Insomnia’s Story

Buka matamu Varen!

Kata-kata itu selalu membuatku terjaga jadi tidurku.

Victoria, ya gadis kecil itu terus mengganggu tidurku. Mata berat, kepala pusing, hidung tersumbat, bersin-bersin, batuk-batuk gak jelas. Aduh, kayaknya mau demam nih. Hatsyii … !!!

Kuseruput dalam-dalam teh plus creamer yang kubuat semalam, sudah dingin dan mengental. Udara di lab sangat dingin.

Kembali ke Victoria …

Ya, secara hukum memang aku yang menyebabkan kecelakaan itu. Polisi menginterogasiku lebih dari 8 jam. Melebihi interogasi seorang anggota parlemen yang didakwa melakukan tindakan ASUsila.

“Mr. Varen. Apa pada saat itu Anda mengemudi dalam keadaan mabuk?” tanya seorang polisi berkumis hitam tebal, sangat kontras untuk polisi-polisi di Virginia. Mungkin itu polisi keturunan Suriname.

“Kalau mabuk minuman, tentu tidak!” jawabku tegas. Sebab minuman yan kupesan di Flame Station, Bajour St. No. 9, jelas-jelas bertuliskan MIJON, kadar alkohol -4%. Minuman impor dari negara dunia ke-empat memang cukup fenomenal. Selain menjadikan tubuh 120%, minuman ini juga ampuh untuk pembersih lantai.

“Tapi aku mabuk cinta!” lanjutku tajam.

Sejenak, polisi tersebut mengernyitkan dahi dan berpikir … hmmm

Kembali ke Victoria …

Ya, sebenarnya aku tidak benar-benar mabuk cinta, jika saja aku tidak mulai bermain api itu. Awal pertemuan di gerbang selatan taman kota, di bawah patung seorang pejuang revolusi dan kudanya. Waktu itu dia berkata, “Bang, bisa tolong garukkan punggungku, gatal nih,” pintanya memelas. Apa daya, akhirnya kugaruk punggungnya dengan kaki kananku. Karena kedua tanganku memegang buku yang cukup fenomenal saat itu, LA TAQROBUZZINA. Sebenarnya ada satu buku lagi yang cukup fenomenal, KETIKA TASBIH BERCINTA.

Kami mulai dekat, kirim-mengirim pesan singkat via Merpati Pos. Setiap kali aku mengirim 10 pesan, maka gratis 10 pesan.

Suatu ketika dia memintaku untuk menemaninya ke pesta perceraian teman dekatnya. Dengan malu-mau, dia mengirimkan pesan kepadaku via panti pijat, “Bang, dateng ya bang. Temani aku … kyaa”

Tapi aku malah pergi dengan wanita lain, tanpa menghiraukan perasaannya yang menungguku sampai jam 9 malam.

Brrmm brrmm … suara panzer orang-orang junta militer yang mengadakan razia jam malam, mengundurkan langkah Victoria yang menungguku. Dengan sedih dan menangis …😦

Sebenarnya aku bukannya tak tahu diri. Aku pergi dengan Maria malam itu. Rencananya mau melihat Flame Station yang mau dia jadikan bahan skripsinya. Melihat perilaku pengunjung Flame Station sebagai tema. Maria adalah mahasiswi tingkat akhir jurusan geografi. Entah mengapa dia mengajakku, seorang arsitek gagal, yang tak bisa membuat garis lurus di atas kertas dengan satu kaki berdiri, satu tangan memegang kuping, dan lidah berusaha menjilat siku. Ternyata sampai di sana, suasana sangat ramai. Tujuan semula jelas buyar.

Akhirnya Maria mengajakku ke daerah utara, untuk melihat aurora dan kijang-kijang berlarian di padang rumput. Tak kusangka, Maria meyatakan cintanya padaku. Sebenarnya, bukan aku tak suka dia. Anak orang kaya, keponakan vokalis band legendaris Rest In Peace (R.I.P), punya suara seperti Dolores The Cranberries. Tetapi sesungguhnya aku belum siap jika pacarku menjadi seorang selebritis. Gak kebayang bow.

Aku ini binatang jalang, dari kumpulan yang terbuang. Aku tak ingin menjadi pacarnya, karena aku tak tega melihat dia kelak mesti menjelaskan kepada pers bahwa aku bukan supirnya.

Kembali ke Victoria …

Kriingg kriingg …

“Hasan, bangun, ada telepon nih!” teriak bibi angkatku dari lantai 4. Kamarku ada di lantai satu. Bibi angkatku mempunyai hutang yang cukup banyak pada orang tua kandungku. Karena tak sanggup melunasi, maka dia mengadopsiku sebagai anak. Apes -_-

Dengan mata berat, aku menaki tangga menuju ke lantai 4. Tiba-tiba kusadar, namaku kan bukan Hasan? Hasan itu nama tukang kebun bibi angkatku.

“Ah, keganggu tidur gw,” gerutuku dalam hati … <_<

Ku cek telegram yang masuk (HP belom ada), ada pesan dari Diana:
“Hasan, nanti malam jalan yuk.”

“Huh, Hasan lagi, Hasan lagi.”

Tiba-tiba Maria ada di depan pintu rumah. “Temui aku di taman kota jam 2 siang ini.” Katanya singkat dan langsung kabur begitu saja.

Siangnya …

“Jadi kau sudah menemukan penggantiku Maria?” kataku pelan, takut menyakiti perasaannya.

“Sudah, dia temanmu juga, Eri” jawabnya berat.

Eri adalah teman mengajiku, selepas khatam, kami tak lagi bersua. Terakhir kudengar dia menjadi aktifis orang hilang.

“Baguslah, kini aku bisa tidur dengan tenang,” jawabku sambil menatap bulan.

Zzz zzz …
Zzz zzz …
Zzz zzz …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: