3 Cerita Sebelum Adu Kerbau

marawa

Tulisan iko ambo sadur dari Sutan Rajo Imbang di Marawa News, tentang teka-teki yang diajukan oleh orang negeri seberang ketika mereka bertandang ke Ranah Minang.

Alkisah dahulu di Minangkabau ado panghulu nan bagala Datuak Tuo, beliau berserta kaumnya menyambut kedatangan orang dari negeri seberang, orang-orang tersebut membawa sekapal (sekepal??) emas dan mengajak Datuk dan kaumnya untuk bertaruh.

1. Nan Ma Ujuang, Nan Ma Pangka??

Taruhan pertama, mereka mengeluarkan sebilah kayu berbentuk penggaris (mistar) dan berkata:

“Coba Datuk tebak yang mana yang pangkal dan ujung kayu??”
“Jika Datuk bisa menjawab, 1/4 emas kapal ini untuk Datuk. Namun jika salah, 1/4 tanah Datuk untuk kami”

Setelah berembuk dengan kaum, Datuk pun mengambil benang dan mengikatnya pada bagian tengah-tengah kayu tersebut. Kemudian kayu digantungkan, sehingga kayu tentu akan condong ke arah pangkal. Tebakan pertama benar dan Datuk beserta kaumnya mendapat emas dari 1/4 kapal dari orang negeri seberang tersebut.

2. Nan Ma Jantan, Nan Ma Batino??

Tebakan kedua, orang negeri seberang tersebut membawa kepada Datuk dan kaumnya sekelompok itik, dan bertanya:

“Mana itik jantan dan mana yang betina??”
“Jika Datuk bisa menjawab, 1/4 emas kapal ini untuk Datuk. Namun jika salah, 1/4 tanah Datuk untuk kami”

Datuk dan kaumnya kemudian membawa itik-itik tersebut ke tabek (kolam), serta-merta sebagian itik ada yang berenang dan ada yang berdiam di tepi kolam. Datuk pun berkata:

“Yang masuk tebat itik jantan, yang tinggal di tepinya adalah betina”
“Karena pada hakikatnya yang jantan keluar rumah, yang betina tetap di rumah”

Tebakan kedua benar lagi, maka Datuk dan kaumnya mendapat emas 1/4 kapal lagi dari orang negeri seberang.

3. Sia Nan Paliang Gadang??

Tak habis akal, orang seberang pun mengajukan tantangan ke-3:

“Siapa yang paling besar (gadang) di negeri ini??”

Datuk pun mengeluarkan sarawa galambuak (celana yang digunakan oleh anak nagari dalam permainan Randai), yang bentuknya sekilas mirip celana dalam (sempak), dan berkata:

“Celana dalamnya saja besar seperti ini, tentu terbayang oleh Tuan bagaimana besar pemiliknya”

Orang negeri seberang pun mengaku kalah, dan mereka mengajukan taruhan terakhir yaitu adu kerbau. Yang kemudian menjadi salah satu cerita mengenai asal-usul nama Minangkabau.

***

Cerita di atas mungkin lebih banyak dongeng daripada nyata, namun yang ingin hamba kemukakan adalah bagaimana kita dalam menghadapi masalah sesulit apa pun hendaknya dengan bijak dan kepala dingin. Dengan prinsip “tak ado gayuang nan tak basambuik, tak ado kato nan tak babaleh

~dR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: