Kesadaran Global dalam Tradisi Minangkabau

bulan

“Ketika mendarat di bulan dengan Apollo 11, Neil Amstrong terkejut karena di sana ternyata telah berdiri Rumah Makan Padang. Begitulah sebuah anekdot yang menggambarkan bagaimana orang Minangkabau mengglobal (mendunia). Tidak hanya dalam hal merantau, namun juga dalam perkembangan tradisi dan budaya yang tak lepas dari pengaruh akibat berinteraksi dengan orang luar.”

Dalam tradisi Minangkabau seringkali dijumpai kesadaran akan bangsa-bangsa asing dan suku-suku lainnya di Nusantara. Sejak dahulu nenek moyang kita pernah bergaul dengan bangsa-bangsa asing seperti India, Cina, Arab, Portugis, Inggris, Belanda dan Jepang.

Dalam berbagai kaba, pantun dan pepatah kita bisa membaca ungkapan-ungkapan seperti marantau Cino (merantau Cina), bak Cino karam (seperti Cina karam), banua Ruhum (benua Ruum), banua Arab (benua Arab), rajo sipatoka (seperti dalam lirik lagu Sayang Sipatokahan), Ulando mintak tanah (Belanda minta tanah), urang kaliang mati makan (orang keling – India.red, mati makan), dari Japun handak ka Japun (dari Jepang hendak ke Jepang), harimau Campo (harimau Campa – Kamboja.red) dan kuciang Siam (kucing Siam – Thailand.red).

Pergaulan dan perantauan yang luas juga direfleksikan dalam tradisi Minangkabau yang berulang-ulang menyebut tentang sarawa Aceh (celana Aceh), kapa dari Aceh (kapal dari Aceh), karih jawo (keris Jawa), rajo jawo (raja Jawa), timbakau jawo (tembakau Jawa), kain bugih (kain Bugis), antaro Bamban jo Malako (antara Bamban – Filipina.red?!, dan Malaka), rajo Bantan (raja Banten?!), rajo Malako (raja Malaka), rajo Deli (raja Deli – nama daerah di Sumatera Utara), sambah Malayu (sembah Melayu), balam Jambi (balam – sejenis unggas, Jambi), Bangkahulu pasanyo langang (Bengkulu pasarnya lengang – sepi.red), rajo Langkat (raja Langkat), banta dahulu banta Kuantan (bantal dahulu bantal Kuantan) dan sebagainya.

***

Dalam kosakata Minangkabau sehari-hari, bekas-bekas pengaruh asing itu masih melekat.

Jika kita bicara tentang raso (rasa), nagari (negeri), budi, rajo (raja), guru, kuaso (kuasa), bedo (beda), gampo (gempa) dan sansaro (sengsara) kita sudah menggunakan kosakata Sanskerta, sebagaimana nama-nama daerah seperti Biaro (Biara) – nama daerah di Kabupaten Agam; Ganggo (Gangga) – nama daerah di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat; Indopuro (Inderapura) – nama daerah di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Kata-kata seperti marapulai (sebutan pengantin laki-laki di Minangkabau), kolam, sate dan bagai merupakan bahasa Tamil.

Menyebut tentang adia (adil), jaleh (jelas), padiah (pedih), bagak (berani), adaik (adat), alam, paham dan ilmu diambil dari bahasa Arab. Pengaruh Arab juga dapat dilihat pada nama-nama daerah semacam Aia Haji (Air Haji) – nama daerah di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat dan Sungai Laban – nama daerah di Kabupaten Pariaman, Sumatera Barat.

Menggunakan kata-kata sapatu (sepatu), lamari (lemari), kameja (kemeja) dan roda secara tak sadar membawa perbendaharaan kata Portugis.

Adapun perai (free), gratis, ban, selang (bukan selang = pinjam.red), oto (mobil) dan kopleng (kopling) dipinjam dari bahasa Belanda.

Kata-kata deta (destar) dan pasa (pasar) diambil dari Persia.

Kue, nona, toke (pengusaha pedagang barang), toge dan contoh diambil dari kosakata Cina.

Selain penggunaan tarompa japang (sendal Jepang – sendal jepit.red) yang meluas ada juga nama daerah Jopang Mangganti (Jepang Mengganti) – nama daerah di Kabupaten 50 Koto, Sumatera Barat.

Belum lagi penggunaan kosakata Inggris yang semakin meningkat dalam bahasa Minangkabau kontemporer.

***

Benda-benda yang dikenal orang-orang Minangkabau zaman dulu sampai sekarang tak sedikit yang merupakan hasil interaksi dengan bangsa-bangsa asing.

Senjata-senjata seperti sulo dan godo (dalam contoh kalimat : “den godo kapalo ang beko“) merupakan pelafalan Minangkabau dari (tri)sula dan gada yang dikenal di India.

Minum kopi (kawa – kawa daun, jenis minuman yang sedang nge-trend di daerah Batusangka saat ini) merupakan komoditi Arab sebelum dibawa ke Eropa lalu ke Minangkabau. Pengaruh Arab juga terasa dalam pakaian seperti jubah, kopiah dan konstruksi tempat ibadah tentunya.

Jarum, teh dan kacapi kemungkinan dipengaruhi oleh Cina. Silek (silat) juga boleh jadi pengaruh India dan Cina.

Pakaian marapulai, yakni roki, oleh banyak kalangan disebut sebagai dipengaruhi pakaian khas lelaki Portugis zaman dulu.

Senjata api seperti badia (bedil) dan meriam tak lepas dari pengaruh Barat.

Tanam-tanaman seperti kol, wortel, tomat, kantang (kentang) dan buncih (bundics) diperkenalkan oleh orang Belanda ke Minangkabau.

Belum lagi teknologi modern dalam bidang otomotif, konstruksi, mebel dan sebagainya yang berkembang dari zaman ke zaman.

***

Dari sekian banyak peristiwa penting dalam sejarah Minangkabau, pengaruh-pengaruh asing seringkali memainkan peran. Berdirinya kerajaan Pagaruyung dan gagasan-gagasan adat masa lalu terbukti menunjukkan pengaruh India.

Perkenalan dan dakwah intensif Islam oleh kaum Syattariah ke pesisir dan Darek Minangkabau menunjukkan pengaruh Arab dan India sekaligus (karena tarekat Syattariah paling menyebar di India pada masa lampau). Perang Paderi tak terlepas dari reformasi keagamaan yang terjadi di dunia Arab pada waktu yang sama, baik oleh kalangan neosufisme seperti Naqsbandiah-Mujaddidiyah dan Sanusiyah maupun puritanisme seperti kaum Wahabi.

Dalam hal perdagangan, sedikit banyak orang-orang Minangkabau belajar dari bangsa Cina yang memang sudah lama ada di Sumatera Barat.

Dan sejak masa Belanda, kita pun mengenal paham-paham dan institusi-institusi modern yang datang dari Barat seperti nasionalisme, sosialisme, komunisme, emansipasi, kemajuan, organisasi, koperasi, bank dan sebagainya.

***

Beragamnya pengaruh yang masuk merupakan salah satu faktor yang di masa lalu memicu kreativitas orang-orang Minangkabau. Interaksi dengan bangsa lain memicu kesadaran pada nenek moyang kita bahwa mereka memiliki kekurangan-kekurangan internal dan peradaban-peradaban luar lebih unggul dalam banyak hal. Kesadaran ini mendorong untuk belajar dari bangsa-bangsa asing dan bahkan merantau menuntut ilmu sampai ke negeri-negeri mereka, sampai jauh ke India, Hijaz dan Eropa. Kekaguman dan pengakuan akan kelebihan-kelebihan bangsa-bangsa lainnya membuat orang-orang Minangkabau zaman dulu bisa belajar secara cerdas dengan memanfaatkan semuanya untuk kepentingan alam Minangkabau sendiri, meskipun ada kasus-kasus di mana pengaruh-pengaruh asing justru berbalik merusak tatanan tradisional.

Salah satu sebab kemunduran tradisi dan adat di Sumatera Barat adalah juga karena pengaruh asing. Sampai pada awal abad keduapuluh, pengaruh-pengaruh asing yang beraneka ragam dapat dikombinasikan relatif harmonis sehingga norma-norma tradisional masih berpengaruh kuat. Kemudian, secara perlahan kemampuan tradisi untuk bertahan semakin kurang dan daya akomodasi tak terakselerasikan dengan modernisasi dan globalisasi yang berjalan cepat. Proses pelucutan nilai-nilai tradisional Minangkabau sebenarnya sudah berjalan signifikan sejak Belanda menguasai Sumatera Barat di abad 19, yakni dengan menukar sistem hukum, pemerintahan dan ekonomi di Minangkabau menurut gagasan-gagasan Eropa.

***

Pertanyaannya sekarang, apakah ada harapan mengembalikan kreativitas orang-orang Minangkabau dengan memanfaatkan sumber-sumber eksternal? Barangkali, kita perlu mengoreksi diri dan mengontrol pemahaman kita atas kemajuan zaman. Seringkali, norma-norma dan tradisi sendiri secara sadar atau tidak ditindas demi kepentingan kemajuan. Kita perlu belajar dari Jepang yang memiliki kombinasi unik dalam mengembangkan teknologi modern seraya mempertahankan nilai-nilai tradisi dengan semangat yang hebat. Kita juga perlu belajar dari Eropa yang meminimalisir pemborosan energi dengan menggalakkan penggunaan sepeda dan perbaikan sarana transportasi terutama kereta api. Tak lupa kita butuh belajar dari Cina, Turki dan India yang memiliki kemajuan ekonomi pesat dalam tahun-tahun terakhir dan meningkatkan penggunaan barang-barang buatan sendiri.

Yang paling penting adalah kemampuan untuk membedakan pengaruh-pengaruh yang bersifat positif dan negatif. Kemampuan ini akan tercapai jika kebanggaan dan pengetahuan akan tradisi sendiri tertanam kuat serta pemahaman akan pengaruh yang datang dimatangkan. Pendidikan yang berkualitas dan terfokus dalam segala aspek (tradisi, sains, bahasa asing dan agama) adalah kuncinya.

***

Catatan:
Dimuat dalam harian Singgalang pada Minggu 2 Januari 2011

http://novelmusda.blogdetik.com/2011/05/12/kesadaran-global-dalam-tradisi-minangkabau/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: