Gadis-Gadisnya Binatang Jalang dan Sang Demonstran

chairil

Bayangkan, kawan!

Seorang lelaki kurus dengan mata merah, liar, selalu datang dengan tangan satunya mengapit buku!

Itulah Chairil Anwar!

Anehnya, mungkin juga karena wajah indonya barangkali, banyak pula gadis-gadis memujanya. Padahal matanya merah karena kurang tidur, kurang tidur karena semalaman bisa melahap satu buku yang dibawanya itu, bajunya lusuh komprang, dan tubuh kurus dekil jarang mandi. Tapi, di jaman penjajahan Belanda dan Jepang ada lelaki yang memesona gadis-gadis justru dengan penampilan dekil, kurus, hanya modal buku dan puisi? Luar biasa!!!

Gadis memang dunia Chairil Anwar setelah buku. Tercatat nama Ida, Gadis, Mirat, Roosmeini, Sri Ajati dan Dien Tamaela sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Walau pun kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil kawin dengannya.

Sebelum Chairil menikah dengan Hapsah itulah Chairil pernah jatuh cinta dengan seorang gadis yang bernama Sri Ajati pada saat keduanya menjadi penyiar radio Jepang di tahun 1942. Nama Sri Ajati diabadikan Chairil Anwar dalam sajaknya yang terkenal Senja di Pelabuhan Kecil.

Sampai kini aku tak akan pernah lupa lirik puitis nakal tapi melankolis, ‘senja di pelabuhahn kecil, gadis manis sekarang iseng sendiri…’ Jelas maksud iseng sendiri di sini, memang pada saat Chairil Anwar jatuh hati pada Sri Ajati, diakui Sri dia sudah punya kekasih yaitu seorang dokter. Sri jelas lebih memilih kawin dengan dokter itu, ketimbang Seniman Bohemian tanpa masa depan!

Sedang Dien Tamaela diabadikan pada puisi Cerita Buat Dien Tamaela, sebagai pelampiasan ungkapan cintanya yang bertepuk sebelah tangan dengan Dien Tamaela. Satu hal karena memang Dien tak suka, hal lain disebutkan juga karena mendapat tentangan kerabat Dien yang asal Maluku dan tak suka Chairil Anwar!

Tragis!

Lelaki flamboyan, dipuja wanita, pengejar cinta wanita toh akhirnya meninggal sendiri, di kamar yang sepi, tanpa di dampingi gadis-gadis yang dicintainya, yang selalu disebutkan dalam puisi-puisinya!

Pada akhirnya ku tak kan sampai padanya….

***

gie

Dan beberapa tahun kemudian, setelah Chairil wafat 1949, ada seorang Demonstran yang perawakannya hampir mirip Chairil Anwar, kurus bertubuh kecil. Sama seperti Chairil, dia gila buku pula. Bedanya kalau Chairil Indo, lelaki kecil putih ini peranakan Tionghoa. Dia adalah Soe Hok-gie.

Chairil hidup di jaman Revolusi, Gie hidup di jaman perjuangan heroik Mahasiswa menumbangkan Orde Lama. Indonesia saat itu sama-sama terjajah. Gie, pada jamannya adalah Demonstran yang idealis melawan Tiran dan Komunis (PKI). Di saat perjuangan sebagai seorang Demonstrans itulah, hidup Gie tak jauh juga dengan gadis-gadis. Ada Maria, Rina, Sunarsih yang sering disebut-sebut dalam catatan hariannya. Siapa Maria, Rina, dan Sunarsih? Karena nama-nama tersebut adalah nama samaran, bukan nama gadis sebenarnya, aku coba menyimpulkan sendiri bahwa gadis-gadis itu bisa saja Wiwik, gadis yang suka diajaknya mendaki gunung, lalu Kartini Syahrir, kalau ini berdasarkan pengakuan yang bersangkutan secara jujur dan blak-blakan di buku Gie : Sekali Lagi.

Sama seperti Chairil, rupanya untuk masalah gadis yang dicintainya Gie juga mengalami nasib tragis penolakan atau cinta bertepuk sebelah tangan. Untuk soal tidak diterima keluarga gadis walaupun Gie yakin gadisnya itu mencintainya, kakak Gie, Arief Budiman bahkan mengatakan Gie juga jatuh cinta dengan seorang gadis. Tapi orangtuanya tidak setuju – mereka selalu dihalangi untuk bertemu. Orangtua gadis itu adalah seorang pedagang yang cukup kaya dan Gie sudah beberapa kali bicara dengan dia.

Kepada kakaknya Gie sampai curhat; “Kadang-kadang, saya merasa sedih. Kalau saya bicara dengan ayahnya si…, saya merasa dia sangat menghargai saya. Bahkan dia mengagumi keberanian saya tanpa tulisan-tulisan saya. Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar risikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya”.

Sampai mati muda 1969, sama seperti Chairil Anwar pula, Soe Hok-gie meninggal tanpa pernah mendapatkan gadis yang dicintainya.

Mari sini sayangku, kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku… Pinta Gie dalam puisi dramatis yang ditulis sebelum Gie mendaki menemu ajal. Tapi ketiga gadis yang dicintainya tak datang, Gie tercekik sendiri, di Gunung Semeru…

http://sejarah.kompasiana.com/2010/07/29/gadis-gadisnya-binatang-jalang-dan-sang-demonstran/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: