Dualisme Aliran Seni Tari Minangkabau

Dewasa ini seni tari Minangkabau dipengaruhi oleh dua aliran nan tampaknya saling bertolak belakang, namun sebenarnya keduanya saling melengkapi ibarat Yin dan Yang. Keduanya mencerminkan kekayaan tari Minang nan fleksibel dan dinamis.

Dua aliran tersebut dipimpin oleh dua orang maestro tari Minang, yaitu Bundo Gusmiati Suid dan Mandeh Sofyani. Aliran yang dipimpin oleh Bundo Gusmiati Suid cenderung “tageh” (tegas) dan didasari oleh gerakan pencak silat, yang diiringi oleh alunan musik Minang nan simple, seperti talempong pacik –>> contoh : Tari Rantak. Sementara aliran yang dipimpin oleh Mandeh Sofyani cenderung dinamis dan gemulai, yang diiringi oleh alunan musik Minang nan kompleks, seperti Tari Galuak (Tampuruang).

***

Rantak

Akhir abad ke-20, dapat dikatakan hampir di semua penjuru wilayah Indonesia, telah terjadi proses peminggiran dan pengabaian terhadap bentuk-bentuk seni tradisi. Perubahan ini disebabkan karena pesatnya perkembangan industrialisasi sehingga berakibat pada urbanisasi, kemudian dalam perkembangan kebudayaan massa, kehadiran acara televisi, musik populer, dan bioskop menjadi tak terbendung.

Secara garis besar pengaruh modernisasi terhadap kehidupan seni tradisi tampak jelas dengan adanya kecenderungan ke arah komersialisasi dan sekularisasi. Pada zaman modern memang selalu terjadi benturan-benturan antara nilai-nilai lama yang terkandung di dalam seni pertunjukan tradisional dan nilai-nilai baru pada seni pertunjukan massa. Cukup banyak alasan yang muncul, diantaranya seni tradisi dianggap tidak lagi relevan dengan semangat zaman, seni pertunjukkan tradisional sangat rumit untuk dipahami dan tidak menghibur sehingga tidak perlu lagi disediakan ruang selayaknya.

Pandangan orang terhadap seni tradisi yang sudah tidak relevan terhadap semangat zaman, sudah kuno dan kolot kemudian dibantah oleh Gusmiati Suid, seorang koreografer tari internasional. Ia mencoba untuk mempelajari, merenungkan, mengolah, dan menyajikan jenis seni pertunjukan tari dalam bentuk yang baru, dengan gerakan-gerakan yang dinamis dan enerjik, namun tetap menyiratkan tradisi budaya Minangkabau. Gerakan tari yang tercipta berasal dari gerak pencak silat yang merupakan akar tari Minangkabau dan mengandung falsafah Minangkabau yang kuat.

Kalangan seniman tari Minangkabau mengakui apa yang telah dicapai Gusmiati Suid. Ia dianggap mampu melakukan revitalisasi budaya, ketika seni tradisi Minangkabau yang mengandung arti falsafah hidup serta berakar dari gerak pencak silat mengalami proses peminggiran dengan gerak gaya Melayu yang hanya mementingkan pada hiburan semata. Gusmiati Suid memberikan tawaran dan jalan keluar yang kreatif untuk menghadapi proses peminggiran budaya tersebut. Gusmiati Suid kembali menggunakan pencak silat yang merupakan akar dari gerak tari Minangkabau sebagai gerak karya tarinya dan mengandung falsafah Minangkabau dalam menyampaikan sebuah pesan.

Gusmiati Suid dalam perjalanan kreatifnya, sangat sadar bahwa tampilan Minangkabau dalam tari, terletak pada penguasaan pamenan yang berdasarkan pancak. Ia menekankan bahwa penguasaan bentuk-bentuk tari tradisi sebagai bahasa karya baru, semestinya diikuti dengan penguasaan pencak. Bahkan bagi Gusmiati Suid pencak tidak hanya harus dilakukan secara teknik, tetapi juga dipahami dalam konteks filosofinya.

Dalam karya-karyanya, Gusmiati Suid selalu menggunakan vokabuler pamenan (tari tradisi) yang berdasarkan pencak yang kuat. Akibatnya, karya-karya yang dilahirkan dapat menjadi wacana tersendiri sebagai reaksi dari pada tampilan budaya Minangkabau yang terekspresikan dalam gerak tarinya. Hal demikian sejalan dengan pembinaan terhadap realitas sosial masyarakat dimana ia ikut mempengaruhi kualitas seni pertunjukan itu (Richard Schechner. 2002:110). Karya-karyanya disebut sebagai hal yang memiliki paduan dari sebuah kecermatan, teknik dan semangat yang menyala sebagai esensi kehidupan orang Minangkabau. Ia memiliki suasanan yang tegar dan liris, dengan elemen tradisi dan kontemporer yang cermat dan membangkitkan fantasi (Sal Murgiyanto.2000:77).

Perkembangan seni pertunjukkan kontemporer Indonesia yang terinspirasi oleh kebudayaan Minangkabau, terutama seni tari dan seni musik, tidak dapat dilepaskan dari sosok Gusmiati Suid. Gusmiati Suid telah menemukan sekaligus meletakkan suatu landasan kreatif dalam kesenian Minangkabau yang memungkinkan pula munculnya generasi baru sebagai kreator dalam seni pertunjukkan kontemporer Indonesia yang tetap tidak meninggalkan akar budaya daerahnya.

Dilihat dari apa yang telah dilakukan Gusmiati Suid, terutama dalam hubungan seni tari dengan kebudayaan Minangkabau, beliau telah membuka mata banyak orang untuk lebih mengamati dan mempelajari kembali seni tradisi Minangkabau, yang telah menjadi sumber inspirasi kreatif dan tempat berpijak kreativitas dari Gusmiati Suid sendiri.

Gusmiati Suid adalah salah satu seorang seniman Indonesia yang telah memberikan kontribusi kreatif terhadap perkembangan kesenian, terutama seni tari dan musik yang berakar dari tradisi yaitu Minangkabau. Melalui Gumarang Sakti yang didirikan tahun 1982, Gusmiati Suid telah mengukirkan karyanya selama sembilan belas tahun melalui karya-karya pertunjukkan tari dan musik.

Setelah mengamati karya-karya seni pertunjukan Gusmiati Suid, terdapat ciri khas dan keunikan tertentu, terutama pada gerak tarinya. Meskipun karya-karya seni pertunjukannya termasuk karya kontemporer, namun spirit dan nuansa keminangkabauannya begitu kuat. Gusmiati Suid tidak hanya berhasil menemukan roh dan kekayaan gerak Minangkabau, tetapi juga berhasil meramu kreativitasnya berdasarkan pengalaman dan menjadikan sebuah pertunjukan. Ia selalu menampilakan setiap karya yang dinamis, penuh ide-ide baru, pesan moral dan terkadang menyentak penonton yang melihatnya. Hal ini terbukti dari salah satu karya tarinya, yaitu tari Rantak yang diciptakan pada tahun 1978. Pada saat itu mewakili Sumatera Barat dan memenangkan penghargaan tiga besar dalam Pekan Tari Rakyat di Jakarta tahun 1978. Gerak tari Rantak membuat heboh kalangan seniman tari Indonesia dan terutama seniman Minangkabau, yang menganggap gerak tari Rantak sudah keluar dari gerak tari Minangkabau yang saat itu berakar dari gerak tari Melayu yang lemah gemulai.

Dalam sebuah obrolan saat mementaskan karyanya di Singapura tahun 1997, ia memberikan komentar tentang perlakuannya pada khasanah tradisi untuk kepentingan karya-karyanya. Gusmiati Suid selalu berpatokan pada falsafah Minangkabau “baguru ka alam takambang”. Falsafah ini justru menganjurkan agar setiap manusia atau generasi berdialog dengan zamannya. Itu artinya Minangkabau menolak berada dalam tempurung, dalam kotak tertentu yang tak pernah berubah. Tak ada yang baku di Minangkabau, termasuk karya tari. “Lihatlah pakaian orang Minangkabau, celananya malah celana Jawa, potongan bajunya bergaya Cina…. Nah, itukan dinamis”, ungkapnya. Begitu juga dalam tari, Gusmiati Suid tidak takut berbeda, karena alam mengajarkan kepadanya untuk menjelajahi setiap ruang penghayatan yang hampir setiap waktu berbeda. Minangkabau bagi Gusmiati Suid adalah sebuah esensi.

Saat menggarap Catuah Langkah dan Bakaba, sepuluh tahun ia mempelajari filsafat gerak wanita ideal dalam sastra Minangkabau: Samui tapijak indak mati, alu tatarung patah tigo (semut terpijak tidak mati, alu tertarung patah tiga), sebelum ia benar-benar berani menuangkan ke dalam tari. Samui tapijak indak mati adalah sebuah ilustrasi tentang betapa besar tenaga yang terkandung di tubuh perempuan walaupun ia berjalan lemah gemulai. Ketika menciptakan tari Rantak, selama enam tahun ia mempelajari silat dari berbagai nagari seperti Padang Pariaman, Payakumbuh, Batusangkar dan Agam.

Karya-karya Gusmiati Suid kemudian berhasil mengisi forum-forum internasional, bahkan membuka mata para pengamat seni pertunjukan dunia. Seni pertunjukan tidak selalu harus dari Barat, ia juga bisa datang dari Timur, yaitu dari Indonesia, seperti yang telah dilakukan oleh Gusmiati Suid. Pementasan pertama karyanya pada level internasional dalam acara Asia Festival of Theatre, Dance, and Martial Art di India pada tahun 1987. Gusmiati Suid mendapatkan penghargaan Bessies Award dari New York Dance and Performance pada tahun 1991, setelah mementaskan karyanya dalam pertunjukkan seni tari di Amerika Serikat. Karyanya, Bakaba yang ditampilkan pada festival tersebut mendapatkan pujian dan itu membuatnya menangis. Ia terharu dan senang atas usahanya selama ini untuk terus mengenalkan tari yang berakar dari Minang tanah kelahirannya. Sejak itu pandangan orang-orang daerah kapadanya berubah menilai sosok dan setiap karyanya. Keberhasilan besar Gusmiati Suid sampai saat ini tidaklah mudah diperoleh. Jalan berliku ditempuhnya mulai dari cercaan, sindirian hingga tidak adanya tokoh dan masyarakat Minang yang membantunya baik secara moral maupun moril. Ia dapat dikatakan sebagai seniman tari yang membuka gerbang tari Minangkabau di luar negeri. “Dulukan yang ada cuma tari Bali, kini tari Minangkabau telah mendunia”, tutur Sal Murgiyanto menegaskan eksistensi Gusmiati Suid. Pada tahun 1994 ia bersama Gumarang Sakti menjadi satu-satunya wakil Asia untuk peringatan 100 tahun tari modern pada Internasional Tanzfestival di Jerman. Gusmiati Suid tampil satu forum dengan seniman tari yang sangat disegani di dunia, Pina Bausch.

Apa yang dikerjakan Gusmiati Suid sebenarnya telah dimulai oleh generasi sebelumnya, yakni Hoerijah Adam, seorang seniman Minangkabau yang pernah menjadi guru dan sahabat dari Gusmiati Suid. Hoerijah Adam telah membuka jalan sebagai bingkai budaya, kemudian Gusmiati Suid melanjutkan perjuangannya dalam proses mencari perubahan dan perkembangan seni budaya Minangkabau. Hoerijah, seperti pernah diungkapkan pengamat tari Dr. Sal Murgiyanto, mencuplik aspek teknis tari dan melahirkan aspek-aspek teknik tari. Idenya ini malah memberikan sumbangan yang besar pada tari modern. Bagi Hoerijah Adam dan Gusmiati suid, pancak dan pamenan jelas menjadi panutan utamanya. Pencapaian perjalanan kreativitas mereka telah menghasilkan sebuah sebutan khas. Horijah Adam disebut sebagai peneguh tari Minangkabau (Redefining Minangkabau Dance) (Sal Murgiyanto. 200:78), sedangkan Gusmiati Suid dalam sebuah media nasional disebut sebagai koreografer yang berpikir lokal bertindak global.

Keteguhan hati Gusmiati Suid untuk menetapkan pilihan hidupnya sebagai seniman, salah satunya adalah dengan mengeluarkan surat pengunduran diri sebagai pegawai negeri dan guru karena hendak hijrah ke Jakarta demi menggapai obsesinya menjadi seniman tari. Komitmen yang kukuh terhadap suara batin dan tak pernah kendur terhadap adat, syariat, dan nilai-nilai kemanusian merupakan kekuatan yang dimilikinya dan hal itu yang membedakan Gusmiati Suid dengan banyak rekan seangkatannya.

Gusmiati Suid memberi semangat pembaharuan dalam perkembangan seni pertunjukkan Indonesia agar tidak ketinggalan zaman, namun tetap kukuh mengembangkan kebudayaan asli sebagai dasar sebuah karyanya. Ia telah menjadi bagian penting dalam kehidupan kesenian di Minangkabau maupun Indonesia. Gusmiati Suid juga memberikan keyakinan kepada khalayak banyak terutama seniman, bahwa keteguhan hatinya dalam menetapkan pilihan di dunia seni tari merupakan jalan hidup dan langkah nyata untuk sebuah cita-cita.

Melalui perjuangan keras dan keyakinan diri, puteri Asiah dan Gasim Shahab itu berhasil membentuk diri menjadi penari dan penata tari yang handal. Gusmiati Suid juga memiliki harga diri dengan rasa cinta yang mendalam kepada bangsa, negeri dan kemanusiaan, bukan hanya di tingkat nasional tetapi juga dalam pergaulan antar bangsa. Sehingga ia menjadi seorang seniman yang banyak meraih penghargaan atas dedikasinya selama ini dalam mengembangkan kesenian tradisional Indonesia.

Bagong Kertajayasa dan Soedarsono adalah tokoh seni tari Indonesia yang terlebih dahulu diakui sebagai “maestro” tari Indonesia, dan pengakuan bahwa Gusmiati Suid adalah salah seorang “maestro” tari Indonesia, diungkapkan oleh seniman tari Ratna Sarumpaet sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta dalam acara pemberian Anugerah Seni Dewan Kesenian Jakarta 2004, “Gusmiati Suid adalah seorang seniman Indonesia, yang telah memberikan kontribusi kreatif terhadap perkembangan kesenian, terutama seni tari dan musik yang berakar dari tradisi budaya Minangkabau. Bersama Gumarang Sakti, Gusmiati Suid telah mengukir kreativitasnya melalui karya-karya pertunjukan tari dan musik yang kemudian mengukuhkan dirinya sebagai salah seorang ‘maestro’ tari Indonesia yang mendapat penghargaan luas baik di dalam maupun di luar”.

Selain ungkapan yang disampaikan oleh tokoh seniman, pengakuan Gusmiati Suid sebagai salah satu Maestro tari Indonesia juga disampaikan melalui buku, paper, dan siaran televisi. Buku yang memberikan ungkapan dengan judul Peringatan 1000 hari wafatnya Sang Maestro Tari Gusmiati Suid; pernyataan wafatnya Sang Maestro Tari Indonesia yang disampaikan SCTV dalam Liputan6.com tahun 2004; dan ulasan yang disampaikan Metro TV dalam segmen Sang Maestro tahun 2004.

Sumber : http://jcinstitute.wordpress.com/2009/12/31/rantak

***

Maestro pencipta tari tradisional Minangkabau, Syofyani (84), dipilih sebagai tokoh pariwisata Sumatra Barat (Sumbar) 2009. Dia dianugerahi penghargaan ‘A Lifetime Achiefment Award‘ pada acara puncak ‘West Sumatra Tourism Award’ (WSTA) 2009 di Padang, Selasa.

Syofyani dipilih sebagai tokoh atas peran dan dedikasinya yang tinggi dalam pengembangan dan pembangunan kebudayaan Sumbar, khususnya di bidang seni tari yang telah dilakoninya sejak 1961, kata Ketua Panitia WSTA 2009, Fersniza Novita Putri.

Dalam perjalanan hidupnya di dunia seni tari Minangkabau, Syofyani, putri Minang kelahiran Bukittinggi, 14 Desember 1935 itu telah menciptakan 157 tari Minang dan telah dipentaskan di 50 negara dan lima benua.

Karya paling terkenal ibu lima putri dan satu putra itu adalah tari piring di atas pecahan kaca, tari pasambahan, tari payung, tari indang dan tari manggaro yang semua telah dikenal luas, baik secara nasional maupun internasional.

Tari piring di atas pecahan kaca menjadi sangat populer dan sering ditampilkan pada pementasan internasional baik di dalam maupun luar negeri oleh Sanggar Tari Syofyani’s yang dipimpin Syofyani.

Terakhir sanggar ini tampil pada pentas budaya Indonesia di Belgia, Belanda, Prancis dan Inggris pada pertengahan 2009. Syofyani, istri seniman Minang, Yusaf Rahmad, ini juga telah ‘melahirkan’ generasi-generasi baru seniman Minang sebanyak 5.000 orang lebih penari yang tersebar baik di dalam maupun luar negeri. Atas karya-karya besarnya yang telah memberikan warna cerah dalam pengembangan seni tari Minangkabau, maka Syofyani dipilih sebagai tokoh pariwisata Sumbar 2009, kata Novita.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumbar, James Hellyward, menilai Syofyani adalah salah satu maestro tari terbesar Minang sepanjang masa dengan karya cipta yang terus dibawakan untuk memajukan dan memperkenalkan Minangkabau secara lebih luas di kancah nasional dan internasional. Dunia kesenian Minangkabau mempunyai hutang budi yang sangat besar atas peran dan dedikasi tinggi Syofyani dalam mengangkat citra daerah selama ini, tambahnya.

Pada acara puncak ‘West Sumatra Tourism Award’ (WSTA) 2009, James Hellyward menyerahkan tropi emas ‘Bundo Kanduang’ kepada Syofyani sebagai bentuk anugerah ‘A Lifetime Achiefment Award’ pada ‘West Sumatra Tourism Award’ (WSTA) 2009.

Sumber :
http://www.sumbarprov.go.id/detail_news.php?id=833

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: