Surau Kami, Dulu dan Kini

surau di lintau

Dahulu…

Surau adalah bagian dari rantai kehidupan kaum lelaki Minangkabau. Dengan berbekal sekeping Al-Qur’an, seorang anak lelaki di Minangkabau ‘diserahkan’ oleh keluarganya kepada seorang guru mengaji di surau di kampungnya. Anak lelaki yang tidur di rumah mendapat cemeeh sebagai ‘anak amak’ yang tidur di ketiak ibunya. Artinya ia dianggap agak kewanita-wanitaan. ‘Anak amak’ seperti itu akan sering ‘diuji’ oleh teman-temannya, baik dalam bentuk adu kata, adu permainan, maupun adu fisik.

Surau adalah tempat inisiasi oleh seorang Minangkabau sebelum ia pergi menghadang rantau yang bertuah, setelah menyeberangi ‘laut sakti’. Di surau seorang anak lelaki Minangkabau tidak sekedar belajar agama dan belajar membaca Al-Qur’an (mengaji), tapi juga belajar ilmu bela diri (silek). Sehabis waktu mengaji, anak laki-laki diajari ilmu bela diri (silek) guru mengajinya atau oleh seorang pendekar di kampung itu, sebagai bekal untuk ‘mailak’an karambia malanja’, terutama bila sudah berada di perantauan nanti.

Seiring dengan perkembangan Islam di Minangkabau, dan lebih-lebih lagi setelah zaman Padri, beberapa surau menjadi sekolah agama (Godsdienstscholen) dengan banyak murid, seperti pesantren di Jawa. Pionir surau seperti ini adalah Surau Syekh Burhanuddin di Ulakan (Van Ronkel, 1914). Pada paroh kedua abad ke-19 ditemukan beberapa surau penting di darek yang mempunyai banyak murid (santri), seperti di Caluak, Padang Sibusuak, Koto Tuo, Tanjuang Barulak, Simabua, Koto Anau, dll (Verkerk Pistorius, 1869:444-5). Seorang Minangkabau menulis dalam jurnal De Indische Gids (1888.I:312-333) yang bertajuk “De Masdjid’s en Inlandsche Godsdienstcholen in Padangsche Bovenlanden” (‘Mesjid dan Sekolah-sekolah Agama di Padang Darat’) mencatat bahwa ketika ia berkunjung ke Surau Batu Hampar pada 18 April 1888, ia melihat banyak santri belajar di sana yang, dari mendengar logat mereka waktu berbicara, kelihatannya mereka berasal dari berbagai daerah di dan dari luar Minangkabau.

Gambar ilustrasi di atas adalah foto litografi sebuah surau di Lintau. Foto ini dibuat oleh C. Nieuwenhuis pada tahun 1890. Ah… betapa enaknya tidur di surau seperti ini sehabis mengaji dan belajar silat yang membuat peluh mengalir. Jika hujan turun di malam hari, tidur di surau bisa menjadi lebih lelap. Lantai kayunya tetap membuat tubuh terasa hangat di atas tikar pandan dan di balik kain sarung. Kita patut berterima kasih kepada Muhammad Radjab yang dalam otoriobrafinya, Semasa Kecil di Kampung, 1913-1928 (Djakarta: Balai Poestaka, 1950) antara lain berkisah tentang suasana kehidupan anak lelaki Minangkabau dalam lingkungan surau di kampungnya di Singkarak.

Perhatikan arsitektur surau ini yang bergaya Koto Piliang, yang memadukan bentuk atap rumah gadang Minangkabau dan bentuk bangunan mesjid yang yang bergaya Islam. Dulu surau-surau dengan bangunan khas seperti ini – dengan arsitektur bergaya Koto Piliang dan Bodi Caniago – ditemukan di banyak nagari di Minangkabau. Beberapa di antaranya sekarang masih dapat ditemukan di beberapa nagari di Sumatra Barat.

Kini…

Banyak surau tradisional di desa-desa Minangkabau direnovasi oleh penduduk setempat dengan menghilangkan bentuk aslinya. Surau-surau baru dibangun dengan dinding beton, lantai marmer, jendela kaca, dan kubah model mesjid-mesjid di Arab. Dengan tidak sadar mereka yang gila modernisasi dan terjangkit euforia globalisasi yang akut telah menghancurkan sejarah mereka sendiri. Sebelum terlanjur habis, surau-surau tradisional Minangkabau yang masih ada sampai sekarang, yang memiliki nilai sejarah yang tinggi, harus diselamatkan.

Artikel aseli dari :

Suryadi – Leiden, Belanda.

Singgalang, Minggu, 12 Desember 2010.

3 Cerita Sebelum Adu Kerbau

marawa

Tulisan iko ambo sadur dari Sutan Rajo Imbang di Marawa News, tentang teka-teki yang diajukan oleh orang negeri seberang ketika mereka bertandang ke Ranah Minang.

Alkisah dahulu di Minangkabau ado panghulu nan bagala Datuak Tuo, beliau berserta kaumnya menyambut kedatangan orang dari negeri seberang, orang-orang tersebut membawa sekapal (sekepal??) emas dan mengajak Datuk dan kaumnya untuk bertaruh.

1. Nan Ma Ujuang, Nan Ma Pangka??

Taruhan pertama, mereka mengeluarkan sebilah kayu berbentuk penggaris (mistar) dan berkata:

“Coba Datuk tebak yang mana yang pangkal dan ujung kayu??”
“Jika Datuk bisa menjawab, 1/4 emas kapal ini untuk Datuk. Namun jika salah, 1/4 tanah Datuk untuk kami”

Setelah berembuk dengan kaum, Datuk pun mengambil benang dan mengikatnya pada bagian tengah-tengah kayu tersebut. Kemudian kayu digantungkan, sehingga kayu tentu akan condong ke arah pangkal. Tebakan pertama benar dan Datuk beserta kaumnya mendapat emas dari 1/4 kapal dari orang negeri seberang tersebut.

2. Nan Ma Jantan, Nan Ma Batino??

Tebakan kedua, orang negeri seberang tersebut membawa kepada Datuk dan kaumnya sekelompok itik, dan bertanya:

“Mana itik jantan dan mana yang betina??”
“Jika Datuk bisa menjawab, 1/4 emas kapal ini untuk Datuk. Namun jika salah, 1/4 tanah Datuk untuk kami”

Datuk dan kaumnya kemudian membawa itik-itik tersebut ke tabek (kolam), serta-merta sebagian itik ada yang berenang dan ada yang berdiam di tepi kolam. Datuk pun berkata:

“Yang masuk tebat itik jantan, yang tinggal di tepinya adalah betina”
“Karena pada hakikatnya yang jantan keluar rumah, yang betina tetap di rumah”

Tebakan kedua benar lagi, maka Datuk dan kaumnya mendapat emas 1/4 kapal lagi dari orang negeri seberang.

3. Sia Nan Paliang Gadang??

Tak habis akal, orang seberang pun mengajukan tantangan ke-3:

“Siapa yang paling besar (gadang) di negeri ini??”

Datuk pun mengeluarkan sarawa galambuak (celana yang digunakan oleh anak nagari dalam permainan Randai), yang bentuknya sekilas mirip celana dalam (sempak), dan berkata:

“Celana dalamnya saja besar seperti ini, tentu terbayang oleh Tuan bagaimana besar pemiliknya”

Orang negeri seberang pun mengaku kalah, dan mereka mengajukan taruhan terakhir yaitu adu kerbau. Yang kemudian menjadi salah satu cerita mengenai asal-usul nama Minangkabau.

***

Cerita di atas mungkin lebih banyak dongeng daripada nyata, namun yang ingin hamba kemukakan adalah bagaimana kita dalam menghadapi masalah sesulit apa pun hendaknya dengan bijak dan kepala dingin. Dengan prinsip “tak ado gayuang nan tak basambuik, tak ado kato nan tak babaleh

~dR

Berburu Lokan Hingga ke Sarang Buaya

Artikel aseli hamba ambil dari sini:
http://wisata.kompasiana.com/kuliner/2010/11/10/sate-lokan-sate-padang-khas-pesisir-selatan/
http://haluankepri.com/index.php?option=com_content&view=article&id=5611:berburu-lokan-hingga-ke-sarang-buaya&catid=52:insert&Itemid=73

***

Pesisir Selatan di Sumatera Barat memang terkenal dengan potensi pantainya yang memanjang sejauh 234 km. Dari potensi itu jugalah kemudian muncul salah satu kuliner khas negeri ini, Sate Lokan. Dengan kuah merah kecoklatan yang cukup pedas, Anda akan menikmati cita rasa berbeda dari sate padang.

sate-1

Jika di Medan ada sate kerang, maka di Padang ada sate lokan. Kedua binatang laut ini dari jenis yang sama, yakni kerang-kerang atau famili cardiidae. Bedanya, ukuran lokan jauh lebih besar dari kerang, sehingga dagingnya pun lebih tebal. Lokan termasuk bangsa kerang hijau (kupang awung) bercangkang hitam yang memang dapat dimakan, sama seperti kerang.

Selain itu, yang membedakan sate lokan dengan sate kerang adalah cara penyajiannya. Di Sumatera Barat, biasanya sate lokan disantap dengan kuah sate khas Padang bersama beberapa potongan ketupat. Sate lokan memang unik, karena tidak banyak dijual di luar Padang, sehingga jarang ditemukan.

Biasanya, sate padang lebih banyak dinikmati dengan potongan daging ayam atau daging kambing. Maka dengan mencicipi sate lokan Anda akan menikmati cita rasa yang berbeda dari salah satu kuliner khas orang Minang ini.

Salah satu daerah yang terkenal dengan sate lokan adalah Kabupaten Pesisir Selatan. Daerah yang berada di sepanjang pantai Samudera Hindia, memanjang dari perbatasan dengan Kota Padang hingga ke perbatasan dengan Bengkulu ini memang terkenal sebagai pemasok lokan terbanyak di Sumbar. Tidak aneh memang, karena daerah ini memang memiliki wilayah dengan pantai terpanjang di Sumbar, yakni 234 km.

Khas Daerah Pesisir

Jika Anda punya kesempatan berkunjung ke Pesisir Selatan, maka singgahlah ke daerah Ampiang Parak, Kecamatan Sutera. Di daerah yang berada di perbatasan dengan Kecamatan Lengayang tersebut banyak berdiri warung-warung yang khusus menjual sate lokan. Ada sekitar tiga warung sate lokan yang bisa menjamu Anda untuk berwisata kuliner khas daerah pesisir ini.

sate-bon

“Kita memang khusus menjual sate lokan. Harganya untuk satu piring Rp 8000 dengan lima tusuk sate lokan. Bisa juga memesan sate lokan saja tanpa ketupat. Selain itu, kita juga menyediakan sate ayam. Karena minat masing-masing orang, kan beda,” jelas Hendra, salah seorang pedagang sate lokan di Ampiang Parak kepada saya beberapa waktu lalu. Dengan kocek hanya Rp 50.000, Anda sudah bisa membawa keluarga untuk menikmati sate lokan di Ampiang Parak.

Menurut putra daerah Pesisir Selatan ini, usahanya tersebut bisa menghasilkan omset hingga puluhan juta per bulan. Bahkan, di hari-hari libur seperti Hari Raya Idul Fitri, ia bisa meraup penghasilan kotor sampai Rp 100 juta dalam sebulan. Selain itu, warungnya juga selalu ramai dikunjungi oleh penikmat sate lokan setiap malam minggu dan hari libur.

Dijelaskan Hendra lagi, lokan-lokan untuk usaha satenya ini didapatkan dari daerah Muaro Sakai, Kecamatan Indrapura yang masih berada dalam wilayah Kabupaten Pesisir Selatan. Lokan memang banyak terdapat di muara sungai di daerah yang pernah memiliki salah satu pelabuhan besar di Pantai Barat Sumatera pada zaman penjajahan Belanda dulu ini.

Lokan ini biasanya hidup pada kedalaman lebih kurang 16 meter di bawah permukaan laut. Hebatnya, para penyelam yang mengambil lokan di kedalaman laut itu biasanya menyelam tanpa menggunakan alat bantu sama sekali.

Sebenarnya, selain diolah menjadi sate lokan, binatang ini juga banyak dijadikan rendang oleh masyarakat pesisir. Namanya sudah pasti rendang lokan. Rasanya hamper sama seperti rendang daging yang memang merupakan kuliner khas Minang. Bedanya, daging diganti dengan lokan. Bisanya, rendang lokan ini dicampur dengan sayur paku.

Di Pinggir Pantai

Selain keunikan rasa dari sate lokan, ada hal lain yang akan semakin membuat Anda penasaran untuk segera berkunjung ke negeri penghasil lokan ini. Di Ampiang Parak, Anda dapat menikmati sate lokan sembari menghirup angin laut dari Samudera Hinda. Karena, warung sate lokan di daerah ini memang berdiri tepat di pinggir pantai, tidak jauh dari Pantai Pasir Putih yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Lengayang.

“Sebenarnya dapat tempatnya cuman di sini. Tapui, ternyata lokasinya bagus juga, karena di pinggir pantai. Jadi bisa makan sate lokan sambil melihat ombak di pantai. Makanya, kemudian banyak juga yang buat warung sate lokan di sini,” tambah Hendra lagi.

pantai

Hmmm… Sepiring sate dengan taburan bawang goreng di atas ketupat dan lima tusuk sate lokan yang telah disirami kuah memang akan menjadi lebih nikmat saat disantap di pinggir pantai. Batang-batang lidi yang ditancapi lima potong lokan berlumur kuah merah kecokelatan itu semakin menggugah selera. Bau lokan dan daging bakar terbang ke seluruh ruangan bersama angin laut yang mengundang lapar.

***

buaya

Kabupaten Pesisir Selatan juga terkenal sebagai penghasil lokan di Sumatera Barat. Produksi lokan terbanyak di Pesisir Selatan terkosentrasi di eks Kecamatan Pancung Soal (Inderapura, Tapan dan Lunang Silaut), karena alamnya di masa lalu sangat mendukung untuk itu. Sehingga banyak pula warga di sini yang menggantungkan hidup menjadi pencari lokan. Mereka menyelami muara-muara sungai untuk mendapatkan lokan yang memiliki gizi sangat tinggi.
Lokan dari daerah ini, sejak zaman dulu sudah dimanfaatkan untuk berbagai jenis makanan khas, mulai dari rendang lokan, sate lokan, tojin lokan dan lain sebagainya. Penganan dan makanan berbahan dasar lokan pun telah merambah atau setidaknya dikenal luas di berbagai daerah. Konon kabarnya lokan Pesisir Selatan juga dipasok untuk rendang lokan yang dipasarkan Crinstine Hakim. Hewan jenis moluska ini digemari akhir-akhir ini. Namun di balik itu, untuk mendapatkan lokan tidaklah semudah yang dibayangkan.

Habitat lokan, binatang yang di darek lebih mirip dengan pensi, tersebut umumnya hidup di dekat muara-muara sungai. Atau di kawasan vegetasi rawa lainnya, misal hutan nipah dan di lokasi lainnya tempat tetumbuhan air tumbuh. Lokan, jika di Inderapura, juga hidup dalam habitat buaya. Dan tentu tantangan untuk mendapatkannya tidak pula sedikit.

Upik (55), warga Pasa Gedang Inderapura, bersama suaminya telah sejak 30 tahun lalu menekuni profesinya sebagai pencari lokan di Muara Sungai di Inderapura. Bahkan dua orang anaknya juga mewarisi menekuni profesi yang sama.

Upik menyebutkan, dulu saat vegetasi dan lingkungan di Indrapura masih alami dan asri, ia harus berani mengarungi lubuk-lubuk lokan yang sekaligus juga menjadi tempat nyaman bagi buaya. Dengan sebatang bambu yang ditancapkan ke dasar sungai, Upik menyelam ke dasar sungai.

“Semua orang tahu bahwa rawa-rawa dan muara sungai di Inderapura adalah tempat buaya yang paling banyak. Namun karena ini pekerjaan saya, mau tidak mau saya harus “kucing-kucingan” dengan buaya. Namun semuanya terpulang kepada niat, yang jelas tujuan kita bukan untuk mengganggu buaya di sini, tetapi untuk mencari nafkah,” ujar Upik, menceritakan bagaimana ia harus bertarung.

Menurut Upik, dari cerita turun-temurun, jika manusia tidak berniat untuk mengganggu buaya, buaya tersebut juga tidak akan mengganggu manusia. Bagi mereka yang berniat mengganggu keberadaan buaya, biasanya ia akan menjadi korban. “Tidak sedikit pencari lokan yang tewas di terkam buaya gara-gara salah niat,” ungkap Upik lagi.
Menyusut
Berdasarkan penuturan Upik, kini populasi lokan di kawasan Inderapura sudah semakin kurang. Menurutnya, pada akhir tahun 80-an dalam satu hari ia bisa mendapatkan 2.000 hingga 2.500 keping lokan. Pencari lokan dengan mudah mendapatkannya. Namun kini berbeda jauh, penghasilan saban hari menurun.

“Jangankan mendapatkan 2.000 lokan dalam satu hari, untuk mendapatkan 1.000 lokan dalam satu minggu saja sangat sulit. Lokan sudah jarang. Keberadaannya hanya di tempat-tempat tertentu saja,” kata Upik lagi.

Penyebabnya bukan karena penyelam atau pencari lokan bertambah banyak jumlahnya di daerah tersebut, namum akibat tidak seimbangnya vegetasi alami di kawasan Inderapura saat ini. “Saya merasakan lokan mulai berkurang sejak pertengahan 90-an hingga kini,” imbuhnya.
Berkurangya jumlah lokan di Inderapura, kata Hadiyon (50), salah seorang tokoh masyarakat Inderapura, karena beberapa populasi unik di Inderapura memang telah mulai menyusut bahkan ada yang mulai langka, misalnya madu lebah, ikan lele, puyu dan lain sebagainya. Jadi tidak terbatas pada lokan saja.

“Mungkin disebabkan oleh pembangunan lahan kelapa sawit secara besar besaran yang mengharuskan dibuatnya sodetan untuk mengeringkan rawa dan lahan gambut. Sehingga rawa yang selama ini menjadi tempat berkembang biaknya sejumlah makhluk unik di kawasan itu menjadi berkurang. Otomatis hewan yang ada di sana mati dan berkurang jumlahnya,” ujar Hadiyon.

Menghadapi Hari Kematian Internet

Diambil dari postingan seorang artis peranakan Amerika – Jawa, Christian (kok) Sugiono di Yahoo O-Em-Ji, yang merupakan suami dari seorang artis (yang mempopulerkan kembali lagu) jablay, Titi* Kamal, hehehe :p

internet dead

Sekarang ini, semua sudah terhubung dengan internet. Di banyak hal memang benar-benar membantu kita di kehidupan, terutama cara berkomunikasi dan berinteraksi. Tidak hanya berinteraksi dengan sesama manusia, tapi juga berinteraksi dengan non-human, mesin, atau sebuah sistem.

Hampir semua orang yang saya kenal sekarang mempunyai sebuah identity di dunia maya, entah web page, blog maupun social networking profile. Bahkan juga saya banyak kenal orang dari internet, tahu kegiatan orang-orang tersebut dari hasil sharingnya di dunia maya. Batas-batas privasi telah diperlebar dan definisinya diubah. Masing-masing mempunyai pemahamannya sendiri yang mungkin bagus ataupun malah merugikan.

Kita jadi berinteraksi dengan banyak orang dalam waktu yang lebih singkat dan paralel. Informasi masuk ke diri kita dengan sangat cepat dan dalam pecahan yang kecil-kecil. Otak kita jadi terlatih untuk menerima arus informasi dalam jumlah banyak secara bersamaan. Contoh nyatanya adalah Twitter.

Seperti inilah komunikasi jaman sekarang. Kita harus pintar-pintar memilih pecahan informasi kecil mana yang penting untuk disimpan dalam memori kita. Atau hal-hal apa yang sebenarnya tidak ada kepentingannya dengan kita tapi menguras energi dan waktu kita.

Kenyataan yang Maya
Apakah kamu familiar dengan skenario ini?

Bangun tidur ngecek timeline Twitter. Sambil nunggu sarapan beres, check email. Terus ngeliat foto-foto weekend unggahan temen kamu. Lalu twitteran lagi sambil sarapan.

“Berapa banyak dari kita orang dewasa yang sudah merasa kaku untuk menulis tangan karena selama ini tidak pernah menulis di atas kertas lagi?”

Lalu begitu sampai di kantor langsung check-in Foursquare supaya title mayor enggak keambil oleh orang lain. Dan begitu seterusnya, orang lebih banyak menghabiskan waktu dengan menatap smartphone-nya dibanding dengan bertatap dengan orang lain secara langsung.

Ya memang dalam pekerjaan sehari-hari kita bertemu dengan real-people dan juga menghadapi real-problem. Tapi terkadang dunia maya di gadget kecil kita itu lebih menarik dari pada dunia nyata yang kita hadapi secara langsung. Alhasil orang lebih banyak lari ke dunia kecil yang indah untuk mengekspresikan atau bahkan menjadi seseorang yang tidak mungkin dia lakukan di dunia nyata.

Karena kesehariannya sudah berjalan rutin seperti itu lama-kelamaan orang menjadi terbiasa dan nyaman. Atau mungkin kata yang lebih tepatnya: ketergantungan.

Hari Kematian Internet Tiba
Apa yang harus kita persiapkan pada saat hari kematian Internet tiba? Setelah selama beberapa tahun belakangan ini kehidupan kita dimanjakan oleh kecanggihan dan kemudahan oleh teknologi, apa saja yang telah direnggut oleh internet dari kehidupan kita? Hal nyata apa yang telah hilang dan digantikan oleh kode-kode digital?

Secara tidak sadar dan pelan orang telah mengganti cara hidupnya selama 10 tahun belakangan ini. Contoh paling simplenya adalah menulis. Berapa banyak dari kita orang dewasa yang sudah merasa kaku untuk menulis tangan karena selama ini tidak pernah menulis di atas kertas lagi. Surat menyurat melalui email, berhitung menggunakan kalkulator, berbicara menggunakan instant messenger service, dsbnya. Peran mulut untuk berbicara telah tergantikan oleh 10 jari yang menari di atas keyboard, dan banyak hal lainnya.

Apa yang bisa dilakukan untuk kembali hidup seperti masa lalu lagi secara analog?

No Google!
Ini adalah sila pertama dalam peraturan dasar hidup analog. Tidak menggunakan layanan Google sama sekali, mulai dari search engine, email, map, earth, picture, dan semuanya yang Google sediakan.

Untuk mencari tau mengenai suatu hal kita gak bisa menggunakan search engine. Kamu harus mulai mencoba mencari suatu hal dengan usaha kamu sendiri, dan dengan bertanya ke manusia lain secara real. Yang ditantang disini adalah kemampuan kamu dalam bersosialisasi dengan orang baru secara nyata untuk mendapatkan informasi. Bisa juga dengan mendatangi perpustakaan dan mencari pecahan informasi dalam deretan buku-buku yang ada disana.

Kalau selama ini kita terbiasa tinggal memasukan nama tempat atau jalan untuk melihat peta, maka pada hari kematian internet kita harus kembali menggunakan peta biasa. Harus bisa mencari lokasi peta dan menelusuri jalan yang tersebar pada ratusan lembar halaman.

Langganan surat kabar.
Karena sudah tidak bisa browsing internet lagi maka kamu harus langganan surat kabar supaya enggak ketinggalan berita sehari-hari. Yang penting adalah langganan koran pagi dan sore, karena untuk koran pagi kamu bisa baca apa yang terjadi kemarin sore hingga malem, dan koran sore untuk yang terjadi dari pagi hingga siang. Yah semua beritanya sih telat 1 hari, setidaknya kamu sudah bisa ikut dalam pembicaraan sehari-hari. Efeknya adalah waktu akan terasa lebih lambat dan lebih panjang karena informasi yang kita dapat tidak terlalu deras.

Keluar dari semua social networking platform.
Hapus semua account Twitter, Facebook, MySpace, FourSquare, Koprol, dan lainnya. Mulai coba hidup dengan tenang tanpa tahu teman kamu hari ini ngeluh apa dalam perjalanan pulang kantor yang macet. Kamu juga enggak perlu tahu teman kamu sarapan apa pada pagi harinya, dan informasi-informasi lain yang sebenarnya tidak kamu butuhkan. Kamu pasti akan lebih fokus dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari yang utama tanpa distraction tersebut.

Untuk menghubungi seseorang akan butuh usaha lebih dari sekedar PING!! dan mention. Manusia akan kembali berbicara menggunakan mulut dan suaranya, tidak lagi dengan text dan jarinya.

Kalau udah berpergian rasanya seperti lepas dari manapun. Perjalanan dari rumah menuju tempat nongkrong rasanya kaya jalan sendirian di terowongan sunyi yang dindingnya rapat semua. Baru bisa dihubungi apabila sudah stay di sebuah tempat. Mau kabur sejenak untuk mewujudkan me time rasanya gampang banget.

Sign out dari e-mail.
Bikin PO Box atau alamat rumah saja untuk urusan surat menyurat. Dan supaya gak numpuk sampah, bikin satu lagi PO Box khusus brosur-brosur iklan atau promosi yang gak penting untuk supaya langsung dibuang ke sampah. Prinsipnya semacam bikin account/folder khusus spam di email kamu supaya langsung di trash. Siapkan folder untuk menyimpan kertas-kertas dan dokumen yang dikirim ke rumah kamu.

Album foto.
Buat kita yang hobi foto mungkin upload ke Facebook adalah hal yang paling mudah dan nyaman. Semua foto bisa kita upload sebanyak apapun tanpa mengeluarkan biaya lagi. Apabila internet sudah mati, maka untuk masalah foto ini akan kembali menjadi hal yang mahal dan butuh banyak biaya, untuk cetak dan untuk menyimpannya dengan baik di dalam album foto. Foto akan menjadi barang yang value-nya lebih spesial dan pribadi karena tidak akan mudah lagi untuk diperbanyak seperti halnya foto digital.

No copy-paste ucapan.
Persetan dengan sms-sms copy paste yang membuat handphone kamu lemot pada hari raya. Kartu-kartu ucapan yang sifatnya pribadi dan intim dengan tulisan tangan yang sangat personal. Membuat kamu merasa lebih dihargai dan hari raya menjadi lebih berarti.

Well, kalau dilihat-lihat, sebenarnya hari kematian internet bukan berarti kiamat. Kita mungkin akan merasa kesusahan karena internet sudah membuat kita mudah dalam banyak hal, tapi di lain sisi juga, nilai-nilai kehidupan akan menjadi lebih nyata dan lebih mendalam bagi banyak orang.

Semoga kita semua sudah siap apabila hari itu datang…

Kenapa Kunci C Terdiri Dari Nada C, E, dan G?

C

Sekedar berbagi apa yang saya pahami…

Kunci C mayor dan tangga nada C adalah default dalam permainan musik, karena jika dipaparkan dalam C = Do, maka diperoleh susunan nada-nada mayor sebagai berikut:

C – D – E – F – G – A – B
Do – Re – Mi – Fa – Sol – La – Ti

Jika dibandingkan, misal, dengan D = Do:

D – E – F# – G – A – B – C#
Do – Re – Mi – Fa – Sol – La – Ti

terdapat dua nada minor, yaitu: F# dan C#, yang dibunyikan.

Dalam permainan gitar, misalnya, seperti tampak pada gambar di atas, nada yang dibunyikan dari keenam senar gitar tersebut adalah:

1 – E, 2 – C, 3 – G, 4 – E, 5 – C, 6 – E

Tampak bahwa kunci C mayor terdiri dari nada C, E, dan G.

Pertanyaan kritis yang timbul tentu: KENAPA?
Kenapa bukan C, D, dan E?
Atau, kenapa bukan C saja?

Sebelum itu, ditinjau dulu beberapa bagian ilmu akustik…

Salah satunya dalah rentang pendengaran manusia normal, yaitu dari 20 Hz hingga 20.000 Hz (20 kHz) –> salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan dalan acara kuis “Are U Smarter Than A 5th Grader?“.

Dalam rentang tersebut, frekuensi fundamental (pitch) yang dapat dihasilkan oleh alat musik, misal, piano, adalah antara 27,5 Hz (nada A0) hingga 4186 Hz (nada C8). Dengan kata lain, rentang nada yang dapat dihasilkan oleh alat musik adalah sekitar 8 oktaf. Lebih tinggi dari nada C8 terbatas untuk dihasilkan, salah satunya karena keterbatasan dimensi, misal, panjang senar atau kolom tabung resonansi.

Nah… berbicara tentang resonansi pada senar atau kolom udara, tentu berhubungan dengan rangkaian harmonik yang disebabkan oleh resonansi tersebut, yang merupakan kelipatan bilangan bulat dari harmonik awal.

Misal, nada C3 (131 Hz) yang dipakai sebagai harmonik awal, maka memiliki harmonik berikutnya adalah:

Harmonik ke-2: 262 Hz (C4) = 2 x 131 Hz
Harmonik ke-3: 393 Hz (G4) = 3 x 131 Hz
Harmonik ke-4: 524 Hz (C5) = 4 x 131 Hz
Harmonik ke-5: 655 Hz (E5) = 5 x 131 Hz
Harmonik ke-6: 786 Hz (G5) = 6 x 131 Hz
dst…

Sehingga jelas bahwa nada C memiliki hubungan harmonik dengan nada E dan G.

Contoh lain, misal nada A3 (220 Hz) yang dipakai sebagai harmonik awal, maka memiliki harmonik berikutnya adalah:

Harmonik ke-2: 440 Hz (A4) = 2 x 220 Hz
Harmonik ke-3: 660 Hz (E4) = 3 x220 Hz
Harmonik ke-4: 880 Hz (A5) = 4 x 220 Hz
Harmonik ke-5: 1.100 Hz (C#6) = 5 x 220 Hz
Harmonik ke-6: 1.320 Hz (E6) = 6 x 220 Hz
dst…

Sehingga tampak bahwa nada A memiliki hubungan harmonik dengan nada C# dan E, sebagaimana yang dapat dilihat dalam susunan nada A = Do:

A – B – C# – D – E – F# – G#
Do – Re – Mi – Fa – Sol – La – Ti

Skala di atas diadopsi dari Skala Helmholtz yang telah disamakan (equal tempered scale) dan di luar badnote.

~dR

Awas Ada Lobang!

1. Kimberley Big Hole – South Africa

8

Apparently the largest ever hand-dug excavation in the world, this 1097 meter deep mine yielded over 3 tons of diamonds before being closed in 1914.

2. Glory Hole – Monticello Dam, California

A glory hole is used when a dam is at full capacity and water needs to be drained from the reservoir.

7

This is the ‘Glory Hole’ at Monticello dam, and it’s the largest in the world of this type of spillway, its size enabling it to consume 14,400 cubic feet of water every second.

3. Bingham Canyon Mine, Utah

6

This is supposedly the largest man-made excavation on earth. Extraction began in 1863 and still continues today, the pit increasing in size constantly. In its current state the hole is ¾ miles deep and 2.5 miles wide.

4. Great Blue Hole, Belize

5

This incredible geographical phenomenon known as a blue hole is situated 60 miles off the mainland of Belize. There are numerous blue holes around the world, but none as stunning as this one.

5. Mirny Diamond Mine, Serbia

4

I’m pretty sure most people have seen this one. It’s an absolute beast and holds the title of largest open diamond mines in the world. At 525 meters deep, with a top diameter of 1200 meters, there’s even a no-fly zone above the hole due to a few helicopters having been sucked in.

6. Diavik Mine, Canada

3

The mine is so huge and the area so remote that it has its own airport with a runway large enough to accommodate a Boeing 737. It looks equally cool when the surrounding water is frozen.

7. Sinkhole in Guatemala

2

These photos are of a sinkhole that occurred early this year in Guatemala. The hole swallowed a dozen homes and killed at least 3 people.

5 Cara Mudah Bakar Kalori Tubuh

Bukan hanya saat berolahraga, tumpukan kalori dalam tubuh ternyata juga bisa Anda bakar kapan saja. Saat bekerja atau berkumpul dengan teman-teman, tanpa disadari kalori dalam tubuh juga cukup banyak terbuang.

Ketahui lima hal mudah untuk membakar kalori, yang bisa dilakukan kapan saja, agar tumpukan kalori dalam tubuh bisa dikurangi.

1. Minum kopi : Penelitian menunjukkan kadar kafein yang terkandung dalam kopi meningkatkan jumlah pembakaran kalori. Anda bisa minum kopi hangat pada pagi hari atau kopi dingin pada sore hari.

2. Sarapan : Hal ini adalah cara paling mudah untuk memicu tubuh mulai membakar lemak. Hal itu karena otak tidak mengirimkan sinyal lapar hingga menjelang siang.

3. Tertawa : Buatlah diri Anda tertawa, dengan membaca cerita lucu. Tidak hanya membuat suasana hati menjadi lebih baik, kalori dalam tubuh pun ikut terbakar dengan tertawa. Karena, tertawa selama 10 hingga 15 menit per hari bisa membakar 50 kalori.

4. Tekanan : Stres atau tekanan yang Anda alami saat bekerja juga membakar kalori dalam tubuh. Jadi, jangan selalu anggap negatif tumpukan pekerjaan, karena itu membuat kalori terbakar.

5. Jalan-jalan : Saat makan siang, pilihlah tempat yang agak jauh dari kantor atau datangi pusat perbelanjaan. Hal ini membuat Anda berjalan lebih lama, dan sambil cuci mata kalori pun terbakar.

http://id.news.yahoo.com/viva/20100603/tls-5-cara-mudah-bakar-kalori-tubuh-34dae5e.html