://darevan.wordpress.com/osd.xml" title="da Revan" />
	<atom:link rel='hub' href='http://darevan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Sekali Berarti, Sudah Itu Mati</title>
		<link>http://darevan.wordpress.com/2011/12/13/sekali-berarti-sudah-itu-mati/</link>
		<comments>http://darevan.wordpress.com/2011/12/13/sekali-berarti-sudah-itu-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 15:32:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>da Revan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Binatang Jalang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://darevan.wordpress.com/?p=2036</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang menarik dari kolom Humaniora Teroka harian Kompas hari ini. Sastrawan asal Jogja, Marwanto menulis konon, penetapan 28 April – tanggal wafatnya Penyair Angkatan &#8217;45, Chairil Anwar – sebagai Hari Puisi Nasional masih menjadi perdebatan. Lebih jauh ia menulis, jasa terpenting Chairil Anwar adalah pendobrakan terhadap bahasa ungkap penyair sebelumnya (baca : Pujangga Baru). [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=darevan.wordpress.com&amp;blog=3658773&amp;post=2036&amp;subd=darevan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://bambuberderit.files.wordpress.com/2011/04/chairil-a3.jpg?w=468" alt="chairil" /></p>
<p>Ada yang menarik dari kolom Humaniora Teroka harian Kompas hari ini. Sastrawan asal Jogja, Marwanto menulis konon, penetapan 28 April – tanggal wafatnya Penyair Angkatan &#8217;45, Chairil Anwar – sebagai Hari Puisi Nasional masih menjadi perdebatan. Lebih jauh ia menulis, jasa terpenting Chairil Anwar adalah pendobrakan terhadap bahasa ungkap penyair sebelumnya (baca : Pujangga Baru). Dengan bahasa ungkap yang khas dirinya, lugas, tegas, padat dan langsung menghujam ke jantung hati para pembaca karyanya.</p>
<p>Bicara tentang puisi dan juga Chairil Anwar, sebenarnya siapa yang masih peduli ?</p>
<p>Puisi menjadi tidak penting karena manusia lebih mementingkan rasa laparnya dan mencari uang daripada sekadar mengisi ruang jiwanya dengan sebuah puisi. Apakah puisi bisa menjadi makanan bagi perut yang keroncongan.</p>
<p>Dalam sebuah dunia yang pragmatis dan cenderung hedonis, kita seakan bertanya apakah puisi bisa memberikan sesuatu. Puisi semakin ditinggalkan karena para penyair (dan mungkin sebagian blogger) menjadi menara gading yang asyik dengan dunianya sendiri. Tidak menyentuh masyarakat sekitarnya. Tidak membumi.</p>
<p>Puisi memang tidak melulu mengenai cinta dan hati yang luka. Merintih dan sunyi. Beberapa sejarah peradaban mengajarkan sedikit banyak puisi memberikan nafas inspirasi terhadap pergerakan kemerdekaan sebuah bangsa. Puisi puisi yang akrab dengan realita sosial dan manusia sekitarnya. Presiden Ceko yang pertama Vaclav Havel sebelumnya adalah penyair yang banyak menyuarakan kritik terhadap sistem komunis yang totaliter. Ada juga masanya puisi-puisi di Indonesia yang berisi suara pendobrakan atas kemiskinan, kesewenang wenangan dan ketidakadilan. Seperti puisi WS Rendra, Kesaksian yang benar-benar menggetarkan.</p>
<p><em>Aku mendengar suara<br />
Jerit hewan yang terluka<br />
Ada orang memanah rembulan<br />
Ada anak burung jatuh dari sangkarnya.</p>
<p>Orang-orang harus dibangunkan<br />
Kesaksian harus diberikan<br />
Agar kehidupan dapat terjaga</em></p>
<p>Demikian pula kita merasakan getar api revolusi yang membara dari petikan puisi Chairil Anwar pada masanya. Membuat kita sedetik pun tak ragu memberikan darah dan nyawa kepada negeri yang baru merdeka itu.</p>
<p><em>Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi<br />
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak</p>
<p>Kenang, kenanglah kami<br />
Teruskan, teruskan jiwa kami<br />
Menjaga Bung Karno<br />
Menjaga Bung Hatta<br />
Menjaga Bung Sjahrir</em></p>
<p>Namun sebagaimana manusia kita memerlukan keseimbangan, dan puisi-puisi tentang cinta, keluarga dan alam bisa memberikan rasa dahaga itu. Tidak ada yang salah juga dengan puisi menye-menye. Itu adalah pilihan dan kita harus menghargai. Siapa bisa menyangkal begitu dasyatnya untaian kata Hujan Bulan Juni – Sapardi Joko Damono? Bahkan Chairil Anwar yang revolusionerpun, masih menyisakan ruang melankolis untuk gadis pujaannya. Dia terlalu penakut untuk mengungkapkan terus terang kepada gadis pujaannya. Sehingga terus memendam rasa sampai maut menjemputnya.</p>
<p><em>Bersandar pada tari warna pelangi<br />
Kau depanku bertudung sutra senja<br />
Di hitam matamu kembang mawar dan melati<br />
Harum rambutmu mengalun bergelut senda</p>
<p>Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba<br />
Meriak muka air kolam jiwa<br />
Dan dalam dadaku memerdu lagu<br />
Menarik menari seluruh aku</em></p>
<p>Presiden Kennedy mengatakan jika politik bengkok maka puisi bisa meluruskan. Ia bisa menjadi tiang sandaran atas sebuah nurani, disegenap lingkup ruang hidup kita. Seberat apapun itu. Ia juga bisa menjadi pedoman manusia saat kembali ke titik nol.</p>
<p>Jika RA Kartini bisa menjadi pahlawan karena tulisan tulisannya kepada Abendanon. Chairil Anwar semestinya bisa menjadi pahlawan nasional atas perjuangannya melalui tinta dan tulisan. Chairil Anwar yang sempat kena penyakit kelamin sipilis memang menjalani hidupnya yang liar dan semrawut dan dia tak peduli hingga mati muda.</p>
<p>Walaupun demikian saya tetap peduli dengan puisi-puisi. Ia seperti gelas berisi air segar. Sejuk dan menghilangkan rasa dahaga kita. Ia sekaligus mengeyangkan jiwa batin kita. Ah&#8230; kita memang membutuhkannya <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>http://blog.imanbrotoseno.com/?p=222</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/darevan.wordpress.com/2036/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/darevan.wordpress.com/2036/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/darevan.wordpress.com/2036/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/darevan.wordpress.com/2036/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/darevan.wordpress.com/2036/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/darevan.wordpress.com/2036/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/darevan.wordpress.com/2036/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/darevan.wordpress.com/2036/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/darevan.wordpress.com/2036/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/darevan.wordpress.com/2036/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/darevan.wordpress.com/2036/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/darevan.wordpress.com/2036/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/darevan.wordpress.com/2036/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/darevan.wordpress.com/2036/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=darevan.wordpress.com&amp;blog=3658773&amp;post=2036&amp;subd=darevan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://darevan.wordpress.com/2011/12/13/sekali-berarti-sudah-itu-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89544b4c40ab5a10f2e10bf03ed7ac93?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">da Revan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bambuberderit.files.wordpress.com/2011/04/chairil-a3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">chairil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gadis-Gadisnya Binatang Jalang dan Sang Demonstran</title>
		<link>http://darevan.wordpress.com/2011/12/13/gadis-gadisnya-binatang-jalang-dan-sang-demonstran/</link>
		<comments>http://darevan.wordpress.com/2011/12/13/gadis-gadisnya-binatang-jalang-dan-sang-demonstran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 14:50:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>da Revan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Binatang Jalang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://darevan.wordpress.com/?p=2029</guid>
		<description><![CDATA[Bayangkan, kawan! Seorang lelaki kurus dengan mata merah, liar, selalu datang dengan tangan satunya mengapit buku! Itulah Chairil Anwar! Anehnya, mungkin juga karena wajah indonya barangkali, banyak pula gadis-gadis memujanya. Padahal matanya merah karena kurang tidur, kurang tidur karena semalaman bisa melahap satu buku yang dibawanya itu, bajunya lusuh komprang, dan tubuh kurus dekil jarang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=darevan.wordpress.com&amp;blog=3658773&amp;post=2029&amp;subd=darevan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://bambuberderit.files.wordpress.com/2011/04/chairil-a3.jpg?w=468" alt="chairil" /></p>
<p>Bayangkan, kawan!</p>
<p>Seorang lelaki kurus dengan mata merah, liar, selalu datang dengan tangan satunya mengapit buku!</p>
<p>Itulah Chairil Anwar!</p>
<p>Anehnya, mungkin juga karena wajah indonya barangkali, banyak pula gadis-gadis memujanya. Padahal matanya merah karena kurang tidur, kurang tidur karena semalaman bisa melahap satu buku yang dibawanya itu, bajunya lusuh komprang, dan tubuh kurus dekil jarang mandi. Tapi, di jaman penjajahan Belanda dan Jepang ada lelaki yang memesona gadis-gadis justru dengan penampilan dekil, kurus, hanya modal buku dan puisi? Luar biasa!!!</p>
<p>Gadis memang dunia Chairil Anwar setelah buku. Tercatat nama Ida, Gadis, Mirat, Roosmeini, Sri Ajati dan Dien Tamaela sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Walau pun kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil kawin dengannya.</p>
<p>Sebelum Chairil menikah dengan Hapsah itulah Chairil pernah jatuh cinta dengan seorang gadis yang bernama Sri Ajati pada saat keduanya menjadi penyiar radio Jepang di tahun 1942. Nama Sri Ajati diabadikan Chairil Anwar dalam sajaknya yang terkenal Senja di Pelabuhan Kecil.</p>
<p>Sampai kini aku tak akan pernah lupa lirik puitis nakal tapi melankolis, ‘senja di pelabuhahn kecil, gadis manis sekarang iseng sendiri…’ Jelas maksud iseng sendiri di sini, memang pada saat Chairil Anwar jatuh hati pada Sri Ajati, diakui Sri dia sudah punya kekasih yaitu seorang dokter. Sri jelas lebih memilih kawin dengan dokter itu, ketimbang Seniman Bohemian tanpa masa depan!</p>
<p>Sedang Dien Tamaela diabadikan pada puisi Cerita Buat Dien Tamaela, sebagai pelampiasan ungkapan cintanya yang bertepuk sebelah tangan dengan Dien Tamaela. Satu hal karena memang Dien tak suka, hal lain disebutkan juga karena mendapat tentangan kerabat Dien yang asal Maluku dan tak suka Chairil Anwar!</p>
<p>Tragis!</p>
<p>Lelaki flamboyan, dipuja wanita, pengejar cinta wanita toh akhirnya meninggal sendiri, di kamar yang sepi, tanpa di dampingi gadis-gadis yang dicintainya, yang selalu disebutkan dalam puisi-puisinya!</p>
<p>Pada akhirnya ku tak kan sampai padanya….</p>
<p>***</p>
<p><img src="http://darevan.files.wordpress.com/2011/12/soe-hok-gie-2.jpg?w=204" alt="gie" /></p>
<p>Dan beberapa tahun kemudian, setelah Chairil wafat 1949, ada seorang Demonstran yang perawakannya hampir mirip  Chairil Anwar, kurus bertubuh kecil. Sama seperti Chairil, dia  gila buku pula. Bedanya kalau Chairil Indo, lelaki kecil putih ini peranakan Tionghoa. Dia adalah Soe Hok-gie.</p>
<p>Chairil hidup di jaman Revolusi, Gie hidup di jaman perjuangan heroik Mahasiswa menumbangkan Orde Lama. Indonesia saat itu sama-sama terjajah. Gie, pada jamannya adalah Demonstran yang idealis melawan Tiran dan Komunis (PKI). Di saat perjuangan sebagai seorang Demonstrans itulah, hidup Gie tak jauh juga dengan gadis-gadis. Ada Maria, Rina, Sunarsih yang sering disebut-sebut dalam catatan hariannya. Siapa Maria, Rina, dan Sunarsih? Karena nama-nama tersebut adalah nama samaran, bukan nama gadis sebenarnya, aku coba menyimpulkan sendiri bahwa gadis-gadis itu bisa saja Wiwik, gadis yang suka diajaknya mendaki gunung, lalu Kartini Syahrir, kalau ini berdasarkan pengakuan yang bersangkutan secara jujur dan blak-blakan di buku Gie : Sekali Lagi.</p>
<p>Sama seperti Chairil, rupanya untuk masalah gadis yang dicintainya Gie juga mengalami nasib tragis penolakan atau cinta bertepuk sebelah tangan. Untuk soal tidak diterima keluarga gadis walaupun Gie yakin gadisnya itu mencintainya, kakak Gie, Arief Budiman bahkan mengatakan Gie juga jatuh cinta dengan seorang gadis. Tapi orangtuanya tidak setuju – mereka selalu dihalangi untuk bertemu. Orangtua gadis itu adalah seorang pedagang yang cukup kaya dan Gie sudah beberapa kali bicara dengan dia.</p>
<p>Kepada kakaknya Gie sampai curhat; “Kadang-kadang, saya merasa sedih. Kalau saya bicara dengan ayahnya si…, saya merasa dia sangat menghargai saya. Bahkan dia mengagumi keberanian saya tanpa tulisan-tulisan saya. Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar risikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya”.</p>
<p>Sampai mati muda 1969, sama seperti Chairil Anwar pula, Soe Hok-gie meninggal tanpa pernah mendapatkan gadis yang dicintainya.</p>
<p>Mari sini sayangku, kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku… Pinta Gie dalam puisi dramatis yang ditulis sebelum Gie mendaki menemu ajal. Tapi ketiga gadis yang dicintainya tak datang, Gie tercekik sendiri, di Gunung Semeru…</p>
<p>http://sejarah.kompasiana.com/2010/07/29/gadis-gadisnya-binatang-jalang-dan-sang-demonstran/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/darevan.wordpress.com/2029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/darevan.wordpress.com/2029/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/darevan.wordpress.com/2029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/darevan.wordpress.com/2029/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/darevan.wordpress.com/2029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/darevan.wordpress.com/2029/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/darevan.wordpress.com/2029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/darevan.wordpress.com/2029/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/darevan.wordpress.com/2029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/darevan.wordpress.com/2029/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/darevan.wordpress.com/2029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/darevan.wordpress.com/2029/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/darevan.wordpress.com/2029/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/darevan.wordpress.com/2029/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=darevan.wordpress.com&amp;blog=3658773&amp;post=2029&amp;subd=darevan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://darevan.wordpress.com/2011/12/13/gadis-gadisnya-binatang-jalang-dan-sang-demonstran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89544b4c40ab5a10f2e10bf03ed7ac93?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">da Revan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bambuberderit.files.wordpress.com/2011/04/chairil-a3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">chairil</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://darevan.files.wordpress.com/2011/12/soe-hok-gie-2.jpg?w=204" medium="image">
			<media:title type="html">gie</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rakena!!!</title>
		<link>http://darevan.wordpress.com/2011/10/30/rakena-2/</link>
		<comments>http://darevan.wordpress.com/2011/10/30/rakena-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Oct 2011 08:58:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>da Revan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kambanglah Bungo Parawitan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://darevan.wordpress.com/?p=2007</guid>
		<description><![CDATA[Rumah Gadang di Bukiktinggi Nan di lamannyo tatagak lumbuang Alah tasabuik sajak dulunyo Yo badatak bana di dalam hati Taraso niaik indak ka langsuang Tagak dek hati nan kareh juo Jikok lah indak karano murai Indak lah bondo mambuek sarang Kok indak uda nan dulunyo mamulai Indak lah Adiak mabuak surang Di Maninjau jalan bakelok [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=darevan.wordpress.com&amp;blog=3658773&amp;post=2007&amp;subd=darevan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://darevan.wordpress.com/2011/10/30/rakena-2/"><img src="http://img.youtube.com/vi/R4FuxVBDLN0/2.jpg" alt="" /></a></span>
<p>Rumah Gadang di Bukiktinggi<br />
Nan di lamannyo tatagak lumbuang<br />
Alah tasabuik sajak dulunyo</p>
<p>Yo badatak bana di dalam hati<br />
Taraso niaik indak ka langsuang<br />
Tagak dek hati nan kareh juo</p>
<p>Jikok lah indak karano murai<br />
Indak lah bondo mambuek sarang<br />
Kok indak uda nan dulunyo mamulai<br />
Indak lah Adiak mabuak surang</p>
<p>Di Maninjau jalan bakelok<br />
Jaleh tampaknyo nagari Bayua<br />
Taruihkan jalan ka Lubuak Sao</p>
<p>Asa baniaik ka nan elok<br />
Di dalam hujan, cubo lah jamua<br />
Baju nan basah ka kariang juo</p>
<p>Usahlah denai diagiah baju<br />
Baju nan lamo tak tasaruangkan<br />
Usahlah denai diagiah malu<br />
Malu nan lamo tak tatangguangkan</p>
<p>Unggeh paku tabang ka paku<br />
Tibo di paku lah tabang pulo<br />
Jikok katuju samo katuju<br />
Lamo jo lambek ka jadi juo <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/darevan.wordpress.com/2007/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/darevan.wordpress.com/2007/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/darevan.wordpress.com/2007/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/darevan.wordpress.com/2007/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/darevan.wordpress.com/2007/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/darevan.wordpress.com/2007/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/darevan.wordpress.com/2007/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/darevan.wordpress.com/2007/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/darevan.wordpress.com/2007/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/darevan.wordpress.com/2007/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/darevan.wordpress.com/2007/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/darevan.wordpress.com/2007/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/darevan.wordpress.com/2007/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/darevan.wordpress.com/2007/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=darevan.wordpress.com&amp;blog=3658773&amp;post=2007&amp;subd=darevan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://darevan.wordpress.com/2011/10/30/rakena-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89544b4c40ab5a10f2e10bf03ed7ac93?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">da Revan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Surau Kami, Dulu dan Kini</title>
		<link>http://darevan.wordpress.com/2011/10/29/surau-kami-dulu-dan-kini/</link>
		<comments>http://darevan.wordpress.com/2011/10/29/surau-kami-dulu-dan-kini/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Oct 2011 09:22:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>da Revan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alam Takambang Jadi Guru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://darevan.wordpress.com/?p=2003</guid>
		<description><![CDATA[Dahulu&#8230; Surau adalah bagian dari rantai kehidupan kaum lelaki Minangkabau. Dengan berbekal sekeping Al-Qur&#8217;an, seorang anak lelaki di Minangkabau ‘diserahkan’ oleh keluarganya kepada seorang guru mengaji di surau di kampungnya. Anak lelaki yang tidur di rumah mendapat cemeeh sebagai ‘anak amak’ yang tidur di ketiak ibunya. Artinya ia dianggap agak kewanita-wanitaan. ‘Anak amak’ seperti itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=darevan.wordpress.com&amp;blog=3658773&amp;post=2003&amp;subd=darevan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://niadilova.blogdetik.com/files/2010/12/minang-saisuak-28-suryadi-surau-di-lintau.jpg" alt="surau di lintau" /></p>
<p>Dahulu&#8230;</p>
<p>Surau adalah bagian dari rantai kehidupan kaum lelaki Minangkabau. Dengan berbekal sekeping Al-Qur&#8217;an, seorang anak lelaki di Minangkabau ‘diserahkan’ oleh keluarganya kepada seorang guru mengaji di surau di kampungnya. Anak lelaki yang tidur di rumah mendapat cemeeh sebagai ‘anak amak’ yang tidur di ketiak ibunya. Artinya ia dianggap agak kewanita-wanitaan. ‘Anak amak’ seperti itu akan sering ‘diuji’ oleh teman-temannya, baik dalam bentuk adu kata, adu permainan, maupun adu fisik.</p>
<p>Surau adalah tempat inisiasi oleh seorang Minangkabau sebelum ia pergi menghadang rantau yang bertuah, setelah menyeberangi ‘laut sakti’. Di surau seorang anak lelaki Minangkabau tidak sekedar belajar agama dan belajar membaca Al-Qur&#8217;an (mengaji), tapi juga belajar ilmu bela diri (silek). Sehabis waktu mengaji, anak laki-laki diajari ilmu bela diri (silek) guru mengajinya atau oleh seorang pendekar di kampung itu, sebagai bekal untuk ‘mailak’an karambia malanja’, terutama bila sudah berada di perantauan nanti.</p>
<p>Seiring dengan perkembangan Islam di Minangkabau, dan lebih-lebih lagi setelah zaman Padri, beberapa surau menjadi sekolah agama (Godsdienstscholen) dengan banyak murid, seperti pesantren di Jawa. Pionir surau seperti ini adalah Surau Syekh Burhanuddin di Ulakan (Van Ronkel, 1914). Pada paroh kedua abad ke-19 ditemukan beberapa surau penting di <em>darek</em> yang mempunyai banyak murid (santri), seperti di Caluak, Padang Sibusuak, Koto Tuo, Tanjuang Barulak, Simabua, Koto Anau, dll (Verkerk Pistorius, 1869:444-5). Seorang Minangkabau menulis dalam jurnal De Indische Gids (1888.I:312-333) yang bertajuk “De Masdjid’s en Inlandsche Godsdienstcholen in Padangsche Bovenlanden” (‘Mesjid dan Sekolah-sekolah Agama di Padang Darat’) mencatat bahwa ketika ia berkunjung ke Surau Batu Hampar pada 18 April 1888, ia melihat banyak santri belajar di sana yang, dari mendengar logat mereka waktu berbicara, kelihatannya mereka berasal dari berbagai daerah di dan dari luar Minangkabau.</p>
<p>Gambar ilustrasi di atas adalah foto litografi sebuah surau di Lintau. Foto ini dibuat oleh C. Nieuwenhuis pada tahun 1890. Ah… betapa enaknya tidur di surau seperti ini sehabis mengaji dan belajar silat yang membuat peluh mengalir. Jika hujan turun di malam hari, tidur di surau bisa menjadi lebih lelap. Lantai kayunya tetap membuat tubuh terasa hangat di atas tikar pandan dan di balik kain sarung. Kita patut berterima kasih kepada Muhammad Radjab yang dalam otoriobrafinya, Semasa Kecil di Kampung, 1913-1928 (Djakarta: Balai Poestaka, 1950) antara lain berkisah tentang suasana kehidupan anak lelaki Minangkabau dalam lingkungan surau di kampungnya di Singkarak.</p>
<p>Perhatikan arsitektur surau ini yang bergaya Koto Piliang, yang memadukan bentuk atap rumah gadang Minangkabau dan bentuk bangunan mesjid yang yang bergaya Islam. Dulu surau-surau dengan bangunan khas seperti ini – dengan arsitektur bergaya Koto Piliang dan Bodi Caniago – ditemukan di banyak nagari di Minangkabau. Beberapa di antaranya sekarang masih dapat ditemukan di beberapa nagari di Sumatra Barat.</p>
<p>Kini&#8230;</p>
<p>Banyak surau tradisional di desa-desa Minangkabau direnovasi oleh penduduk setempat dengan menghilangkan bentuk aslinya. Surau-surau baru dibangun dengan dinding beton, lantai marmer, jendela kaca, dan kubah model mesjid-mesjid di Arab. Dengan tidak sadar mereka yang gila modernisasi dan terjangkit euforia globalisasi yang akut telah menghancurkan sejarah mereka sendiri. Sebelum terlanjur habis, surau-surau tradisional Minangkabau yang masih ada sampai sekarang, yang memiliki nilai sejarah yang tinggi, harus diselamatkan.</p>
<p>Artikel aseli dari :</p>
<p>Suryadi – Leiden, Belanda.</p>
<p>Singgalang, Minggu, 12 Desember 2010.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/darevan.wordpress.com/2003/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/darevan.wordpress.com/2003/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/darevan.wordpress.com/2003/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/darevan.wordpress.com/2003/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/darevan.wordpress.com/2003/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/darevan.wordpress.com/2003/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/darevan.wordpress.com/2003/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/darevan.wordpress.com/2003/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/darevan.wordpress.com/2003/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/darevan.wordpress.com/2003/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/darevan.wordpress.com/2003/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/darevan.wordpress.com/2003/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/darevan.wordpress.com/2003/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/darevan.wordpress.com/2003/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=darevan.wordpress.com&amp;blog=3658773&amp;post=2003&amp;subd=darevan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://darevan.wordpress.com/2011/10/29/surau-kami-dulu-dan-kini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89544b4c40ab5a10f2e10bf03ed7ac93?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">da Revan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://niadilova.blogdetik.com/files/2010/12/minang-saisuak-28-suryadi-surau-di-lintau.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">surau di lintau</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Surat Dari Kampuang</title>
		<link>http://darevan.wordpress.com/2011/07/20/surat-dari-kampuang/</link>
		<comments>http://darevan.wordpress.com/2011/07/20/surat-dari-kampuang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jul 2011 06:14:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>da Revan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Badan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://darevan.wordpress.com/?p=1939</guid>
		<description><![CDATA[Nak Kanduang dagang di rantau Jawek lah pasan ranah tapian Kami kok indak ka dagang silau Sapucuak surek tolong layangkan Kirimkan kami surek sapucuak Elok jo buruak dibaritokan Rusuah nak samo kito pujuak Gamang nak samo dirasokan Jikok batanyo urang ka kami Apolah rundiang ka kami jawab Saribu sasa dalam hati Dagang bangih indak basabab [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=darevan.wordpress.com&amp;blog=3658773&amp;post=1939&amp;subd=darevan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://baltyra.com/wp-content/uploads/2010/05/nulis-surat.jpg" alt="surat dari kampung" /></p>
<p>Nak Kanduang dagang di rantau<br />
Jawek lah pasan ranah tapian<br />
Kami kok indak ka dagang silau<br />
Sapucuak surek tolong layangkan</p>
<p>Kirimkan kami surek sapucuak<br />
Elok jo buruak dibaritokan<br />
Rusuah nak samo kito pujuak<br />
Gamang nak samo dirasokan</p>
<p>Jikok batanyo urang ka kami<br />
Apolah rundiang ka kami jawab<br />
Saribu sasa dalam hati<br />
Dagang bangih indak basabab</p>
<p>Manuruik carito kaba buruang<br />
Dagang lah banyak salah jalan<br />
Bujang banyak ditangkok binguang<br />
Gadih lah banyak nan hilang padoman</p>
<p>Jikok batua mako tajadi<br />
Mungkin dagang malulua sumpah<br />
Lah hilang cahayo matohari<br />
Kiamat nagari Rasulullah</p>
<p>Kami lapeh dagang bajalan<br />
Bukan untuak marantau cino<br />
Mancari ilmu jo pangalaman<br />
Mambangun kampuang jo pusako</p>
<p>Tapi kini apo disabuik<br />
Balain tasuo jo nan dicinto<br />
Layangan putuih, banang lah kusuik<br />
Kumpalan apo lai gunonyo</p>
<p>Kami tak harok jo pakirim<br />
Asa batamu kami lah sanang<br />
Ka panjago silaturrahim<br />
Pamupuak kasih jo sayang</p>
<p>Tapi kini apo dibaco<br />
Kaba indak, barito pun indak<br />
Surek sapucuak haram tibo<br />
Lah hilang rindu jo taragak</p>
<p>Jalan salangkah lupo suruik<br />
Dek lamak lenggok malenggang<br />
Gilo dek rayu rumpuik saruik<br />
Sirieh mawa layua di batang</p>
<p>Dagang lah mabuak jo kiambang<br />
Di kampuang mawa lah jadi karisiak<br />
Manangih lasuang di pintu kandang<br />
Kinantan tabang tak babaliak</p>
<p>Padi taserak lah jadi salibu<br />
Jaguang di kaka lah baurek<br />
Banang lawah manutuik pintu<br />
Kandang lapuak sangkak lah kuyak</p>
<p>Surau langang, balai lah sunyi<br />
Lah hilang lagu dek badendang<br />
Tapian indak sumarak lai<br />
Aia janiah, ikan mahilang</p>
<p>Labuah luruih kini manyimpang<br />
Ulah dialiah dek urang lalu<br />
Cupak di tuka rang padagang<br />
Lah abih galeh baru tau</p>
<p>Pinang mudo layua dibatang<br />
Arai mayang manyasak kulik<br />
Sadah masiak, gambia lah jalang<br />
Carano lah jadi barang antik</p>
<p>Tamanuang pinyaram jo galamai<br />
Wajik maratok di kuali<br />
Tak mungkin lai badan tapakai<br />
Baralek gadang lah jarang kini</p>
<p>Antah ka jadi ka buah tangan<br />
Panyanangan hati rang di Jawo<br />
Elok katiko sadang makan<br />
Kanyang lah lupo di ma asanyo</p>
<p>Manyasa puluik jadi katan<br />
Urang bakandak bareh ampiang<br />
Angek pariuak lah ditahan<br />
Urang manulak masuak piriang</p>
<p>Lai bana badan tapakai<br />
Indak labiah ka kawan kopi<br />
Taonggok duduak dalam kadai<br />
Manunggu urang minum pagi</p>
<p>Dimakan urang sambia galak<br />
Maota sambia bagarah<br />
Lai bana mangatokan lamak<br />
Di harago bakandak murah</p>
<p>Ratok kok lai dagang simak<br />
Himbau kok lai basahuti<br />
Pintak kami indak doh banyak<br />
Pulang kampuang, janguak lah nagari</p>
<p>Tatumpah kasiah di tanah Jawo<br />
Sayang jo kami usah lupokan<br />
Usah turuikkan pandangan mato<br />
Kato batin cubo dangakan</p>
<p>Condong ka nan rancak, pandangan mato<br />
Lamak salero mako bakulek<br />
Kalau lah setan nan mandayo<br />
Kadang tubo tasangko ubek</p>
<p>Mako di kami nan marusuah<br />
Dagang kok mabuak jo kiambang<br />
Mukasuik mahapuih paluah<br />
Palak lapeh, gata nan datang</p>
<p>Ingek-ingek sabalun kanai<br />
Bakulimek sabalun abih<br />
Pinjaik dapek kapak tagadai<br />
Kok batuka galak jo tangih</p>
<p>Kok nyampang surek indak babaleh<br />
Kaba kok indak datang juo<br />
Isi mukasuik kok kurang jaleh<br />
Dangakan sajo surek kaduo</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/darevan.wordpress.com/1939/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/darevan.wordpress.com/1939/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/darevan.wordpress.com/1939/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/darevan.wordpress.com/1939/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/darevan.wordpress.com/1939/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/darevan.wordpress.com/1939/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/darevan.wordpress.com/1939/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/darevan.wordpress.com/1939/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/darevan.wordpress.com/1939/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/darevan.wordpress.com/1939/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/darevan.wordpress.com/1939/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/darevan.wordpress.com/1939/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/darevan.wordpress.com/1939/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/darevan.wordpress.com/1939/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=darevan.wordpress.com&amp;blog=3658773&amp;post=1939&amp;subd=darevan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://darevan.wordpress.com/2011/07/20/surat-dari-kampuang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89544b4c40ab5a10f2e10bf03ed7ac93?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">da Revan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://baltyra.com/wp-content/uploads/2010/05/nulis-surat.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">surat dari kampung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sumpah Cinto</title>
		<link>http://darevan.wordpress.com/2011/06/23/sumpah-cinto/</link>
		<comments>http://darevan.wordpress.com/2011/06/23/sumpah-cinto/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Jun 2011 05:57:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>da Revan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kambanglah Bungo Parawitan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://darevan.wordpress.com/?p=1869</guid>
		<description><![CDATA[Adiak: Den lapeh Uda ka rantau urang Untuang tajajak jo tanah tapi Denai badoa malam jo siang Salamaik Uda pulang jo pai Uda: Nyampang kok denai talambek pulang Kironyo talaik kaba barito Usah putuihkan kasiah jo sayang Tandonyo denai sadang sansaro Ndee&#8230;ehh, usah laaahh ~~~ Kasiah jo sayang usah rangguikkan Bia talambek&#8230; asa lai tibo [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=darevan.wordpress.com&amp;blog=3658773&amp;post=1869&amp;subd=darevan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ohiok.com/img/yourspacecooment/meredo/love/9a95987807822c5875444c5baaca0e8e.jpg" alt="take my hand" /></p>
<p>Adiak:</p>
<blockquote><p>Den lapeh Uda ka rantau urang<br />
Untuang tajajak jo tanah tapi<br />
Denai badoa malam jo siang<br />
Salamaik Uda pulang jo pai</p></blockquote>
<p>Uda:</p>
<blockquote><p>Nyampang kok denai talambek pulang<br />
Kironyo talaik kaba barito<br />
Usah putuihkan kasiah jo sayang<br />
Tandonyo denai sadang sansaro</p></blockquote>
<p>Ndee&#8230;ehh, usah laaahh ~~~<br />
Kasiah jo sayang usah rangguikkan<br />
Bia talambek&#8230; asa lai tibo<br />
Sumpah cinto den&#8230; jan diragukan</p>
<p>Hiduik jo mati indak bacarai<br />
Ka Nan Kuaso basarah diri</p>
<p>Uda:<br />
<blockquote>Salah di Adiak malupokan denai</p></blockquote>
<p>Adiak:<br />
<blockquote>Badoso Uda mungkia jo janji</p></blockquote>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/darevan.wordpress.com/1869/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/darevan.wordpress.com/1869/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/darevan.wordpress.com/1869/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/darevan.wordpress.com/1869/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/darevan.wordpress.com/1869/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/darevan.wordpress.com/1869/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/darevan.wordpress.com/1869/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/darevan.wordpress.com/1869/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/darevan.wordpress.com/1869/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/darevan.wordpress.com/1869/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/darevan.wordpress.com/1869/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/darevan.wordpress.com/1869/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/darevan.wordpress.com/1869/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/darevan.wordpress.com/1869/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=darevan.wordpress.com&amp;blog=3658773&amp;post=1869&amp;subd=darevan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://darevan.wordpress.com/2011/06/23/sumpah-cinto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89544b4c40ab5a10f2e10bf03ed7ac93?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">da Revan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ohiok.com/img/yourspacecooment/meredo/love/9a95987807822c5875444c5baaca0e8e.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">take my hand</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kepada Dua Gunung, Aku Bertanya</title>
		<link>http://darevan.wordpress.com/2011/05/29/kepada-dua-gunung-aku-bertanya/</link>
		<comments>http://darevan.wordpress.com/2011/05/29/kepada-dua-gunung-aku-bertanya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 May 2011 15:33:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>da Revan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Binatang Jalang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://darevan.wordpress.com/?p=1865</guid>
		<description><![CDATA[Merapi dan Singgalang tampak dari Danau Singkarak *** Kepada Singgalang, bertanya aku Wahai gunung, masa kanakku di lututmu&#8230; kampung ibuku Kenapa indahmu dari dahulu tak habis-habis jadi rinduku Kepada Merapi, berkata aku Wahai gunung, masa bayiku di telapakmu&#8230; kampung ayahku Kenapa gagahmu dari dahulu tak habis-habis dari ingatanku Kedua gunung tentu saja Cuaca dingin bahasanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=darevan.wordpress.com&amp;blog=3658773&amp;post=1865&amp;subd=darevan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://farm3.static.flickr.com/2683/4401107660_0093b95e3d.jpg" alt="merapi singgalang" /><br />
Merapi dan Singgalang tampak dari Danau Singkarak</p>
<p>***</p>
<p>Kepada Singgalang, bertanya aku</p>
<p>Wahai gunung, masa kanakku di lututmu&#8230; kampung ibuku<br />
Kenapa indahmu dari dahulu tak habis-habis jadi rinduku</p>
<p>Kepada Merapi, berkata aku</p>
<p>Wahai gunung, masa bayiku di telapakmu&#8230; kampung ayahku<br />
Kenapa gagahmu dari dahulu tak habis-habis dari ingatanku</p>
<p>Kedua gunung tentu saja<br />
Cuaca dingin bahasanya<br />
Kabut putih kosa katanya<br />
Rintik hujan ungkapannya<br />
Senyap biru bisikannya</p>
<p>Kepada dua gunung kuulang tanya<br />
Berjawab lewat desahan jutaan daun rimba raya<br />
Bergema begitu indahnya lewat margasatwa<br />
Ombak nyanyian insekta betapa merdunya</p>
<p>(Mereka menjawab) bertanya lah pada Yang Di Atas Sana</p>
<p><strong>TAUFIQ ISMAIL</strong></p>
<p>( Idul Adha, Senin 8 Desember 2008)<br />
Nagari Aie Angek, di seberang Nagari Pandai Sikek</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/darevan.wordpress.com/1865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/darevan.wordpress.com/1865/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/darevan.wordpress.com/1865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/darevan.wordpress.com/1865/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/darevan.wordpress.com/1865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/darevan.wordpress.com/1865/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/darevan.wordpress.com/1865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/darevan.wordpress.com/1865/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/darevan.wordpress.com/1865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/darevan.wordpress.com/1865/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/darevan.wordpress.com/1865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/darevan.wordpress.com/1865/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/darevan.wordpress.com/1865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/darevan.wordpress.com/1865/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=darevan.wordpress.com&amp;blog=3658773&amp;post=1865&amp;subd=darevan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://darevan.wordpress.com/2011/05/29/kepada-dua-gunung-aku-bertanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89544b4c40ab5a10f2e10bf03ed7ac93?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">da Revan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://farm3.static.flickr.com/2683/4401107660_0093b95e3d.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">merapi singgalang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antara Senen dan Senayan &#8212; Kisah Seorang Rantau Muda</title>
		<link>http://darevan.wordpress.com/2011/05/24/antara-senen-dan-senayan-kisah-seorang-rantau-muda/</link>
		<comments>http://darevan.wordpress.com/2011/05/24/antara-senen-dan-senayan-kisah-seorang-rantau-muda/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 May 2011 07:44:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>da Revan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Garah Jadi Carito]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://darevan.wordpress.com/?p=1843</guid>
		<description><![CDATA[Takaba Si Buyung pai marantau ke tanah Betawi&#8230; melanjutkan tradisi sebagai seorang lelaki Minang dalam mencari jati diri. Di Betawi, Buyung tinggal bersama mamak (paman) yang telah menjadi rangkayo gadang (orang kaya besar), seorang pedagang baju di Pasar Tanah Abang. Singkat cerita, Buyung mendengar bahwa tim sepakbola kesukaannya &#8220;Kabau Sirah&#8221; hendak beradu tanding melawan tim [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=darevan.wordpress.com&amp;blog=3658773&amp;post=1843&amp;subd=darevan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://stat.ks.kidsklik.com/files/2010/02/merantau06.jpg" alt="buyung" /></p>
<p><em>Takaba</em> Si Buyung<em> pai marantau</em> ke tanah Betawi&#8230; melanjutkan tradisi sebagai seorang lelaki Minang dalam mencari jati diri. Di Betawi, Buyung tinggal bersama <em>mamak</em> (paman) yang telah menjadi <em>rangkayo gadang</em> (orang kaya besar), seorang pedagang baju di Pasar Tanah Abang.</p>
<p><img src="http://www.swaberita.com/wp-content/uploads/2008/09/pasar-tanah-abang.jpg" alt="tenabang" /></p>
<p>Singkat cerita, Buyung mendengar bahwa tim sepakbola kesukaannya &#8220;Kabau Sirah&#8221; hendak beradu tanding melawan tim ibukota di Gelora Bung Karno, Senayan.</p>
<p><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs191.ash2/45461_146456525388895_100000736458316_259002_3864825_n.jpg" alt="kabau sirah" /></p>
<p>Mendengar hal tersebut, tentu saja Buyung ingin menonton pertandingan tersebut. Maka bertanya lah Buyung ke <em>mamak</em>-nya:</p>
<blockquote><p>&#8220;<em>Mak&#8230; kok dari siko ka tampek urang ka tandiang bola tu naiak apo??</em>&#8220;<br />
(&#8220;Om&#8230; kalau dari sini &#8212; rumah <em>mamak</em> si Buyung ini di Cililitan &#8212; ke tempat orang tanding bola naik apa  (kendaraannya)??&#8221;)</p></blockquote>
<p>Menjawab lah <em>mamak</em> si Buyung ini:</p>
<blockquote><p>&#8220;<em>Ang naiak se bus gadang dari simpang nan ka arah Senayan</em>&#8220;<br />
(&#8220;Kamu naik saja bisa besar dari simpang yang ke arah Senayan&#8221;)</p></blockquote>
<p><img src="http://www.swaberita.com/wp-content/uploads/2008/05/senayan1.jpg" alt="bus gadang" /></p>
<p>Tanpa banyak tanya lagi, langsung lah Buyung berangkat menuju ke simpang untuk menyetop bus <em>gadang</em> diceritakan sang paman.</p>
<p>Lama menunggu bus yang dinanti tak kunjung tiba, setelah setengah jam menunggu&#8230; lewat lah bus jurusan Senen. Dalam bahasa sehari-hari Si Buyung di kampungnya, yaitu bahasa Minang&#8230; kata &#8220;senayan&#8221; berarti hari Senin. Adapun nama-nama hari berturut dalam seminggu adalah: Akad, Senayan, Salasa, Raba&#8217;a, Kamih, Jumaik, dan Sabtu. Maka, Si Buyung pun berpikir:</p>
<blockquote><p>&#8220;<em>Ah&#8230; mungkin yang dimaksud oleh paman, bus jurusan Senen kali yaa</em>&#8220;</p></blockquote>
<p><img src="http://cakrawalaindah.files.wordpress.com/2007/06/senen1.jpg?w=468" alt="senen" /></p>
<p>Tanpa pikir panjang, Buyung pun langsung naik bis jurusan Senen. Setibanya di Pasar Senen, kenek bus pun berkata:</p>
<blockquote><p>&#8220;<em>Yaaakk&#8230; Senen abhis, Senen abhis</em>&#8220;</p></blockquote>
<p>Si Buyung pun bertanya pada sang kenek:</p>
<blockquote><p>&#8220;Mas&#8230; lapangan bolanya di mana?&#8221;</p></blockquote>
<p>Sang kenek pun bingung, dan balik bertanya:</p>
<blockquote><p>&#8220;Maksudnya lapangan bola Senayan??&#8221;</p></blockquote>
<p>Si Buyung pun menjawab:</p>
<blockquote><p>&#8220;Iya, lapangan bola Senen&#8221;</p></blockquote>
<p>&#8230; katanya, karena takut dikira tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.</p>
<p>Sang kenek pun menjawab:</p>
<blockquote><p>&#8220;Oh&#8230; kalau lapangan bola adanya di Senayan, mas&#8230; cukup jauh dari sini&#8221;</p></blockquote>
<p>Buyung membalas:</p>
<blockquote><p>&#8220;Loh, bagaimana ini&#8230; katanya lapangan bola di Senen, kok sekarang malah di bilang jauh dari sini??&#8221;</p></blockquote>
<p>&#8230; ujar Buyung tetap tak mau kalah dan masih mengira bahwa Senayan = Senen.</p>
<p>Selang berdebat alot antara Senen dan Senayan, datang lah seorang penjual Sate Padang, Ajo Sidi, dan berkata:</p>
<blockquote><p>&#8220;<em>Oi yuang&#8230; waang tu nan sasek, di siko ado Senayan, ado pulo Senen. Indak samo bagai kaduonyo</em>&#8220;<br />
(&#8220;Hai Buyung&#8230; kamu itu yang sesat, di sini (Jakarta) ada Senayan, ada pula Senen&#8230; dan tidak lah sama di antara keduanya&#8217;)</p></blockquote>
<blockquote><p>&#8220;<em>Ooohh&#8230; sasek ambo Jo, ambo ka mancaliak tandiang bola, Kabau Sirah jo Persija</em>&#8220;<br />
&#8220;(Oh, sesat saya ya Jo, saya mau lihat tanding bola ni, Kerbau Merah lawan Persija)&#8221;</p></blockquote>
<p>&#8230; ujar Buyung tersadar.</p>
<blockquote><p>&#8220;<em>Iyo&#8230; tandiang bola lah mulai tu haa. Elok kito danga sajo dari radio, ko ambo agiah sate sapiriang perai</em>&#8220;<br />
&#8220;(Iya&#8230; tanding bolanya sudah mulai. Lebih baik kita dengar saja dari radio, ini saya kasih sate sepiring gratis)&#8221;</p></blockquote>
<p>&#8230; jawab Ajo Sidi.</p>
<p><img src="http://darevan.files.wordpress.com/2011/05/sate2bpadang2b2528small2529.jpg?w=300" alt="sate padang" /></p>
<p>***</p>
<p>Yaahhh&#8230; minimal Si Buyung dapat pelajaran hari ini, bahwa Senen tidak sama dengan Senayan dan sepiring sate dari Ajo Sidi <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>~dR</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/darevan.wordpress.com/1843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/darevan.wordpress.com/1843/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/darevan.wordpress.com/1843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/darevan.wordpress.com/1843/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/darevan.wordpress.com/1843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/darevan.wordpress.com/1843/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/darevan.wordpress.com/1843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/darevan.wordpress.com/1843/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/darevan.wordpress.com/1843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/darevan.wordpress.com/1843/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/darevan.wordpress.com/1843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/darevan.wordpress.com/1843/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/darevan.wordpress.com/1843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/darevan.wordpress.com/1843/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=darevan.wordpress.com&amp;blog=3658773&amp;post=1843&amp;subd=darevan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://darevan.wordpress.com/2011/05/24/antara-senen-dan-senayan-kisah-seorang-rantau-muda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89544b4c40ab5a10f2e10bf03ed7ac93?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">da Revan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://stat.ks.kidsklik.com/files/2010/02/merantau06.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">buyung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.swaberita.com/wp-content/uploads/2008/09/pasar-tanah-abang.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tenabang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs191.ash2/45461_146456525388895_100000736458316_259002_3864825_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kabau sirah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.swaberita.com/wp-content/uploads/2008/05/senayan1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bus gadang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cakrawalaindah.files.wordpress.com/2007/06/senen1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">senen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://darevan.files.wordpress.com/2011/05/sate2bpadang2b2528small2529.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">sate padang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>3 Cerita Sebelum Adu Kerbau</title>
		<link>http://darevan.wordpress.com/2011/05/20/3-cerita-sebelum-adu-kerbau/</link>
		<comments>http://darevan.wordpress.com/2011/05/20/3-cerita-sebelum-adu-kerbau/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 May 2011 07:01:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>da Revan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alam Takambang Jadi Guru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://darevan.wordpress.com/?p=1836</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan iko ambo sadur dari Sutan Rajo Imbang di Marawa News, tentang teka-teki yang diajukan oleh orang negeri seberang ketika mereka bertandang ke Ranah Minang. Alkisah dahulu di Minangkabau ado panghulu nan bagala Datuak Tuo, beliau berserta kaumnya menyambut kedatangan orang dari negeri seberang, orang-orang tersebut membawa sekapal (sekepal??) emas dan mengajak Datuk dan kaumnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=darevan.wordpress.com&amp;blog=3658773&amp;post=1836&amp;subd=darevan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.marawanews.com/images/stories/Gambar_Berita/penghulu.jpg" alt="marawa" /></p>
<p>Tulisan iko ambo sadur dari Sutan Rajo Imbang di <a href="http://www.marawanews.com/minangkabau/marawa-lambang-kamanangan-adu-kabau-menanga-kerbawa" title="marawa" target="_blank">Marawa News</a>, tentang teka-teki yang diajukan oleh orang negeri seberang ketika mereka bertandang ke Ranah Minang.</p>
<p>Alkisah dahulu di Minangkabau ado panghulu nan bagala Datuak Tuo, beliau berserta kaumnya menyambut kedatangan orang dari negeri seberang, orang-orang tersebut membawa sekapal (sekepal??) emas dan mengajak Datuk dan kaumnya untuk bertaruh.</p>
<p><strong>1. Nan Ma Ujuang, Nan Ma Pangka??</strong></p>
<p>Taruhan pertama, mereka mengeluarkan sebilah kayu berbentuk penggaris (mistar) dan berkata:</p>
<blockquote><p>&#8220;Coba Datuk tebak yang mana yang pangkal dan ujung kayu??&#8221;<br />
&#8220;Jika Datuk bisa menjawab, 1/4 emas kapal ini untuk Datuk. Namun jika salah, 1/4 tanah Datuk untuk kami&#8221;
</p></blockquote>
<p>Setelah berembuk dengan kaum, Datuk pun mengambil benang dan mengikatnya pada bagian tengah-tengah kayu tersebut. Kemudian kayu digantungkan, sehingga kayu tentu akan condong ke arah pangkal. Tebakan pertama benar dan Datuk beserta kaumnya mendapat emas dari 1/4 kapal dari orang negeri seberang tersebut.</p>
<p><strong>2. Nan Ma Jantan, Nan Ma Batino??</strong></p>
<p>Tebakan kedua, orang negeri seberang tersebut membawa kepada Datuk dan kaumnya sekelompok itik, dan bertanya:</p>
<blockquote><p>&#8220;Mana itik jantan dan mana yang betina??&#8221;<br />
&#8220;Jika Datuk bisa menjawab, 1/4 emas kapal ini untuk Datuk. Namun jika salah, 1/4 tanah Datuk untuk kami&#8221;</p></blockquote>
<p>Datuk dan kaumnya kemudian membawa itik-itik tersebut ke <em>tabek</em> (kolam), serta-merta sebagian itik ada yang berenang dan ada yang berdiam di tepi kolam. Datuk pun berkata:</p>
<blockquote><p>&#8220;Yang masuk tebat itik jantan, yang tinggal di tepinya adalah betina&#8221;<br />
&#8220;Karena pada hakikatnya yang jantan keluar rumah, yang betina tetap di rumah&#8221;</p></blockquote>
<p>Tebakan kedua benar lagi, maka Datuk dan kaumnya mendapat emas 1/4 kapal lagi dari orang negeri seberang.</p>
<p><strong>3. Sia Nan Paliang Gadang??</strong></p>
<p>Tak habis akal, orang seberang pun mengajukan tantangan ke-3:</p>
<blockquote><p>&#8220;Siapa yang paling besar (<em>gadang</em>) di negeri ini??&#8221;</p></blockquote>
<p>Datuk pun mengeluarkan <em>sarawa galambuak</em> (celana yang digunakan oleh anak nagari dalam permainan <em>Randai</em>), yang bentuknya sekilas mirip celana dalam (sempak), dan berkata:</p>
<blockquote><p>&#8220;Celana dalamnya saja besar seperti ini, tentu terbayang oleh Tuan bagaimana besar pemiliknya&#8221;</p></blockquote>
<p>Orang negeri seberang pun mengaku kalah, dan mereka mengajukan taruhan terakhir yaitu adu kerbau. Yang kemudian menjadi salah satu cerita mengenai asal-usul nama Minangkabau.</p>
<p>***</p>
<p>Cerita di atas mungkin lebih banyak dongeng daripada nyata, namun yang ingin hamba kemukakan adalah bagaimana kita dalam menghadapi masalah sesulit apa pun hendaknya dengan bijak dan kepala dingin. Dengan prinsip &#8220;<em>tak ado gayuang nan tak basambuik, tak ado kato nan tak babaleh</em>&#8220;</p>
<p><strong>~dR</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/darevan.wordpress.com/1836/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/darevan.wordpress.com/1836/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/darevan.wordpress.com/1836/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/darevan.wordpress.com/1836/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/darevan.wordpress.com/1836/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/darevan.wordpress.com/1836/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/darevan.wordpress.com/1836/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/darevan.wordpress.com/1836/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/darevan.wordpress.com/1836/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/darevan.wordpress.com/1836/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/darevan.wordpress.com/1836/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/darevan.wordpress.com/1836/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/darevan.wordpress.com/1836/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/darevan.wordpress.com/1836/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=darevan.wordpress.com&amp;blog=3658773&amp;post=1836&amp;subd=darevan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://darevan.wordpress.com/2011/05/20/3-cerita-sebelum-adu-kerbau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89544b4c40ab5a10f2e10bf03ed7ac93?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">da Revan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.marawanews.com/images/stories/Gambar_Berita/penghulu.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">marawa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Destinasi</title>
		<link>http://darevan.wordpress.com/2011/05/13/destinasi/</link>
		<comments>http://darevan.wordpress.com/2011/05/13/destinasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 May 2011 01:54:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>da Revan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kambanglah Bungo Parawitan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://darevan.wordpress.com/?p=1832</guid>
		<description><![CDATA[Di hati yang mana&#8230; ku temu cinta terindah Kau berikan ku jawaban&#8230; tiada lagi persoalan Sambut cintaku ini sayang&#8230; berselimutkan kasih kita Di ruang hatiku yang terpencil.. mekar cinta kita yang akhir Kini menuju ke destinasi&#8230; puncak cinta tertinggi Aku menunggumu&#8230; aku takkan jemu Karena cinta itu&#8230; termanis bagiku Mimpiku semalam&#8230; kau hadir bersama cinta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=darevan.wordpress.com&amp;blog=3658773&amp;post=1832&amp;subd=darevan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://darevan.wordpress.com/2011/05/13/destinasi/"><img src="http://img.youtube.com/vi/Ynn0_h3cz4k/2.jpg" alt="" /></a></span>
<p>Di hati yang mana&#8230; ku temu cinta terindah<br />
Kau berikan ku jawaban&#8230; tiada lagi persoalan<br />
Sambut cintaku ini sayang&#8230; berselimutkan kasih kita<br />
Di ruang hatiku yang terpencil.. mekar cinta kita yang akhir</p>
<p>Kini menuju ke destinasi&#8230; puncak cinta tertinggi<br />
Aku menunggumu&#8230; aku takkan jemu<br />
Karena cinta itu&#8230; termanis bagiku</p>
<p>Mimpiku semalam&#8230; kau hadir bersama cinta<br />
Kau lukiskan dua hati&#8230; lambang kasih sayang sejati<br />
Kau datang bersama sinar&#8230; menyuluh hatiku yang pudar<br />
Kini semua kembali berseri&#8230; bila kau hadir kudamba</p>
<p>Matahari masih jingga&#8230; menyala cinta bagai bara<br />
Perjanjian kita berdua&#8230; kekal selama berdua berdoa bersama sayang</p>
<p><strong>Transkripsi ~ Siti Nurhaliza</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/darevan.wordpress.com/1832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/darevan.wordpress.com/1832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/darevan.wordpress.com/1832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/darevan.wordpress.com/1832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/darevan.wordpress.com/1832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/darevan.wordpress.com/1832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/darevan.wordpress.com/1832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/darevan.wordpress.com/1832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/darevan.wordpress.com/1832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/darevan.wordpress.com/1832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/darevan.wordpress.com/1832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/darevan.wordpress.com/1832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/darevan.wordpress.com/1832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/darevan.wordpress.com/1832/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=darevan.wordpress.com&amp;blog=3658773&amp;post=1832&amp;subd=darevan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://darevan.wordpress.com/2011/05/13/destinasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89544b4c40ab5a10f2e10bf03ed7ac93?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">da Revan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
