6 Sektor Bisnis Ala Urang Awak

Urang Minang alias urang awak banyak dikenal sebagai pedagang atau pebisnis di beberapa sektor. Sebutan anak dagang untuk mereka yang merantau meninggalkan kampung halaman tidaklah berlebihan. Semantan bukan berwirausaha, menjadi pegawai atau karyawan pun dianggap oleh urang awak sebagai dagang juga, dengan komoditas berupa menjual kemampuan diri sendiri (bukan harga diri). Namun kali ini yang akan ambo bahas adalah bidang usaha yang banyak dikuasai oleh urang awak🙂

***

rm

1. Nasi Padang (Rumah Makan Padang).

Bisnis di bidang pengisi perut ini memang tak diragukan lagi. Rumah makan (masakan) Padang – yang sebenarnya di Padang sendiri tidak ada jenis restoran ini – termasuk kategori medium dan hi-class untuk menu nasional. Berbagai penganan menggugah selera ada di sini, dengan ciri khas santan dan ‘spicy’ hingga perabungan (pencuci mulut). Tak heran jika Rumah Sakit Nasional Khusus Stroke dibangun di Bukittinggi, Sumatera Barat. Mengingat jenis makanan yang menantang bahaya ini ketimbang lalapan atau kecapan lainnya. Satu-satunya kuliner non-kolesterol khas Minangkabau adalah “asam padeh ikan” yang rasanya jelas cuma dua : asam dan pedas… nothing else ;p

Mulai dari Sederhana – yang rasa dan harganya tidaklah sesederhana namanya, yang kemudian ada Sederhana-Sederhana lainnya, Simpang Raya dan berbagai nama khas yang langsung menunjukkan bahwa : ooh itu Rumah Makan Padang. Orang-orang kantoran apabila ada traktiran biasanya mengajak ke Rumah Makan Padang, bukti bahwa restoran ini menjadi salah satu pilihan dalam menselebrasikan suatu momen. Maaf bukan bermaksud menyebelahmatakan rekan-rekan lain yang juga berbisnis di bidang ini hehe😉

Satu lagi ciri khas Rumah Makan Padang selain ucapan seperti “tambuak ciek”, “bungkuih atau makan siko” adalah pramusajinya yang beratraksi layaknya akrobat dalam membawa makanan dalam piring-piring kecil. Bisa 4, 8 kadang sampai selusin piring di kedua tangan mereka. Dijamin pramusaji lulusan rumah Makan Padang pasti akan menjuarai ajang pencarian bakat hehehe ;p

Nah, kenapa banyak urang awak yang berbisnis di bidang ini? Alasannya sederhana, bekerja itu kan untuk mengisi perut, apapun kerjanya pusar-pusarnya ke perut jua. Jadi mending buka usaha di bidang pengisi perut, di samping memfasiltasi orang-orang yang ingin mengisi perutnya, juga sekalian bisa mengisi perut sendiri. Tak abis tak jadi soal, bisa dibagi-bagikan ke tetangga dan orang-orang tak mampu seusai kedai tutup. Yaa… hitung-hitung amal dan tabungan buat akhirat hehehe😀

***

kain

2. Aneka Sandang (Pakaian).

“Cari apa kk, silakan kk, lamborghini-nya kk” demikian lah selintas sapaan yang akan Anda temui sekira berkunjung ke pusat perbelanjaan pakaian macam Pasar Tanah Abang dan Pasar Baru. Kalau dalam bahasa Minang mungkin kurang lebih begini “Cari apo Ni? Caliak apo Da? Capek lah kami ka tutuik lai haa.” Hampir sebagian besar pedagang di sektor sandang ini adalah urang awak. Aneka jenis pakaian dijual di sini, mulai dari atasan, bawahan, daleman bahkan sampai luaran. Hal ini menunjukkan bahwa urang awak amat menjunjung kesopanan. Bayangkan jika Anda tak berpakaian?

Hal ini mungkin diilhami dari sekilas pantun Minang yang berjudul “Risaulai” dan dinyanyikan oleh alm. angku TiaRamon :

“Lai sarawa tak babaju, jo a den tampuah galanggang rami, mako den duduak balangang-langang, jatuah badarai si aia mato” (“Ada celana tapi tak berbaju, dengan apa akan ditempung gelanggang ramai, jatuh berderai si air mata”).

Jika diperhatikan jenis pakaian yang dijual oleh urang awak adalah pakaian muslimah dan menutup aurat, ada sih yang terbuka tapi itu untuk anak di bawah 12 tahun hehe.

Hal ini mungkin terkait dengan tabu bagi orang Minang untuk pamer aurat, terutama bagian-bagian yang mengundang syahwat. Prinsipnya daripada membantu orang membuat dosa, lebih baik membantuk orang masuk ke surga ;p

***

kopi

3. Fotokopi dan Pelayanan Dokumen.

Kertas identik dengan ilmu dan orang Minang sadar akan pentingnya pendidikan. Semisal mereka tak ma(mp)u melanjutkan sekolah, minimal mereka membantu orang lain lulus sekolah. Tak bisa dipungkiri jenis usaha ini telah membantu bahkan menjadi kunci akhir dalam kelulusan seorang mahasiswa. Bayangkan jika skripsi mesti dikumpulkan dan sudah dijilid hardcover untuk yudusium besok pagi, sementara tandatangan pengesahan pembimbing baru didapat sore harinya dan musti dibikin rangkap 3 pula – satu untuk pembimbing, satu untuk perpus atau jurusan dan satu untuk yang bersangkutan (pengalaman pribadi hehehe ;p).

Tenang… usah cemas, biasanya kalau tukang fotokopinya urang awak pasti mereka talok (kuat) untuk begadang dan buka 24 jam demi keberlangsungan dunia pendidikan di Indonesia. Tak bisa dihitung berapa banyak mahasiswa yang akan di-DO andaikata jasa pelayanan dokumen ini tidak stand-by (analogi tak langsung), namun tak satu pun nama tukang fotokopi itu masuk ke dalam daftar ucapan terima kasih dalam skripsi ;p

Nah, alasan kenapa ini menjadi pilihan bisnis #3 urang awak adalah, satu kertas takkan busuk, basi atau rasan, kecuali basah kena lembab dan jamur serta kepuyuk. Kedua, di balik semua itu mencerminkan keinginan kuat orang Minang untuk berkontribusi pada dunia pendidikan. Semisal tak menjadi toga wisuda sarjana, menjadi alas kaki pun tak apa. Oleh karena itu bersyukurlah jika Anda masih mampu mengenyam pendidikan sampai tinggi, jangan sia-siakan dan jangan lupa akan mereka🙂

***

lapak

4. Lapak Kepingan Lagu (CD).

Sesuai shout-out saya beberapa waktu lalu tentang pedagang jenis ini, umumnya walau mereka mejajakan aneka tembang namun yang mengalun dari peralatan demo audio/video (jika pedagangnya urang awak) pastilah lagu-lagu Minang, mulai dari lagu lamo (klasik), modifan bahkan sampai versi ajeb-ajeb pun (tanda mengikuti perkembangan jaman). Seolah tak ragu mereka menyetelnya keras-keras seperti hendak mengumandangkan Minangkabau pada khalayak rantau. Namun sebenarnya di balik itu, jauh di lubuk hati mereka tersimpan rasa rindu yang mendalam pada kampung halaman. Entah kapan si buyung akan kembali pulang, sekira badan tak sampai tercacah ke seberang, paling tidak suara Ranah Minang dapat malapeh taragak si anak dagang🙂

Perlu diperhatikan bahwa umumnya pedagang jenis ini hanya menjual kepingan lagu, amat jarang dijumpai mereka menjajakan kepingan film apalagi yang termasuk kategori DEWASA kata si buset. Mungkin mereka teringat pesan mande sebelum merantau, “Buyuang, elok-elok manyubarang jan sampai titian patah, elok-elok di rantau urang jan sampai babuek salah” hehe ;p

***

konter

5. Warnet dan Konter Pulsa.

Pilihan bisnis #5 ini umumnya dijalani oleh anak dagang yang ‘hi-tech’, minimal mereka pernah mengenyam bangku sekolah hingga tingkat pertama. Jika bersebelahan dengan kedai yang juga menjual pulsa, umumnya penjaja pulsa urang awak berani banting harga minimal 500 rupiah di bawah konter tetangga demi menarik pelanggan. Biasanya lapak ini juga diselingi dengan menjual hape go-pek-ceng meski tak sampai sekelas beri-beri dan juga aksesoris seluler lainnya.

Alasan pemilihan ladang bisnis ini sederhana, pertama minimal ketika ada sms nyasar semisal “mande mintak diisian pulsa”, si buyung dengan sigap mengirimkannya. Kedua tentu saja untuk menjalin komunikasi jarak jauh dengan si upik jauh di kampung, “Uda sadang lareh di rantau Diak, kok indak pulang Uda rayo bisuak, pulsa sen Uda kirimkan dulu diih, sabagai pangganti surek untuak Adiak”, begitu lah kira-kira. Masih ada banyak alasan sejenis untuk memilih berniaga di bidang komunikasi ini.

Jika berbisnis di bidang warnet maka alasan utama apalagi kalau bukan bisa duduk santai di belakang meja, sambil bisa online dan eksis di dunia maya hehe. Namun biasanya tak sampai merambah ke komoditas elektronik lainnya, semisal jual-beli komputer dan segala paregatnya. Alasannya adalah untuk menghormati saudara kita bermata pitok yang umumnya juga bergeliat di dunia dagang ini. Lainnya adalah setelah dihitung-hitung laba-ruginya, mengingat harga gadget elektronik yang fluktuatif, maka umumnya urang awak membatasi dagangnya di bidang ini ;p

***

angkot

6. Pilot Moda Transportasi Dalam Kota.

Naahhh… untuk yang ini, anak dagang urang awak biasanya sering baiyo-iyo dengan kawan satu etnis di utara Ranah Minang (Batak.red). Di kota-kota besar macam Jakarta dan Bandung, banyak sopir angkotnya dari tanah seberang. Mungkin karena kami dididik oleh ganasnya Jalan Lintas Sumatera, sehingga ketika sampai di kota umumnya serasa ‘merdeka’, selip sana – selip sini agar penumpang bisa sampai ke tujuan dengan cepat dan ligat hehehe ;p

***

Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah adakah urang awak yang berbisnis di bidang papan semisal toko bangunan, properti hingga perumahan? Mungkin agak jarang, karena urusan tempat tinggal umumnya para anak dagang Minang tak perlu risau. Seperti pesan mande, “Jika buyung sampai di rantau, induk cari dunsanak cari, namun induk semang cari dahulu”. Induk semang ibarat orangtua kedua bagi si buyung yang baru merantau, tempat tinggal sementara sambil bantu-bantu kerja, laksana ‘inkubator bisnis’ kalau bahasa modernnya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: