Siapa Sangka Tari Minang Mampu Meredam Kepikunan

Bang Is : 1,5 Tahun Meneliti Dahsyatnya Tari Piring

Di antara seniman tari di Sumatera Utara, nama Bang Is tentu saja tak asing lagi. Pria bernama lengkap Iskandar Muda itu malang melintang di dunia tari lebih dari satu dekade lamanya. Dedikasinya akan seni tari seolah tak ada matinya.

Dunia yang sangat dicintainya ini memang memberinya banyak hal. Bahkan dia begitu yakin bahwa ada sebuah nilai yang lebih dahsyat dari sebuah tari yang dianggap sebagian orang hanya sebatas buah kesenian.

Maka itu sejak 1,5 tahun lalu Iskandar pun meneliti tari piring. Hasil penelitiannya itu dirangkum dalam sebuah tesis berjudul Menuju Keseimbangan.

Luar biasa, penemuan baru pun muncul. Siapa sangka di balik tari-tarian tradisional bangsa ini terdapat energi besar yang mampu menjaga keseimbangan kesehatan tubuh.

Selama ini, penelitian akan fungsi tari kepada kesehatan masih kurang lengkap. Tak banyak yang tahu, bahwa dalam tarian itu lebih banyak hal positif yang bisa ditemukan,” terang Iskandar.

Soal kesehatan, Iskandar banyak terinspirasi dari budaya Cina. Pernah suatu ketika Iskandar menerima seorang murid tari yang usianya sudah 76 tahun. Muridnya itu merupakan nenek etnis Thionghoa bernama Acu.

Suatu kali saya menanyakan kepada Oma Acu, kenapa dia masih mau belajar tari kepada saya. Padahal usianya sudah lanjut,” kenang Iskandar.

Oma Acu pun menjawab dari hati paling dalam bahwa dia merasakan dengan menari, kondisi tubuhnya lebih terjaga. Ketika dia mempraktekkan apa yang diajarkan kepadanya di rumah, maka itu akan bermanfaat untuk pencegahan dari pikun,” sambung pria kelahiran Medan 20 Desember 1967 itu.

Di tesis Iskandar, tari piring menjadi bahan utama yang digarap. Tari piring merupakan salah satu peninggalan seni pertunjukan masyarakat Minangkabau hingga yang sampai saat ini masih dapat ditemui baik di daerah darek dikenal dengan istilah Luhak Nan Tigo, yaitu Luhak Tanah Datar, Luhak Agam dan Luhak Limapuluh Koto. Kemudian masih dapat ditemui lagi di daerah rantau seperti Pariaman dan semenanjung pasisir pantai yang memiliki beragam macam bentuk dan gaya tari piring.

Pada prinsipnya tari piring tradisi tumbuh dan berkembang di lingkungan komunitas petani. Biasanya ritual tari piring dipertunjukan di saat malam hari ketika musim panen tiba. Pertunjukan tari piring tersebut merupakan ungkapan rasa syukur masayarakat Minangkabau setelah mendapatkan hasil panen yang melimpah ruah.

Dengan menunjukkan sikap semangat rasa kebersamaan dan kegotong-royongan yang sangat erat diantara mereka, selanjutnya setelah panen diungkapan melalui atraksi pertunjukan tari piring. Keberadaannya sangat dinikmati masyarakat sekitarnya sehingga diyakini oleh komunitas petani tersebut bahwa tari piring dapat membawa keberkahan, kesuburan dan kemakmuran

Maka itu, sebuah tarian itu punya unsur yang kaya makna,” sambung Iskandar yang juga pimpinan Sanggar Tari Tri Arga itu.

Pada dasarnya, dijekaskan Iskandar, semua tari memiliki kemampuan dahsyat untuk menghasilkan kesehatan bagi pelakunya. Asalkan dijadikan sebuah keseriusan yang mendalam. “Semua tari itu asalkan dilakoni dengan sungguh-sungguh pasti akan punya manfaat,” ungkapnya.

Tak hanyak sekadar meneliti, Iskandar juga akan mementaskan hasil penelitiannya itu pada 3 Maret mendatang di Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara. Ada dua karya tari yang akan dipersembahkan Iskandar. Siapa saja yang penasaran, silahkan tunggu tanggal mainnya.

Sumber : http://www.hariansumutpos.com/2010/02/siapa-sangka-tari-minang-mampu-meredam-kepikunan.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: